Sekoja (2) : Rumah Batu Olak Kemang

Tiba di Ulu Gedong kecamatan Danau Teluk, kami melintasi sebuah papan reklame yang menampilkan oleh-oleh khas Sekoja seperti aneka kue kering, kue basah, kerupuk ikan dan cenderamata seperti kain batik khas Jambi. Namun, saya tidak tahu persis dimana kami bisa mendapatkan itu semua. Kurang informatif papan reklame tersebut.

 

Masih di Ulu Gedong, kami melintasi sebuah gedung sekolah tua yang mempunyai dua lantai .Rupanya gedung ini dibangun tahun 1915. Namanya Madrasah Nurul Iman. Bangunan gedung  ini seluruhnya dibuat dari kayu bulian. Kayu ini sudah sangat langka ditemui.

 

Nurul Iman didirikan oleh kelompok keagamaan Perukunan Tsamaratul Insan. Madrasah Nurul Iman sekarang dikelola oleh Yayasan Pondok Pesantren Nurul Iman. Yayasan ini mengelola sebuah pondok pesantren, lembaga pendidikan formal berupa MI, MTs dan MA Nurul Iman Ulu Gedong. Sejumlah tokoh penting pernah mengenyam ilmu disini salah satunya gubernur Jambi era tahun 80-an Abdurrahman Sayoeti.

Selepas madrasah Nurul Iman, kami masih melihat deretan rumah panggung berarsitektur Melayu. Dan semunya terendam luapan air sungai Batanghari setinggi hampir satu meter. Sepertinya hampir semua rumah disini sudah siap sedia jika permukaan air sungai naik dengan menyiapkan sebuah perahu sampan. Unik sekali saya bayangkan jika saya ingin berkunjung ke rumah tetangga sebelah dengan naik perahu. 🙂

Memasuki wilayah kelurahan Olak Kemang saya melihat sebuah masjid berukuran besar dengan warna dominan putih dan hijau tua. Inilah masjid Ikhsaniyyah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Batu. Kami tidak bisa masuk karena masjid ini sedang direnovasi.

Tepat di samping masjid terdapat makam sultan Jambi terakhir yaitu Sultan Sayyid Idrus bin Hasan Al Hufri atau akhrab disebut Pangeran Wiro Kusumo. Makamnya berada dalam sebuah rumah kecil yang tertutup. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah batu.

Tiba di simpang tiga Olak Kemang, azan Duhur berkumandang. Kami melihat sekeliling untuk mencari masjid. Pilihan kami jatuh pada masjid Al Ikhlas yang terletak tidak jauh dari simpang pasar Olak Kemang.

 

Pasar Olak Kemang lebih tepat jika disebut pasar mini karena ukurannya cukup kecil. Hanya satu pedagang yang terlihat berjualan saat itu. Yang lain memilih tidak berjualan. Entah kenapa.

 

Dari pasar menuju masjid Al Ikhlas saya menjumpai rumah toko bergaya jadul. Ruko dua lantai ini bahan utamanya kayu. Kesannya sangat usang dan tidak terlalu terawat. Model bangunannya mirip ruko di kampung-kampung Pecinan. Setelah sampai di masjid, kami segera masuk untuk sholat. Selesai sholat saya berkeliling sebentar. Akhirnya saya melihat tempat incaran terakhir kami yaitu rumah batu Olak Kemang. Anak-anak sekolah yang melihat kami berfoto-foto meminta saya untuk mengambil gambar mereka 😀 Jeprettt..

 

Rumah batu ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Untuk masuk ke areal rumah, kami harus melewati halaman rumah warga. Rumah batu ini menghadap ke sungai Batanghari. Sehingga bagian yang terlihat dari jalan adalah belakang rumah. Agak ngeri saat melintasi jembatan masuk menuju halaman rumah karena kayu-kayunya terlihat telah lapuk dimakan usia.

 

Rumah ini konon adalah bekas istana Sultan Jambi terakhir yaitu Sayyid Idrus bin Hasan Al Hufri bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Setelah mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk sebesar lima tibu rupiah per orang, kami segera mengeksplorasi bangunan ini. Dari daftar nama di buku tamu, sebagian besar pengunjung rumah batu ini adalah fotografer untuk keperluan foto prewedding.

Bangunan utama berupa gedung dua lantai yang sekilas mirip bangunan kuno ala istana di Eropa dan Timur Tengah. Dari sisa-sisa daun pintu dan jendela mencerminkan model Melayu. Namun, jika melihat ornamen berupa sepasang naga, bola api, dan gapura pintu masuk yang berupa atap lengkung, tampak sekali bangunan ini dipengaruhi arsitektur Cina.

 

Sayang sekali status bangunan ini sebagai benda cagar budaya tidak lantas membuatnya diperhatikan pemerintah. Kondisi gedung sebagian besar rusak berat. Lapisan dinding berupa semen sebagian telah mengelupas. Pintu dan jendela banyak yang hilang. Atap dan lantai bangunan sebagian besar telah hancur. Beberapa tiang penahan bangunan juga kondisinya telah rapuh. Kesannya seperti sangat tidak terurus. Padahal dengan sedikit perhatian, bangunan ini akan bisa berbicara tentang sejarah masa lalu kota Jambi.

Ditambah lagi dengan banyaknya nyamuk disini membuat kami tidak betah berlama-lama disini. Kami meninggalkan gedung ini dengan kecewa.

  

Dari rumah batu kami menuju dermaga Olak Kemang yang hanya berjarak lima menit dari pasar. Setelah menunggu hampir lima belas menit, perahu ketek datang. Kami naik ke perahu. Perahu ini tidak langsung berangkat menuju pasar Angso Duo tetapi mencari penumpang dulu di sekitar Sekoja. Setelah penuh baru menuju Angso Duo. Dalam perjalanan, saya melihat anggunnya masjid Ikhsaniyah di tepi sungai Batanghari.

Sekitar sepuluh menit perjalanan menyeberang sungai, kami sampai di dermaga pasar Angso Duo. Tepat di samping Ramayana Jambi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s