4N3D Backpacker Medan di Kerinci (2)

Sabtu, 22 Desember 2012

Karena kecapekan gara-gara trip hari sebelumnya, saya bangun kesiangan. Setelah bersiap-siap saya dan Gembul segera meluncur ke Semurup. Disana kami sarapan soto Semurup. Karena soto yang di dekat pasar Semurup tutup, kami menuju kedai satunya yang berada di dekat masjid Tigo Luhah Semurup. Soto Semurup sangat mirip dengan soto Padang. Isinya bihun, perkedel kentang, dendeng sapi disiram kuah soto. Teman makannya yaitu nasi dan kerupuk jangek/kulit. Setelah makan soto kami menuju objek wisata air panas Semurup, sekitar lima ratus meter dari jalan raya Kerinci-Padang.

Tiket masuknya empat ribu per orang. Objek wisata ini berupa sumur dalam yang airnya panas dan seolah-olah mendidih. Jika tidak percaya, coba sentuh aliran air yang keluar dari sumur, sangat panas. Katanya, telah banyak yang mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam air panas. Konon, tempat ini dihuni oleh makhluk halus yang sering merasuki pikiran pengunjungnya yang berpikiran kosong atau melamun. Bahkan banyak pengunjung yang bunuh diri di sumur air panas akhirnya diketahui sedang ada masalah keluarga. Hii..seram 😦 Maka,sekeliling air panas dipagari dengan pagar kawat tinggi. Itu saja konon masih aad yang nekat menerobos masuk. Hanya juru kunci dan pedagang yang boleh masuk ke tepi air panas.

Di samping cerita seramnya, air panas Semurup banyak dipakai untuk menghilangkan sejumlah penyakit seperti rematik dan penyakit kulit. Tentunya air panas itu telah didinginkan dulu ke dalam bak-bak mandi yang disediakan di sekitar kolam. Selain itu banyak warga datang kesini untuk menikmati telur rebus dan pisang rebus. Cara merebusnya unik. Bukan direbus pakai kompor tapi dicelup ke air panas selama beberapa menit. Kita tidak perlu masuk ke tepi kolam. Cukup pedagangnya yang masuk ke tepi kolam.

Suasana di sekitar air panas Semurup sepi saat itu hanya kami berdua dan satu rombongan pengunjung yang datang naik mobil pribadi. Dari belasan lapak penjual telur dan pisang hanya dua orang yang membuka dagangan. Setelah berkeliling sebentar, kami pulang.

Sore harinya Kupluk telah turun dari gunung Kerinci. Ia minta dijemput di Kersik Tuo karena susah mencari mobil ke Sungai Penuh. Gembul meminjam motor saya untuk menjemput Kupluk di Kersik Tuo. Gembul dan Kupluk baru tiba malam hari di rumah karena terhalang macet di dekat Siulak Deras saat perjalanan pulang ke Sungai Penuh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s