Oleh-oleh dari Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia

Ketika saya sedang bertugas di Pekanbaru untuk mengikuti diklat juru siksa sita, kebetulan sekali di kota itu sedang dihelat acara besar bernama Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia. Menampilkan pameran seni dan pagelaran budaya hasil karya seniman dari taman budaya seluruh Indonesia. Acaranya sendiri digelar di gedung teater utama eks-MTQ Riau, tidak jauh dari hotel tempat saya mengikuti diklat. Kebetulan di Pekanbaru saya free kalau malam sehingga bisa mengikuti jalannya pergelaran. Saya janjian untuk nonton dengan Ega, adik tingkat saya jaman kuliah yang bekerja di Pekanbaru. Ega datang bersama Aldi,  cem-cemannya kawan sekantornya.

Temu temu karya tahun ini adalah seni menjunjung alam. Intinya kurang lebih bagaimana dengan berkesenian kita bisa mengajak orang untuk lebih peduli kepada alam dan lingkungan sekitar. Poster acara ini sendiri cukup unik. Bergambar sebuah pohon yang kekeringan sehingga hanya menyisakan satu buah daun

 Acara dimulai sekitar jam delapan malam. Dipandu oleh dua orang pembawa acara yang memakai batik tabir khas Riau. Batik ini berbentuk motif membujur menyerupai lajur-lajur seperti model tirai / tabir. Semua pegawai di kantor saya dulu juga memakai batik tabir setiap hari Jumat.

Beberapa provinsi tampil malam itu. Pertama dari tuan rumah dari taman budaya Riau yang menampilkan tari kontemporer tentang ketamakan manusia dalam merusak hutan di Riau. Dari taman budaya Jambi menampilkan tari luci genyi, tari kontemporer yang diangkat dari upacara ngayun luci di Kerinci. Upacara memberikan sesaji kepada arwah nenek moyang untuk memohon panen yang melimpah.

 

Dari taman budaya Kalimantan Barat menampilkan fragmen teater tentang kemarahan makhluk halus di hutan suku Dayak karena hutan dirusak oleh penebang liar. Lalu dari Kalimantan Selatan menceritakan kisah seorang putri dari Banjar yang diculik makhluk halus. Taman budaya Kalimantan Timur berkisah tentang pohon terakhir di bumi yang dihuni oleh sepasang keluarga. Pohon tersebut hanya mempunyai sebuah daun.

  

Berikutnya dari taman budaya NTB menampilkan tari kontemporer tentang musnahnya pohon-pohon di bumi. Sementara tamn budaya NTT menampilkan tarian kontemporer dengan nuansa etnik timur yang sangat kental.

 

Penampil terakhir dari Sulawesi Selatan. Berupa fragmen teater dan disampaikan dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Namun terkesan datar dan mudah ditebak ceritanya.

Secara keseluruhan, semua penampil menyampaikan kegelisahannya atas lingkungan yang semakin rusak, hutan yang semakin lama semakin habis. Acara seperti ini patut diapresiasi oleh kaum muda agar lebih peduli alam. Semoga para penguasa di atas sana juga lebih peduli kepada lingkungan. Applaus menggema dan penonton meninggalkan gedung teater dengan senyum mengembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s