Asyiknya Menari Randai Kuantan Bikin Lupa Diri :-D

Udara panas kota Pekanbaru tidak menyurutkan semangat sekelompok masyarakat perantauan asal Kuantan Singingi untuk menyanyi dan menari bersama-sama. Mereka sangat bersemangat ikut serta dalam tarian randai yang sengaja digelar di taman budaya Riau. Musik tradisional dari gendang, serunai dan biola turut mengundang rasa penasaran saya. Saya tidak tahan lagi dan ikut menari bersama mereka. Yiiha… đŸ˜€

Saya sedang di Pekanbaru dalam rangka mengikuti diklat juru siksa sita pajak di BDK Pekanbaru. Bertepatan dengan acara diklat, di kota Pekanbaru sedang dihelat acara besar pagelaran seni dan budaya tingkat nasional yang bertajuk Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia. Acara ini digelar setahun sekali dan merupakan ajang silaturahmi budaya para seniman dari seluruh tanah air.

Rangkaian acara pergelaran budaya dilangsungkan pada malam hari sehingga saya bisa mengikuti hampir semua mata acara yang ditampilkan. Seperti saat malam penutupan dimana ditampilkan teater interaktif randai dari kabupaten Kuantan Singingi, daerah pedalaman di Riau yang berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Barat.

Saya pikir kesenian randai hanya ada di Sumatera Barat. Namun, ternyata kesenian ini tumbuh subur di Kuantan Singingi. Sekedar catatan, daerah ini beserta kabupaten Kampar termasuk wilayah rantau pesisir Minangkabau pada zaman penjajahan. Randai di Sumatera Barat dimainkan oleh kaum tua dan ceritanya lebih mengarah ke intrik dan tragedi. Sementara  randai di Kuantan lebih banyak dimainkan kaum muda dan ceritanya cenderung komedi.


Randai dimainkan di halaman yang cukup luas. Para pemain musik stand by di depan panggung yang agak tinggi. Sementara halaman luas dibawah panggung diberi alas karpet sebagai tempat tampilnya pemain randai. Para penonton duduk di bawah tenda di depan halaman.

Sebelum randai dimulai, pembawa acara membacakan sinopsis cerita. Malam itu dibawakan cerita tentang kehidupan rumah tangga masyarakat Melayu Kuantan di Kuantan Singingi.Awalnya sekitar dua puluh orang laki-laki berpakaian kantoran duduk melingkar di atas karpet. Mereka berbaju biru muda, celana hitam, berdasi dan berkain samping warna orange. Lalu satu per satu masuk pemain ke dalam lingkaran dan memulai kisah. Bahasa yang dipakai adalah Melayu Kuantan yang berakhiran o. Saya tidak terlalu paham akan arti bahasanya. Uniknya, semua pemain randai adalah kaum laki-laki. Pemain perempuan adalah laki-laki yang dirias sedemikian rupa menyerupai perempuan đŸ˜€ Mirip kesenian ludruk di Jawa Timur. 



Randai berkonsep teater musikal. Setiap sekitar lima belas menit sekali salah satu pemain menyanyikan lagu daerah Kuantan. Saat lagu dimulai seluruh laki-laki yang duduk melingkar berdiri serempak, menghentakkan kaki lalu mulai menari berkeliling lingkaran. Para penonton yang awalnya duduk manis terdiam di panggung segera berlarian ke halaman lalu bergabung dan bergoyang membuat lingkaran yang lebih besar. Saat lagu selesai para penonton kembali ke bawah tenda dan pengiring randai duduk membuat lingkaran. Begitu seterusnya hingga beberapa kali. Awalnya saya masih malu-malu bergabung untuk berjoget. Namun, karena banyak sekali penonton yang bergabung saya tidak malu berjoget bersama. Rasanya tidak ingin berhenti. đŸ˜€

Senang sekali masih ada kesenian yang atraktif dan interaktif seperti randai. Randai masih aktif dimainkan saat acara-acara di Kuantan. Kaum muda Kuantan tidak malu melestarikan randai. Bentuk lingkaran pada randai melukiskan persatuan dan persaudaraan warga Kuantan. Baik yang ada di kampung maupun di perantauan. Tidak heran jika ada randai digelar maka masyarakat Kuantan baik tua, muda, laki-laki, perempuan akan datang berduyun-duyun dan ikut menari bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s