Bertemu Orang Baduy

Adalah sebuah kebetulan jika saya bertemu dengan seorang Baduy di kampus STAN. Ceritanya saat itu saya sedang berkumpul kebo bersama kawan-kawan dari IMMSU membahas proker organda di halaman plasma, tempat nongkrong favorit di kampus.

Sedang asyik dengan pembicaraan, seorang pemuda tanggung menawarkan dagangan berupa gantungan kunci dan tas dari akar kayu kepada kami. Melihat pakaiannya saya langsung ingat dengan orang Baduy yang hidup di pedalaman kabupaten Lebak, Banten. Pakaiannya baju kurung warna hitam, bawahan seperti rok pendek, memakai ikat kepala dan syal warna putih dan tidak memakai alas kaki. Dia berasal dari kampung Baduy Dalam.

Si mas-mas saya ajak ngobrol sebentar. Dia bisa berbahasa Indonesia dan mengaku datang dari kampung Kanekes, Lebak, Banten. Logatnya Sunda banget. Dia datang ke kampus untuk singgah dan bermalam di markas Stapala, organisasi pecinta alam di kampus. Katanya sudah sering singgah di markas Stapala. Dari kampus rencananya akan ke Jakarta mengantarkan titipan barang dagangan ke seseorang di Jakarta.

Saya memilih-milih barang yang ditawarkan kepada kami. Hanya saya yang berminat membeli dagangannya saat itu. Saya mengambil sebuah gantungan kunci dan hiasan dinding bertuliskan “Baduy” seharga total Rp 15.000,- saja. Sebagai kenang-kenangan saya meminta foto bersama dengan si akang. Saya ingin sekali ke kampung Baduy di desa Kanekes, tetapi sampai sekarang belum terlaksana juga. Sebuah kenangan yang tidak terlupakan menurut saya.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s