Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Penantian Enam Tahun

Setelah menanti selama enam tahun akhirnya saya bisa mengunjungi museum ini. Ya, saya pernah tinggal di Palembang selama setahun pada tahun 2006. Selama tinggal disana saya belum sempat untuk menengok museum. Akhirnya setelah enam tahun kemudian saya bisa berkunjung ke museum. Kali ini saya datang bersama istri.

Museum ini terletak di tepi sungai Musi di dekat Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera. Dulu merupakan lahan bekas keraton yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I tahun 1737. Pada era kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, keraton dibakar Belanda tahun 1821 saat pecah perang antara Palembang dan Belanda. Tahun 1823 di atas puing keraton dibangun gedung yang difungsikan sebagai rumah residen Belanda di Palembang. Sekarang gedung itu difungsikan sebagai museum.

  

Museum ini terdiri dari dua lantai berarsitektur kolonial dengan atap rumah limas khas Palembang. Pintu masuk museum berada di lantai dua. Kami harus naik tangga melingkar untuk menuju pintu masuk.

 

Kami harus melepas alas kaki disini. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 4.000,- (tidak diberi karcis) dan menitipkan jaket, kami mulai berkeliling menjelajahi isi museum.

Koleksi pertama yang saya lihat adalah foto raja SMB II. Fotonya diabadikan dalam mata uang Rp 10.000,- Sehingga terdapat replika uang dengan fotonya yang berukuran cukup besar. Ada juga model pakaian dan senjata yang pernah dipakai sultan.

Selain itu dipamerkan juga koleksi uang kuno yang pernah dipakai di Palembang.Yang cukup menarik perhatian ditampilkan sebuah gumpalan berupa serbuk kertas dari uang kertas yang dihancurkan oleh bank Indonesia karena rusak.

  

Di museum ini dipajang juga satu set meja dan kursi, lemari dan peralatan rumah tangga yang semuanya diukir dan dicat berwarna emas. Agak mirip dengan ukiran Jepara. Melukiskan keagungan dan keindahan seni ukir khas Palembang.

  

Melangkah ke dalam terdapat pelaminan adat Palembang yang mencerminkan keagungan kerajaan Sriwijaya. Menggunakan panggung kayu yang mirip dengan gebyog di Jawa. Dilengkapi dengan pangkeng penganten atau kamar pengantin.

 

Ada dua jenis pakaian Palembang yang lazim digunakan. Pertama pakaian aesan gede yang terbuka dan pakaian pak sangkong yang lebih tertutup.

 

Di sebelahnya ditampilkan juga pakaian pengantin sunat dan model tempat tidur bayi ala Palembang. Kemudian dipamerkan beragam jenis kain tradisional khas Palembang seperti songket dan sarung sutera yang disebut sewet. Songket dibuat dengan menggunakan mesin tenun tradisional. Songket Palembang dikenal mempunyai harga tinggi karena menggunakan benang yang disepuh emas. Kata songket berasal dari kata tusuk dan cukit,nama  teknik pembuatan songket. Dari kata tusuk cukit menghasilkan kata sungkit lalu menjadi songket.

 Selain pelaminan dipajang juga berbagai peralatn rumah tangga khas Palembang seperti sebuah wadah berbentuk labu yang dipakai untuk menyimpan bahan makanan. Museum ini juga menyimpan aneka keramik dari Cina. Foto-foto makanan khas Palembang juga ditampilkan seperi empek-empek (pempek), tekwan, burgo, celimpungan dan lain-lain.

Selanjutnya ada koleksi tulisan kuno yang disebut Surat Ulu yang ditulis di buluh bambu dan tanduk binatang. Lalu ada koleksi berupa senjata tradisional seperti keris dan meriam.

Di dekat pintu keluar ditampilkan koleksi foto-foto dan lukisan sejarah Palembang. Dimulai dari kerajaan Sriwijaya hingga masa kesultanan Palembang Darussalam. Terdapat juga sebuah diorama yang menjelaskan pembakaran keraton Kuto Gawang, istana kesultanan Palembang  pertama oleh Belanda (sekarang termasuk wilayah kompleks Pusri).

   

Di akhir kunjungan kami melihat-lihat miniatur masjid agung Palembang dan rumah limas khas Palembang. Ada juga foto-foto makam raja Palembang.

    

Museum ini wajib dikunjungi jika Anda menyambangi kota Palembang karena lokasinya sangat strategis di dekat Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2 Palembang

Buka :
Senin – Kamis : 08.00 – 16.00
Jumat: 08.00 – 11.30
Sabtu dan Minggu: 09.00 – 16.00
Hari libur nasional tutup
Tiket masuk : Rp 4.000,- (dewasa) Rp 2.000,- (anak/pelajar)

Lihat juga : Hubungan Budaya Palembang dan Jawa

Iklan

14 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s