Sawahlunto (8) : Kembali ke Kerinci

Pagi itu saya bangun dengan malas-malasan, Berat rasanya meningalkan Sawahlunto. Sungguh saya jatuh cinta dengan kota ini. Saya suka alamnya yang sejuk, bangunan dan museum peninggalan Belanda yang masih terawat, serta keramahan penduduknya. Namun, saya akan kembali lagi ke kota ini. Belum kesampaian naik kereta wisata menuju danau Singkarak.

Setelah check out dari hotel saya naik ojek menuju terminal Sawahlunto. Bukan terminal sungguhan. Hanya sebuah ruas jalan yang dipenuhi oto atau minibus. Mobil disini melayani jurusan ke berbagai kota seperti Padang, Pekanbaru dan Batusangkar. Untuk pulang ke Kerinci saya harus naik mobil jurusan Padang lalu turun di simpang tiga Lubuk Selasih. Dari situ saya ganti mobil jurusan Sungai Penuh.

Mobil baru berangkat setelah mobil terisi setengahnya. Ongkos menuju Lubuk Lasih Rp 13.000,- dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Perjalanan dari Sawahlunto menuju Lubuk Lasih sangat menyenangkan. Saya kembali melewati Silungkang sebagai salah satu sentra songket di Sumatera Barat. Jalanan mulus tidak terlalu berkelok-kelok. Pemandangan berupa perbukitan dan persawahan. Sawah semakin banyak terlihat memasuki wilayah kabupaten Solok. Solok memang sejak lama dikenal sebagai sentra penghasil beras unggulan. Muncul akhirnya lagu Bareh Solok yang menggambarkan kelezatan beras Solok.

Saya sempat melihat di Solok terdapat patung ayam yang dijuluki ayam kokok balenggek,satwa endemik khas Solok. Di simpang Lubuk Selasih saya turun dari mobil.

Beberapa saat menunggu, mobil jurusan Kerinci datang. “Kincay Kincay ,” teriak sopir. Kincai adalah sebutan Kerinci dalam bahasa daerah Kerinci. Saya segera naik. Jalanan berkelok-kelok melewati punggung Bukit Barisan. Saya mual-mual. Untung saja tidak muntah. Beberapa saat kemudian kami melintasi perkebunan teh lalu danau kembar. Disebut kembar karena ada dua danau yang saling berdekatan yaitu danau Di Atas dan Danau di Bawah.

Memasuki kabupaten Solok Selatan pemandangan berganti dengan sawah dan tebing. Disini banyak sekali rumah gadang. Tidak heran Solok Selatan dijuluki negeri seribu rumah gadang. Lepas dari Padang Aro, jalanan mulai berkelok-kelok lagi. Kami akan melewati kaki gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Indonesia.

Akhirnya kami melihat gapura selamat datang di provinsi Jambi. Itu akhirnya kami sudah masuk wilayah kabupaten Kerinci. Jalanan tidak terlalu berliku-liku. Pemandangan perkebunan teh di Kayu Aro menyejukkan mata. Setelah itu saya tertidur. Beberapa jam kemudian saya sampai di Dusun Baru. Setelah membayar ongkos mobil sebesar lima puluh ribu saya turun dan masuk kembali ke rumah. 🙂

Iklan

2 comments

  1. Mas bisa minta kontak yang bisa ddihubungi lebih gampang?
    Mau nanya2 angkutan Sawahlunto-Kayu Aro
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s