Sawahlunto (7) : Keliling Kota Tua

Hari terakhir di Sawahlunto saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berkeliling kota. Mengagumi peninggalan zaman kolonial yang masih sangat dipelihara oleh pemerintah dan masyarakat Sawahlunto. Saya masih setia berkeliling dengan sepeda ontel pinjaman dari hotel dan menenteng brosur berisi peta Sawahlunto. 🙂

Jika Anda belum pernah kesini sebelumnya tidak usah takut tersasar. Sawahlunto kotanya sangat kecil. Pusat kotanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Brosur wisata bisa didapat dimuseum-museum di pusat kota. Papan petunjuk tempat wisata juga sangat mudah ditemui di penjuru jalan. Sangat membantu.

https://djangki.files.wordpress.com/2012/12/peta-sawahlunto.jpg?w=236

Tempat yang saya tuju adalah gedung pegadaian di jalan Ahmad Yani. Gedung bernuansa Cina ini dibangun pada tahun 1917. Selanjutnya saya menuju rumah Pek Sin Kek. Rumah ini dibangun oleh Pek Sin Kek pada tahun 1906. Rumah yang catnya sudah agak usang ini masih ditempati keturunan Pek Sin Kek. Rumah ini dulu pernah dipakai sebagai gedung teater, gedung pertemuan dan pabrik es. Sekarang rumah ini dipakai sebagi rumah tinggal. Disini dijual toko souvenir khas Sawahlunto.

 

Saya lalu berhenti sebentar di halaman Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto yang lokasinya berada di simpang tiga di depan hotel Ombilin. Bangunannya sangat anggun. Dibangun sebagai gedung pertemuan tahun 1910. Para pejabat Belanda sering mengunakan gedung ini sebagai ruang berpesta. Di jalan dekat gedung ini diletakkan banyak kursi taman. Banyak anak sekolah dan warga duduk-duduk disini karena suasananya cukup rindang.

Dari situ berturut-turut saya melihat-lihat dan berfoto di di depan kantor PT BA UPO, gereja Santa Barbara dan gedung TK SD Santa Lucia. Ketiga bangunan ini saling bersebelahan.

PT BA (Bukit Asam) yang gedungnya mirip gereja adalah bangunan paling megah di Sawahlunto. Dibangun sebagai kantor pusat perusahaan tambang Ombilin Meinen pada tahun 1916. Di depan gedung PT BA dibangun semacam alun-alun kecil dilengkapi dengan taman dan air mancur yang dinamakan taman segitiga. Di taman segitiga terdapat patung yang menggambarkan penambang batubara yang sedang menggali tambang.

Sedangkan gereja Santa Barbara dan sekolah Santa Lucia merupakan institusi keagamaan yang dibangun Belanda pada tahun 1920 untuk menampung kegiatan para pegawai tambang dari kalangan Belanda. Gereja dan sekolah ini masih dipakai warga sampai sekarang. Namun, tidak seramai dulu karena mayoritas warga Sawahlunto menganut agama Islam. Puas berkeliling saya kembali ke hotel.
Tiba di hotel saya meminta ijin untuk memotret bagian dalam kamar suite dan junior suite yang bangunannya terpisah dari hote. Saya ditemani oleh seorang pegawai hotel yang merupakan keturunan Jawa. Kamar ini menempati bangunan mirip villa yang terdiri dari dua kamar. Halamannya luas, terdapat air mancur dan taman yang cukup tertata.
Ada sebuah pengalaman aneh yang saya dapat waktu memotret bagian dalam kamar. Entah kenapa bulu kuduk saya merinding disini. Gambar yang saya tangkap pakai kamera tiba-tiba menjadi kabur. Baru setelah saya minta ijin kepada “penunggu” gambar saya menjadi jelas. Menurut penuturan mas petugas, kamar ini jarang dipakai karena tarif sewa permalamnnya yang mencapai lima ratus untuk junior suite dan tambah lima puluh ribu lagi untuk suite.

Peta wisata Sawahlunto diambil dari sini.

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s