Sawahlunto (6) : Museum Kereta Api Pertama di Sumatera

Bunyi sirine meraung-raung mengagetkan saya yang masih berada di hotel Ombilin. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Menurut uni petugas resepsionis, di Sawahlunto setiap tiga kali sehari ada bunyi sirine dari silo. Apa itu silo?

Habis sholat Jumat saya ingin ke museum kereta api Sawahlunto, museum kereta pertama di Sumatera dan kedua di Indonesia setelah Ambarawa. Sebelum sampai ke museum saya melewati tiga buah menara beton bernama silo. Silo dulu dipakai sebagai tempat penampungan batu bara yang telah diolah menuju pelabuhan Teluk Bayur Padang. Sekarang silo berfungsi sebagai “alarm” kota. Artinya akan ada bunyi sirine setiap pukul tujuh pagi, satu siang dan empat sore. Jam-jam tersebut menunjukkan waktu masuk, mulai bekerja dan jam pulang pekerja tambang.

Sepertinya saya tidak bisa masuk untuk melihat isi dalam silo. Saya melanjutkan perjalanan ke museum kereta api naik sepeda ontel pinjaman dari hotel.

  

Museum kereta api Sawahlunto menempati gedung stasiun Sawahlunto yang dibangun tahun 1918. Stasiun ini dibangun untuk mendukung kelancaran distribusi batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang lewat Padang Panjang. Pembangunan jalur kereta api Sawahlunto-Padang dilaksanakan secara bertahap. Pertama dari Padang-Padang Panjang dimulai tahun 1889 lalu selesai tahun  1891. Jalur dari Padang Panjang ke Bukittingi, Solok, Muaro Kalaban diselesaikan beberapa tahun kemudian. Jalur terakhir dari Muaro Kalaban-Sawahlunto selesai tahun 1894.
 

Menurunnya produksi batu bara Sawahlunto sejak tahun 1990-an membuat kegiatan pengangkutan batu bara dengan kereta api berhenti total. Stasiun ini dihidupkan kembali tahun 2005 dan diresmikan kembali oleh Wapres Jusuf Kalla sebagai museum kereta api Sawahlunto.

Mengawali kunjungan di museum kereta api, saya terlebih dulu melihat tayangan film tentang sejarah pembangunan stasiun Sawahlunto. Beberapa kali lampu mati sehingga saya harus mengulang film dari awal 😀 Film ini hanya berdurasi sekitar tiga puluh menit.

Selesai menonton film saya melihat-lihat koleksi museum diantaranya foto-foto lama tentang sejumlah stasiun di Sumatera Barat, miniatur kereta api dan perlengkapan dan peralatan pendukung perkeretaapian. Antara lain jam besar, timbangan, lampu kereta, lonceng, timbangan, dongkrak dan obeng. Jam besar disini cukup unik, coba lihat angka 4 jam tersebut. Persis dengan angka di jam Gadang. Selain itu sebuah obeng raksasa juga menarik disimak. Ukurannya beberapa kali lipat ukuran ponsel saya. Beratnya juga tidak main-main. 😀

 

Primadona museum ini adalah koleksi gerbong dan lokomotif berjumlah masing-masing 5 dan 1 buah. Sebuah lokomotif tua bernama Mak Itam buatan tahun 1920  telah dipulangkan ke Sawahlunto tahun 2008 sejak dipindah ke museum Ambarawa tahun 1996. Kepulangan kereta Mak Itam ke Sawahlunto disambut dengan acara meriah. Untuk melihat wujud Mak Itam, saya harus keluar dari museum dan menuju depo lokomotif di samping kiri stasiun. Tidak mudah untuk diamati karena Mak Itam sedang direparasi. Sekeliling badannya ditutup pagar besi.

Para wisatawan yang berkunjung ke Sawahlunto bisa mencoba menaiki kereta wisata yang beroperasi setiap hari Minggu menuju Padang Panjang. Dari Sawahlunto penumpang akan dibawa melintasi terowongan lubang Kalam sepanjang delapan ratus meter dan melewati tepian danau Singkarak. Tarifnya mulai dari Rp 10.000,- hingga Rp 50.000,- tergantung jurusan dan kelas. Sayang saya tidak bisa mencoba kereta wisata tersebut karena saya datang bukan hari Minggu.

Kereta wisata uap Mak Itam juga dioperasikan, tetapi berdasarkan pesanan. Tarif sewanya cukup mahal seharga Rp 3.500.000,- untuk umum dan Rp 1.500.000,- untuk pelajar. Kapasitas penumpang maksimal 30 orang.

 

Di samping kanan museum terdapat pusat informasi wisata Sawahlunto. Pengunjung bisa bertanya segala sesuatu tentang wisata kota Sawahlunto. Brosur wisata bisa diperoleh secara gratis. Bisa juga membeli oleh-oleh dan souvenir khas kota ini. Setelah membeli stiker dan gantungan kunci serta meminta beberapa brosur, saya pamit.

 

Dari museum saya melanjutkan perjalanan menyusuri rel kereta api ke arah Masjid Raya Sawahlunto Nurul Islam. Masjid ini dibangun tahun 1894 sebagai PLTU pertama di Sawahlunto. Pada tahun 1954 bangunan PLTU dijadikan masjid karena berkurangnya debit air sungai Batang Lunto sebagai sumber tenaga penggerak turbin PLTU. Cerobong asap setinggi 80 meter dialihfungsikan menjadi menara masjid. Pada saat pembongkaran bunker masjid tahun 2005, ditemukan senjata merakit rakitan yang digunakan pada masa agresi Belanda kedua yaitu mesiu, mortir dan peluru yang sebagian masih aktif. Benda-benda tersebut sekarang disimpan di museum Goedang Ransoem.

Saya bergabung dengan masyarakat Sawahlutno untuk melakukan sholat Ashar lalu pulang berencana pulang ke hotel melewati kota tua.

Museum Kereta Api Sawahlunto
Jalan Kompleks Puskes – Sawahlunto
Buka :
Selasa – Minggu: 07.30 – 16.00
Senin: Tutup
Tiket :
Umum: Rp 3.000
Anak-anak dan pelajar : Rp 2.000,-

Kereta wisata Danau Singkarak : 
Ekonomi :
Solok – Sawahlunto : Rp 10.000,-
Padang Panjang-Solok : Rp 15.000,-
Padang Panjang-Sawahlunto : Rp 25.000,-

Eksekutif :
Solok – Sawahlunto : Rp 20.000,-
Padang Panjang-Solok : Rp 40.000,-
Padang Panjang-Sawahlunto : Rp 50.000,-

Kereta wisata uap Mak Itam :
Sawahlunto-Muaro Kalaban :
Umum : Rp 3.500.000,- / 30 orang
Pelajar : Rp 1.500.000,- / 30 orang

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s