Sawahlunto (3) : Museum Goedang Ransoem, Kemajuan Teknologi Masa Lampau

Dari lubang Mbah Suro saya melangkahkan kaki menuju bekas dapur umum yang disulap menjadi museum bernama Goedang Ransoem. Letaknya hanya berjarak dua ratus meter dari lubang Mbah Suro. Dapur umum dibangun tahun 1918 untuk menyediakan ransum makanan untuk orang rantai, pegawai tambang dan keluarganya serta pasien dan perawat rumah sakit Ombilin (sekarang RSUD Sawahlunto). Pada zamannya setiap hari dapur umum bisa memasak tiga setengah ton beras. Setelah kemerdekaan fungsi dapur umum mulai berkurang dan berganti-ganti fungsi mulai dari kantor, sekolah, asrama pegawai tambang. Akhirnya tahun 2005 diubah fungsinya sebagai museum dan diresmikan dengan nama Museum Goedang Ransoem oleh wapres Jusuf Kalla.

Cukup membayar Rp 4.000,- saya sudah bisa masuk ke dalam museum. Dengan uang segitu saya sekaligus bisa masuk ke galeri Etnografi, galeri Melaka dan Iptek Center yang berada dalam satu kompleks. Sangat sepi museum saat itu karena hanya saya seorang pengunjung museum siang itu.

DSC01509

Museum ini terdiri sebuah sebuah lahan yang cukup luas. Bangunan pertama yang saya masuki adalah gedung utama yang dulu dipakai sebagai dapur umum dan sekarang dipakai sebagai ruang pamer permanen. Di teras gedung dipajang tungku berukuran garis tengah satu setengah meter yang dipakai sebagai alas periuk. Ada juga foto saat keluarga para pegawai tambang sedang antri untuk mengambil jatah ransum. Selanjutnya saya dipersilakan melihat film dokumenter tentang sejarah museum selama tiga puluh menit. Cukup informatif.

 

Film selesai dan saya melanjutkan penjelajahan melihat-lihat koleksi museum. Koleksi pertama adalah alat-alat yang dipakai untuk memasak dan sistem kerja dapur umum. Bahan bakar yang dipakai untuk memasak adalah batubara. Caranya batu bara dibakar dalam dalam tungku pembakaran. Uap panas hasil pembakaran disalurkan lewat pipa besi bawah tanah menuju tungku masak. Untuk mengatur besar kecilnya uap yang dihasilkan dipasang kompresor pada dinding dapur. Asap hasil pembakaran lalu dibuang lewat cerobong asap.

 

Karena untuk memasak makanan untuk ribuan orang. Peralatan masak yang dipakai disini juga serba raksasa. Periuk raksasa, tungku raksasa dan wajan juga raksasa. Meski makanan yang dimasak banyak tidak menjamin setiap pekerja mendapat jatah makan yang memadai. Kecurangan pemasok makanan mengakibatkan jumlah makanan yang dibagikan kepada para pekerja sering tidak memadahi dibandingkan dengan jumlah pekerja. Akibatnya sering terjadi perebutan, pencurian makanan bahkan perkelahian antar sesama pekerja untuk mendapat makanan.

 

Makanan yang diperebutkan juga sebenarnya cukup sederhana. Hanya nasi, lauk pauk berupa telur rebus atau telur asin dan kadang daging atau ikan asin. Kadang ada tambahan makanan kecil seperti ubi rebus dan kue. Namun, sering kali karena persaingan memperebutkan makanan para pekerja hanya kebagian nasi atau malah tidak dapat nasi sama sekali. Miris sekali.

 

Disini tidak hanya dipamerkan sejarah dapur umum saja. Ada maket pusat kota Sawahlunto yang berada di lembah Segar. Dijelaskan juga situasi kota Sawahlunto zaman perjuangan. Ada foto keadaan rumah sakit Ombilin zaman Belanda. Dipajang juga foto Mohammad Yamin, pahlawan nasional asal Sawahlunto.

Di sudut ruangan terdapat contoh nisan  orang rantai. Berupa patok dari beton bertuliskan nomor registrasi orang rantai. Ketika orang rantai dibawa masuk ke Sawahlunto, mereka diberi tato berupa nomor urut di badannya. Dalam administrasi pemerintah Belanda, mereka hanya disebut nomor dan hal ini berlaku sampai mereka meninggal. Mereka diberi tempat pemakaman khusus terpisah dari makam rakyat Sawahlunto. Selain itu terdapat mortir dan mesiu peninggalan era agresi militer Belanda di Sawahlunto, ditemukan di bunker PLTU Ombilin yang sekarang dijadikan masjid raya Sawahlunto.

  

Dari gedung dapur umum saya melangkah keluar. Di sebelah kiri dapur umum adalah rumah potong hewan yang masih dipakai sampai saat ini. Di bagian belakang dapur umum ada bangunan dengan menara cerobong asap yang tinggi menjulang. Inilah rumah generator uap. Di dalamnya terdapat dua buah generator utama dan sebuah generator cadangan buatan Jerman tahun 1894. Inilah bangunan paling vital karena pembakaran batu bara dilakukan disini. Di belakangnya terdapat balai-balai yang sudah hancur dan sekarang dibangun mushola.

 

Di samping cerobong asap terdapat gedung bekas pabrik es tertua di Sumatera Barat setelah di Padang. Sekarang bekas pabrik es digunakan sebagai perpustakaan dan galeri Melaka. Di sebelahnya terdapat ruangan konservasi. Di ujung museum adalah gedung bekas tempat penyimpanan padi, jagung, gula yang sekarang difungsikan sebagai Iptek Center.

Sedang di depan galeri Melaka adalah bekas gudang bahan cepat busuk seperti bumbu dapur dan sayuran. Tempat itu sekarang dipakai sebagai kantor museum dan ruangan galeri Etnografi Sawahlunto. Petualangan saya di museum ini masih berlanjut…

Museum Goedang Ransoem
Jalan Abdurrahman Hakim – Sawahlunto
Buka setiap hari :
Tiket :
Rp 4.000,- (dewasa) Rp 2.000,- (anak) Termasuk biaya masuk Galeri Etnografi, Galeri Melaka dan Iptek Center

Skema proses memasak dengan tenaga uap diambil dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s