Sawahlunto (2) : Pedihnya Hidup Orang Rantai

Paginya  setelah mandi saya sarapan di restoran terbuka di halaman  samping hotel. Dari sini tampak lalu lalang mobil dan pejalan kaki di jalan depan hotel. Menunya cukup sederhana yaitu nasi goreng dan bubur kacang hijau. Rasanya tidak terlalu mengecewakan dan cukup mengenyangkan. Tidak banyak tamu hotel yang menginap sepertinya. Hanya saya  dan seorang bapak-bapak yang mengambil makan pagi.

 

Selesai sarapan saya segera menyusun rencana untuk berjalan-jalan keliling Sawahlunto. Tamu hotel dipinjami sepeda ontel tua untuk berkeliling kota horee.. 😀

Tempat wisata pertama yang saya tuju adalah Lubang Tambang Mbah Suro. Merupakan lubang pertambangan batubara pertama yang dibuka di Sawahlunto tahun 1898. Awalnya tempat ini disebut lubang Sugar. Dinamakan lubang Mbah Suro karena lubang ini diawasi oleh mandor dari Jawa bernama Surono yang akhrab disapa mbah Suro. Setelah beberapa lama diambil hasil batubaranya, lubang Mbah Suro ditutup tahun 1932 karena selalu tergenang air dari rembesan sungai Batang Lunto. Pada tahun 2007 lubang Mbah Suro dipugar dan dibuka kembali sebagai objek wisata sejarah andalan kota Sawahlunto.

Ada dua buah bangunan di dekat lubang Mbah Suro yaitu gedung Info Box sebagai museum dan galeri tambang dan monumen orang rantai. Info box menempati lahan bekas tempat penumpukan batubara dari lubang Mbah Suro. Pada tahun 1947 disini dibangun gedung pertemuan buruh. Pernah juga dipakai sebagai perumahan pegawai tambang.

 

Di antara info box dan lubang Mbah Suro dibangun monumen orang rantai. Berwujud patung dua orang pekerja tambang yang mendorong lori berisi batu bara mentah. Mereka diawasi oleh seorang mandor berkebangsaan Belanda. Saat saya datang di lubang Mbah Suro, pintu gerbangnya dikunci sehingga saya hanya bisa memandangi dari luar.

Saya penasaran dengan tekstur batu bara. Rupanya bentuknya mirip dengan arang tetapi lebih keras dan tidak mudah rapuh.

Tidak  lama saya disitu datang seorang abang-abang yang rupanya pemandu wisata di lubang Mbah Suro. Dia menjelaskan  bahwa saya tidak diperkenankan masuk sendiri ke lubang Mbah Suro. Saya lalu ditemani masuk ke info box. Di situ saya dipinjami sepatu boots dan topi kerja. Harga tiket ke lubang Mbah Suro Rp 8.000,- termasuk biaya mengunjungi info box dan biaya pemandu.

Setelah memakai perlengkapan, si abang membuka kunci lubang Mbah Suro dan menemani saya masuk. Lubang ini lebarnya sekitar dua meter dengan tinggi dua meter. Panjang terowongan sekitar 1,5 km tembus sampai masjid raya Sawahlunto. Jalan masuk berupa terowongan yang menurun curam. Saya harus berjalan dengan berpegangan pada tangga. Terowongan semakin lama semakin gelap. Untungnya ada lampu penerangan. Udara juga semakin pengap semakin kami masuk ke dalam terowongan. Sunyi menyelimuti.

 

Sambil menuruni tangga, abang menjelaskan bahwa dulu ada ribuan pekerja tambang yang bekerja disini. Mereka adalah tahanan dari berbagai penjara di Medan, Padang, Jawa dan Sulawesi. Sehari-hari mereka melakukan kerja paksa di bidang perkebunan, pertambangan dan pembuatan jalur kereta api. Tangan dan kaki mereka dirantai agar tidak kabur. Sebuah bola besi seberat 5-10 kg diikat di kaki. Rantai di tangan dilepas hanya ketika mereka bekerja. Selepas bekerja pada sore hari mereka dikirim ke penjara Sawahlunto.

 

Langkah kami terhenti di sebuah simpang empat. Di depan terdapat lorong yang ditutup dengan teralis. Itulah lubang yang dulu terendam air. Di sebelah kiri terdapat lorong yang ditutup permanen. Kata si abang, dulu ditemukan tumpukan tengkorak disini saat pemugaran. Di sisi lain terdapat potongan tulang dan alat tambang. Tulang-tulang yang diperkirakan sisa jenazah para orang rantai kemudian dipindahkan dan dimakamkan secara layak. Miris sekali mendengarnya. Saya lalu diarahkan untuk belok ke kanan menuju pintu keluar.

 

Abang itu menunjukkan sisa batubara yang masih menempel di dinding terowongan. Terdapat juga rembesan air yang merupakan mata air yang bersumber dari sungai Batang Lunto. Pintu keluar berupa tanjakan yang terdiri dari puluhan anak tangga. Kami keluar dari pintu yang berbeda dari pintu saat kami masuk lubang. Berada di dekat rumah warga. Puas menjelajahi lubang Mbah Suro kami  kembali ke info box.

Di info box saya dipersilakan duduk melihat film dokumenter sebelum melihat-lihat isi info box. Film ini banya berdurasi 25 menit. Menampilkan sejarah penemuan deposit batu bara di bumi Sawahlunto tepatnya di Ombilin pada tahun 1858 oleh ilmuwan Belanda Willem Hendrik de Greve. Eksploitasi batu bara dimulai tahun 1892. Sawahlunto yang awalnya hanya kampung kecil mulai dibangun sebagai sebuah kota pertambangan. Ribuan pekerja paksa didatangkan untuk bekerja di pertambangan. Selanjutnya jalur kereta api dibangun dari Sawahlunto ke Padang lewat Padang Panjang. Sampai tahun 1990-an penduduk Sawahlunto berkurang karena cadangan batubara berkurang sehingga banyak pegawai tambang yang dipindahkan ke daerah lain. Sawahlunto kemudian dicanangkan sebagai kota wisata tambang yang  berbudaya sejak tahun 2001.

Selesai menonton film saya melihat-lihat koleksi info box. Koleksi utamanya tentu saja rantai yang dipakai untuk mengikat tangan dan kaki orang rantai. Mereka makan sedanya dan hanya diupah ala kadarnya. Hampir setiap hari mereka terlibat perkelahian bahkan pembunuhan memperebutkan jatah makanan dan seks. Ya, mereka terpaksa berhubungan sesama jenis karena tidak ada perempuan di pertambangan saat itu. Hiii.. Kehidupan mereka sangat menyedihkan. Selepas bekerja pada pagi sampai sore, mereka dikirim kembali ke penjara sore harinya. Begitu seterusnya. Hampir setiap hari ada orang rantai yang mati mengenaskan. Jasad yang mati dikubur di pemakaman khusus orang rantai dengan nisan hanya diberi nomor karena mereka tidak didata namanya.

Disini dipamerkan juga baju dan peralatan yang dipakai untuk menambang batu bara. Foto-foto pekerja tambang seolah membawa saya ke masa lalu Sawahlunto yang pernah jaya dengan batu baranya.  Sejarah mencatat  Bung Karno dan Bung Hatta pernah berkunjung ke Sawahlunto tahun 1951 dan 1953. Selain itu saya belajar jenis-jenis batuan dan proses terbentuknya batu bara disini. Batu bara terbentuk dari sisa tumbuhan yang mati jutaan tahun yang lampau lalu mengendap dan terkena tekanan sehingga terjadi proses fisika dan kimia selama jutaan tahun menciptakan bijih batu bara. Bijih batu bara perlu diolah sehingga menjadi batu bara siap pakai.

Di sisi lain terdapat tabel pengawasan gas karbon, metan, H2S di lubang Mbah Suro. Ketiga komponen itu dicek setiap hari untuk memastikan keamanan pengunjung memasuki lubang Mbah Suro.

Dari tempat ini saya belajar banyak hal. Bersyukur hidup di zaman yang tidak mewajibkan saya bekerja sebagai tenaga paksa.

Galeri Tambang Info Box dan Lubang Mbah Suro
Jalan M. Yazid – Sawahlunto
Buka setiap hari
Tiket : Rp 8.000,- (termasuk sewa topi dan sepatu dan pemandu)

Iklan

One comment

  1. Saya Pendatang Baru Di Room Ini Ingin Berbagi Cerita Kepada Semua Sauwdara2 Para Pecinta Togel.Bahwa Setelah Sekian Lama Saya Mengenal Dunia Togel.Baru Kali Ini Saya Benar2 Merasakan Kemenangan 4D.Yaitu ( 1803 ) Dan Saya Menang 125 jta Ini Semua Berkat Bantuan Angka Ghoib Hasil Ritual.Dari BANG DALLE .Jika Anda Ingin Mendapatkan Angka Ghoib Hasil Ritual.2D?3D?4D?6D?Di Jamin 100% Tembus.Silahkan Anda Hubungi Langsung.BANG DALLE.Di Nomor.( 0852_1328_5049 ) Silahkan Anda Buktikan Sendiri Jika Anda Ingin.Mengubah Nasib.Seperti Saya ★ thenk,z roomx zobat,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s