Sawahlunto (1) : Hotel Ombilin Heritage

Sebuah tayangan di tv swasta berjudul Riwajatmoe Doeloe menayangkan liputan tentang kota Sawahlunto. Acara inilah yang akhirnya membawa saya ke kota yang dikenal dengan sebutan kota arang ini.  Arang hitam atau batubara adalah hasil utama kota Sawahlunto.

Suatu ketika sehabis menyelesaikan tugas kantor di Padang, saya memutuskan singgah di Sawahlunto untuk menghabiskan akhir pekan. Dari Padang saya naik travel persis  di depan hotel saya menginap di kawasan Padang Barat. Perjalanan dari Padang menuju Sawahlunto sekitar dua setengah jam. Sesuai saran seorang kawan seperjalanan saya memilih menginap di hotel Ombilin di pusat kota Sawahlunto.

  

Hotelnya berarsitektur art deco karena dibangun jaman penjajahan Belanda. Dari papan yang dipajang di dinding, hotel tua ini dibangun tahun 1918 sebagai penginapan untuk pejabat perusahaan tambang batubara yang berkunjung ke Sawahlunto. Pada tahun 1945 hingga 1949 dialihfungsikan untuk asrama tentara Belanda. Selanjutnya tahun 1970-an difungsikan sebagai kantor Polisi Militer kota Sawahlunto lalu akhirnya dikembalikan fungsinya sebagai hotel dengan nama hotel Ombilin Heritage.

Tarif menginap disini mulai dari Rp 260.000,- untuk kamar standar sampai dengan lima ratus lima puluh ribu rupiah per malam untuk kamar suite. Saya memilih kamar termurah. Karena tidak ada kamar single bed yang kosong, terpaksa saya tidur di kamar twin bed meski saya tidur sendiri. Kamarnya cukup bersih, ada pendingin ruangan dan tv. Pemanas air juga tersedia. Lampu cukup terang. Sangat nyaman. Jauh dari kesan horor apalagi angker seperti dalam pikiran saya hehe.

Setelah istirahat sebentar, saya keluar kamar menuju lobi hotel. Disini dipajang foto-foto lama kota Sawahlunto zaman Belanda. Ada juga radio jadul, alat musik talempong khas Minang, dan gramofon tua. Di sudut ruangan terdapat brankas tua buatan London tahun 1939.

  

Dari lobi saya melangkahkan kaki menuju taman segitiga di pusat kota. Taman segitiga berada di halaman kantor pusat PT Bukit Asam yang gedungnya mirip gereja dua tingkat dilengkapi menara di tengah-tengahnya. Malam itu saya makan sate Padang. Cukup ramai anak-anak dan muda mudi yang menghabiskan malam di taman. Wahana permainan anak di taman membuat anak-anak betah berlama-lama bermain disitu.

Setelah lapar terobati, saya kembali ke hotel dan ingin segera tidur dengan nyenyak. Saya butuh waktu untuk mengembalikan energi demi petualangan esok hari di Sawahlunto. 😀

Iklan

12 comments

  1. Boleh tau nomer contact person hotel ombilin sawahlunto? saya ada rencana berkunjung ke sawahlunto. terima kasih

    • parai mana yak ? yg disawahlunto yak? gak tau hehehe..katanya lebih bagus sih n lebih modern ..

      saya ada ‘pengalaman’ di kamar yg suite … lihat aja postingan sawahlunto yg lain mas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s