Kampung Cina Bengkulu yang Terbengkalai

Dalam perjalanan menuju Benteng Marlborough saya melewati sebuah perkampungan dengan ciri khas rumah-rumah tua yang kusam dan seakan terbengkalai ditinggalkan pemiliknya. Pintu masuknya berupa gapura lengkung dengan atap lengkung khas Tiongkok dihiasi dua pasang naga dan sebuah bola api. Inilah kampung Cina Bengkulu. Pusat keramaian dan perdagangan kota Bengkulu di masa silam.

Para perantau dari daratan Cina mulai masuk ke Bengkulu pada abad ke-17 sejak penjajah Inggris membuka Bengkulu sebagai kota perdagangan rempah-rempah khususnya lada. Mereka bekerja sebagai pedagang di pesisir pantai di dekat Benteng Marlborough yang sekarang dikenal sebagai kampung Cina.

Di tempat yang baru, para pedagang yang berjumlah ratusan ini membangun rumah dengan arsitektur Cina. Model rumah pada dasarnya sama antara rumah satu dengan rumah lain. Berupa rumah toko (ruko) dua lantai dengan lantai pertama berbahan batu bata dan lantai dua menggunakan kayu. Atap rumah berbentuk lengkungan khas Cina.

Masa tahun 1970-an merupakan periode kejayaan kampung Cina. Dulu sebagian besar warga Bengkulu pergi kesini untuk berbelanja. Beragam jenis barang diperdagangkan mulai dari makanan, sembako, pakaian, peralatan elektronik dan rumah tangga.

Masa keemasan kampung Cina sebagai pusat perniagaan memudar pada tahun 1990-an. Pusat-pusat perekonomian baru bermunculan seiring perkembangan kota. Selain itu kawasan kampung Cina beberapa kali ludes karena terbakar. Banyak penghuni akhirnya pindah dan meninggalkan rumahnya begitu saja. Beberapa rumah dijadikan sarang walet sementara yang lain dibiarkan merana. Beberapa rumah yang masih dihuni sedikit memberikan gambaran bahwa kehidupan kampung ini masih berdenyut.

Jika pada tahun baru Imlek di kota lain kampung Cina sangat semarak, suasana sebaliknya terjadi di sini. Tidak ada bunyi petasan atau kembang api. Keramaian hanya tampak di sebuah vihara Buddha di tengah-tengah kampung. Umat Tridharma akan beribadah untuk memperingati tahun baru.

Pada tahun 2008 pemerintah kota Bengkulu membangun sebuah gapura naga berarsitektur Cina di kawasan ini. Lampion-lampion berwarna merah menyala dipasang di penjuru kampung. Nyatanya hal ini tidak mampu membangkitkan keterpurukan kampung Cina. Kampung ini masih saja mati. Seperti matinya lampion-lampion di malam hari dan warna lampion yang pudar dan usang ditelan zaman…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s