Bukittinggi Tour

Satu malam sudah saya menghabiskan waktu untuk beristirahat di Bukittinggi. Keesokan paginya saya bangun dengan badan segar. Dolly, kawan saya mengajak jalan-jalan ke pusat kota. Kami naik oto (angkot) dari rumah Dolly di daerah Ampek Angkek Canduang ke kota.

Spot pertama yang kami datangi adalah pasa ateh (pasar atas). Dari pasa ateh kami berjalan menuju jam gadang. Ikon utama Bukittinggi bahkan Sumatera Barat. Orang akan bilang belum ke Bukittinggi kalo belum ke jam gadang hehe. Jam gadang dalam bahasa Minang berarti jam besar. Menara jam ini dibangun tahun 1925. Ada empat buah jam besar di atas menara. Sejak didirikan, atap menara jam gadang telah mengalami tiga kali perubahan. Awalnya atap jam gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan, saat pendudukan Jepang pemerintah mengganti patung ayam dengan kelenteng khas Jepang. Setelah Indonesia merdeka, diubah lagi menjadi bentuk atap bagonjong khas rumah adat Minangkabau seperti sekarang ini. Di dekat jam gadang terdapat Istana Bung Hatta, pahlawan nasional dan proklamator yang lahir di kota ini.

  

Selanjutnya kami menuju  Taman Kinantan. Isinya adalah semacam taman wisata. Ada museum Baanjuang, kebun binatang dan benteng. Museum Baanjuang menempati bangunan rumah gadang. Menyimpan berbagai model pakaian adat Minang, peralatan dalam budaya Minangkabu, dan ada awetan kambing berkepala dua. Disini saya sempat mencoba berfoto dengan pakaian adat Minangkabau di pelaminan yang telah disediakan. Sayang, saya tidak menyimpan fotonya hehe.

Setelah menjelajahi museum saya melihat kebun binatang Taman Kinantan. Koleksinya tidak sebanyak yang pernah saya lihat di kebun binatang di Jawa, tetapi cukup banyak jika dibandingkan tempat-tempat sejenis di Sumatera. Beruntung saya saat itu bisa melihat burung merak yang sedang memekarkan sayap indahnya.

Dari taman Kinantan kami melanjutkan penelusuran melewati jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Melintas di atas keramaian jalan Ahmad Yani, jembatan ini menjadi akses menuju benteng Fort de Kock.

  

Fort de Kock dibangun tahun 1825. Bangunan utama benteng ini hanyalah sebuah panggung dua lantai setinggi dua puluh meter. Benteng ini dilengkapi dengan empat meriam kecil di semua sudutnya sudutnya. Dari atas benteng, terhampar pemandangan kota Bukittinggi. Di ujung sana tampak kantor walikota Bukittingi yang berhiaskan gunung tinggi di belakangnya.

Perut keroncongan minta diisi. Dolly mengajak saya makan siang di sebuah kedai sederhana di dekat taman Panorama. Namanya pical sikai. Isinya berupa lontong, sayuran berupa rebusan rebung, jantung pisang, daun ubi, bunga pepaya dan kol segar. Disiram kuah pecal dan disajikan bersama kerupuk merah dan keripik ubi. Rasanya sangat unik di lidah. Ada sedikit sepah dari jantung muda dan bunga pepaya.

 

Kenyang makan pical, kami melanjutkan perjalanan menuju taman panorama yang tidak jauh dari situ. Di taman panorama terdapat goa buatan peninggalan penjajah Jepang bernama lobang Jepang. Lubang ini dibuat tahun 1942 untuk kepentingan pertahananan Jepang menghadapi serangan Sekutu. Ukuran goa ini selebar dua meter dengan panjang satu kilometer lebih.

Diperkirakan ribuan tenaga kerja paksa didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia untuk membangun lubang ini. Tragisnya, mereka semua dibunuh secara sadis setelah lubang ini selesai dibuat.

 

 

Setelah bergidik mendengar cerita di balik lobang Jepang, kami kembali ke atas. Dari taman panorama terbentang luas panorama Ngarai Sianok, sebuah lembah sepanjang 15 km dengan tinggi 100 meter dengan lebar 200 meter. Ngarai ini diperkirakan merupakan bagian dari patahan Sumatera. Di tengah-tengah ngarai terdapat sungai yang mengalir jernih.

 

 

Udara di sini sangat sejuk. Angin bertiup sepoi-sepoi. Namun, banyak monyet liar yang siap-siap merebut makanan ataupun tas dari pengunjung yang tidak waspada.

Saya harus mengakhiri perjalanan di Bukittinggi satu hari ini untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke kota Padang …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s