Mendadak Bali (8) : Belajar Seni Budaya Bali di Museum Bali

Puas naik ke puncak menara Monumen Bajra Sandhi, kami melanjutkan tur museum ke Museum Bali. Lokasinya berada di pusat kota Denpasar, di pojok tenggara lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung atau di samping Pura Agung Jagatnatha.

Museum Bali merupakan museum etnografi yang menyimpan peralatan dan perlengkapan hidup masyarakat Bali. Mulai dibangun pada tahun 1910 sebagai gedung penyimpanan arca, museum ini mulai beroperasi pada tahun 1930 dan dibuka untuk umum pada tahun 1932. Biaya pembangunan museum ditanggung oleh raja Buleleng, Tabanan dan Karangasem. Mereka masing-masing membangun sebuah puri/anjungan yang mencerminkan arsitektur masing-masing daerah di Bali. Semacam taman mini Bali saya pikir.

Begitu masuk ke dalam pintu gerbang museum saya langsung berhadapan dengan serambi tempat membeli tiket. Setelah membeli tiket tiba-tiba seorang bapak-bapak pemandu mengikuti kami tanpa kami minta. Okelah, saya berpikir positif saja. Kelihatannya dia ramah. Dia juga bertindak sebagai fotografer dadakan buat kami. 🙂

Bangunan pertama di dekat pintu gerbang adalah menara tinggi dengan kentongan di puncaknya. Kentongan atau di Bali disebut kulkul dibunyikan untuk mengumpulkan warga banjar (kampung) atau untuk mengumumkan suatu peristiwa. Kami lalu diajak menaiki menara bale bengong. Bale bengong merupakan ruang bersantai keluarga.

Selanjutnya kami masuk ke gedung Tabanan. Bentuk gedung cenderung kotak kaku dengan atap tumpang berbahan ijuk. Gedung ini dulu biasa dipakai untuk menyimpan benda pusaka

  

Koleksi peralatan kesenian Bali dipamerkan disini. Diantaranya gamelan Bali, wayang Bali, topeng Bali, kostum pertunjukan tari dan patung penari barong.

Kami selanjutnya diajak masuk ke gedung Karangasem. Gedung berbentuk baris memanjang ini dulu difungsikan untuk menerima tamu penting di kerajaan Karangasem. Disini dipamerkan peralatan dan perlengkapan yang dipakai pada upacara adat di Bali seperti Ngaben, metatah (potong gigi). Ditampilkan juga patung-patung dewa dewi yang dipuja masyarakat Hindu Bali.

  

Gedung berikutnya adalah gedung Buleleng. Bangunan dari Buleleng unik sendiri karena dindingnya terbuat dari kayu. Disini dipamerkan proses pembuatan kain tenun tradisional khas Bali. Dipajang juga jenis-jenis kain tradisional yang sering dipakai masyarakat Bali. Diantaranya adalah kain kotak kotak hitam putih yang terkenal dengan nama kain poleng. Motif hitam putih melambangkan adanya dua sifat dalam hidup yang bertolak belakang, tetapi harus serasi.

  

Gedung terakhir adalah gedung Timur. Gedung dua lantai ini dibangun pada tahun 1969. Menggunakan arsitektur kerajaan Badung yang dulu berpusat di kota Denpasar. Di lantai satu dipamerkan benda-benda prasejarah yang ditemukan di Bali. Sedangkan menaiki lantai dua dipamerkan benda-benda seni lukis dan seni patung kontemporer Bali.

  

  

Beberapa karya seni cukup menyita perhatian saya. Diantaranya sebuah lukisan Rangda yang dibuat hanya dengan menggunakan jari tangan tanpa kuas. Selain itu terdapat juga patung kayu berwujud kakek dan ayam . Terakhir adalah relief yang dipahat pada gading gajah. Sangat mengagumkan. Berkunjung ke museum Bali benar-benar memberikan pemahaman luar biasa akan seni dan budaya Bali yang indah.

Puas berkeliling museum kami ditawari untuk mengunjungi Pura Agung Jagatnatha yang letaknya berada tepat di samping museum Bali. Ini adalah pura terbesar di kota Denpasar. Kami setuju. Untuk memasuki pura kami diharuskan mengenakan sarung dan kain kuning. Di dalam pura sudah disediakan sarung dan kain kuning untuk disewakan kepada pengunjung. Sayangnya harga sewa cukup mahal yaitu Rp 10.000,- per orang. Oya, wanita yang sedang datang bulan tidak diijinkan masuk ke dalam area pura.

  

Kami memilih berkeliling pura sendiri. Saat itu cuaca sedang panas-panasnya sehingga cukup membuat badan kegerahan. Tampak keramaian di dalam pura. Umat Hindu di pura sedang mempersiapkan odalan yaitu peringatan ulang tahun pura. Selesai berkeliling dan foto-foto kami pamit kepada bapak-bapak yang menunggu kami di tempat sewa sarung. Uang saya tidak ada kembalian jadi saya pergi keluar pura menukarkan uang kecil kepada seorang ibu penjual makanan kecil di pinggir lapangan Puputan.

Kami terus diikuti oleh bapak tukang sewa dan pemandu wisata dengan tatapan mencurigakan. Setelah membayar uang sewa sarung sejumlah Rp 20.000,- saya memberikan uang Rp 25.000,- kepada bapak pemandu wisata. Dia bersikeras minta dibayar Rp 50.000,- tetapi saya tidak kalah ngotot. Akhirnya si bapak mengalah dan meninggalkan kami.

Untuk melepas lelah dan menghindari panas, kami duduk berteduh di bawah pohon dekat penjual makanan. Saya amati, barang dagangan yang dijajakan cukup unik. Ada ubi rebus, kimpul rebus, pisang rebus, kacang rebus, nasi bungkus, kerupuk dan minuman ringan.

  

Setelah sedikit melepas lelah, kami berjalan ke arah air mancur di lapangan puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Lapangan ini akhrab disebut lapangan puputan Badung. Disinilah dulu terjadi perang besar-besaran yang dipimpin oleh raja Badung ketujuh I Gusti Ngurah Made Agung pada tahun 1906 melawan penjajah Belanda. Beliau dan semua pengikutnya gugur.

Sekarang lapangan puputan Badung telah menjadi sarana rekreasi warga Denpasar karena letaknya sangat strategis yaitu di pusat kota dan berdekatan dengan kantor walikota Denpasar. Di sudut lapangan terdapat patung raksasa yang mempunyai empat wajah.

 

Habis dari lapangan puputan Badung, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Kacang, teman istri saya di   daerah Nusa Indah. Kami akan singgah untuk melaksanakan ibadah sholat Dhuhur disana. Sebelum singgah kami makan siang dulu di sebuah rumah makan khas Banyuwangi.

Museum Bali
Jalan Mayor Wisnu, Denpasar
Buka :
Senin-Kamis, Sabtu-Minggu : 08.30-16.00 WITA
Jumat : 08.30-12.30 WITA
Hari libur nasional tutup

Tiket :
Dewasa : Rp 5.000,-
Anak : Rp 2.000,-
Pelajar : Rp 1.000,-
Mahasiswa : Rp 2.000,-

Asing :
Dewasa : Rp 10.000,-
Anak : Rp 5.000,-

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s