Mendadak Bali (6) : Le Mayeur & Late Sunset in Kuta

Bukannya gaya-gayaan jika kali ini saya mengambil judul berbahasa Inggris. Jika saya memakai bahasa Indonesia takutnya malah terlalu panjang dan tidak eye catching lagi hihihi. Hari ini hari keempat di Bali.

Setelah acara hunting foto kemarin di pantai Dreamland dan GWK selesai, saya mengirimkan dua buah foto kepada panitia untuk dikomentari di forum diklat. Inilah kedua foto yang saya kirimkan lewat email.

Garuda dan Liliput
Lokasi : GWK
15986_3392254104496_1006192834_n
Menunggu Pembeli
Lokasi : GWK

Menurut tutor diklat, foto pertama saya bagus dari komposisi. Namun lemah pada pencahayaan. Suasana siang terik membuat warna awan menjadi putih polos tanpa dinamisasi. Sedangkan foto kedua sebenarnya cukup bagus, tetapi agak blur. Saya memang mengambil foto itu secara candid, tetapi ketahuan juga sama si mbok yang saya foto hahaha ūüėÄ

Singkatnya, setelah tiga hari diklat, siang itu adalah acara penutupan. Setelah acara ditutup peserta boleh makan siang dan check out dari hotel. Setelah  cabut saya pindah ke hotel Jambu Inn, masih di dekat pantai Sanur. Hotelnya kecil, tetapi sangat bersih dan dilengkapi dengan kolam renang dan WiFi.

Setelah acara kantor selesai kami segera merencanakan mau kemana kami dua hari lagi di Bali (ditambah satu hari pulang ke Jogja). Akhirnya kami merencanakan hari ini ke museum Le Mayeur, museum Bali dan ke pantai Kuta.

Museum Le Mayeur terletak tidak jauh dari hotel saya di pantai Sanur. Dari ujung jalan Hang Tuah, saya belok kanan menyusuri trotoar di tepi pantai Sanur ke arah hotel Grand Inna Bali Beach. Museum terletak sebelum hotel.

Dengan membayar tiket masuk sebesar lima ribu rupiah kami melangkahkan kaki ke dalam museum. Banyaknya tanaman di halaman museum membuat suasana cukup asri dan teduh. Bangunan utama museum adalah sebuah rumah tradisional Bali yang dipenuhi dengan ukiran baik di dinding, pintu, dan jendela.

  

Saat itu suasana sangat sepi. Hanya kami berdua pengunjung museum saat itu.

 

Museum ini menampilkan hasil karya pelukis asal Belgia bernama Adrien Jean Le Mayeur de Merpres atau akhrab disapa Le Mayeur. Uniknya lukisan Le Mateur yang dipamerkan disini tidak hanya menggunakan media lukis kanvas saja, tetapi juga menggunakan karung goni, hard board, triplek , kertas dan kanvas. Aliran gaya melukisnya adalah impresionis dengan tema lukisannya sebagian besar adalah wanita Bali. Beberapa lukisan yang dipamerkan disini merupakan hasil karya Le Mayeur yang dibuat di beberapa negara saat dia melakukan pengembaraan sebelum akhirnya menetap di Bali.

Di antara koleksi lukisan Le Mayeur, lukisan yang banyak mendominasi adalah lukisan tentang Ni Pollok, model lukisan yang menjadi istrinya. Banyak lukisan yang menggambarkan perempuan Bali zaman penjajahan yang belum mengenakan penutup dada. ūüôā

 

Le Mayeur lahir di Brussels, Belgia tahun 1880 sebagai putera bangsawan. Ia mewarisi darah seni dari orang tuanya. Meski pendidikannya adalah teknik bangunan, cita-citanya adalah pelukis. Karena dilarang mengembangkan bakat melukisnya, Le Mayeur nekat meninggalkan Belgia dan berkeliling dunia. Setelah berpindah-pindah negara akhirnya dia tiba di Bali pada tahun 1932 pada usia 52 tahun. Di Bali Le Mayeur bertemu dengan Ni Nyoman Pollok, seorang penari legong. Le Mayeur tertarik dengan keindahan tubuh Ni Pollok lalu menjadikan Ni Pollok sebagai model lukisan selama dua tahun lamanya.

Le Mayeur akhirnya menikah dengan Ni Pollok yang saat itu masih berusia 17 tahun. Mereka membangun rumah di pantai Sanur. Pada tahun 1958 Le Mayur pulang ke Belgia karena harus berobat melawan sakit kanker yang dideritanya. Malang, sakitnya tidak bisa disembuhkan, dia meninggal dan dimakamkan disana.

Sepeninggal Le Mayeur, Ni Pollok merawat rumahnya yang dijadikan museum seorang diri. Ni Pollok meninggal pada tahun 1985. Sebelum meninggal Ni Pollok mewasiatkan untuk menghibahkan rumah yang dihuninya bersama Le Mayeur untuk dijadikan museum. Ni Pollok meninggal tanpa menghasilkan keturunan. Semasa hidup Le Mayeur menolak mempunyai anak karena saking takutnya jika Ni Pollok punya anak dan melahirkan badannya tidak akan bagus lagi.

 

Memasuki museum Le Mayeur, saya seolah kembali ke masa lalu Le Mayeur dan Ni Pollok. Melihat-lihat isi rumahnya, melihat perabotan rumah masih yang ditata apa adanya seperti dulu saat masih ditempati. Bahkan pengunjung bisa masuk ke kamar tidur Le Mayeur dan Ni Pollok dan melihat koleksi foto-foto pribadi Ni Pollok yang tanpa mengenakan penutup dada. Berkunjung ke sini seolah-olah menyaksikan pengorbanan cinta sejati. Di luar rumah dibangun pula sebuah monumen untuk mengenang Le Mayeur dan Ni Pollok.

Sayangnya di dalam museum tidak terdapat pendingin sehingga cukup gerah apabila berlama-lama di dalam rumah. Kami melanjutkan perjalanan hari ini ke museum Bali. Dengan berbekal motor pinjaman dari Kacang teman istri saya, kami melaju menuju Museum Bali di kawasan Renon. Dari jalan Hang Tuah Sanur menyusuri jalan Hayam Wuruk lalu mengikuti petunjuk jalan ke arah Museum Bali. Sayang, bukannya sampai ke museum malah kami cuma mutar-mutar kota Denpasar.

Capek mutar-mutar ditambah kepanasan matahari jam dua belas siang membuat kami menunda agenda ke museum dan mencari jalan ke arah pantai Kuta. Tidak terasa sudah masuk waktu Dhuhur sehingga motor saya lajukan pelan-pelan untuk mencari keberadaan mushola atau masjid. Ketemu juga sebuah masjid, tetapi istri saya kurang sreg sholat disitu karena itu hanya TPA tempat mengaji anak-anak yang dijadikan masjid. Jadinya kami mencari masjid lain.


Dalam perjalanan perut lapar minta diisi. Saya berhenti di sebuah warung mie ayam halal. Uniknya, warung ini berada tepat di depan sebuah rumah makan babi guling khas Bali.

Perut kenyang, hati senang ūüôā Lepas makan, kami meneruskan perjalanan ke pantai Kuta. Untuk pendatang seperti kami, membaca petunjuk jalan di Bali rupanya cukup membingungkan. Belok kiri belok kanan belok kiri belok kanan tidak seakan tidak ada habisnya. Tidak disadari rupanya hari telah menjelang sore.

Keluar dari kota Denpasar dan masuk wilayah kabupaten Badung rupanya ada jalan yang sedang direnovasi. Namanya jalan simpang siur haha. Unik ūüėÄ Mulai dari situ sampai di daerah Legian macet total. Mungkin karena hari itu sedang libur panjang sehingga Bali penuh dengan wisatawan. Motor saya lajukan pelan-pelan. Arus kendaraan tersendat-sendat.


Beberapa saat kemudian, mata saya melihat Monumen Bom Bali I. Segera saya ambil jalan ke kiri dan parkir motor di sebuah toko baju.

Monumen ini dibangun untuk mengenang tragedi kemanusiaan pengeboman teroris di¬†Paddy’s Pub dan Sari Club di jalan Legian pada tanggal 12 Oktober 2002. Peristiwa ini dikenal dengan Bom Bali I. Sebanyak¬†202 korban jiwa melayang dan 209 lainnya luka-luka. Korban terbanyak wisatawan asing dari negara Australia, Indonesia dan Inggris. Tepat di titik nol atau ground zero¬†sekarang dibangun air mancur. Di belakang air mancur dipahat semua nama korban beserta asal negaranya.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan Legian yang arus lalu lintasnya satu arah menuju pantai Kuta. Di ujung jalan terdapat persimpangan. Kami belok ke kanan untuk menuju pantai Kuta. Sebuah papan penanda dan sepasang gapura tinggi menyambut semua pengunjung yang pergi ke pantai Kuta.

 

Sayang sekali kami melewatkan matahari terbenam di pantai Kuta. Matahari telah beberapa saat yang lalu tenggelam di balik horizon. Ini gara-gara nyasar di Denpasar dan kemacetan menuju pantai Kuta. Hari telah menjelang gelap , tetapi para pengunjung pantai masih setia menikmati hembusan udara pantai Kuta.

   

Tidak apa-apa, kami masih bisa melihat semburat cahaya jingga di ujung sana. Setelah foto-foto sebentar, kami meninggalkan pantai Kuta.

 

Keluar dari pantai Kuta tampak para polisi wisata yang berjaga-jaga di dekat pintu keluar. Saya ambil motor dan mengambil jalan sepanjang jalan Sunset Road.

 

Sampai di depan Hard Rock Cafe kami berhenti lalu foto-foto narsis di depannya. Puas foto-foto kami berbelok melewati gang sempit Poppies Lane yang terkenal itu. Disinilah cikal bakal hotel, losmen dan restoran di pantai Kuta. Sampai akhirnya pariwisata Bali booming karena banyak turis asing terpesona dengan keindahan alam Bali dan pantai-pantainya yang cantik.

Keluar dari kawasan Kuta belum menjamin kami terbebas dengan kemacetan. Jalanan yang searah padat dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Setelah beberapa lama akhirnya kami bisa terbebas dari kemacetan. Istri saya meminta berhenti dulu di depan toko Ripcurl. Puas berfoto kami kembali ke jurusan Sanur menuju hotel.

Masih butuh perjuangan kembali ke kawasan Sanur. Lagi-lagi kami dipusingkan dengan papan petunjuk yang malah membingungkan alihalih memperjelas arah ke Sanur. Berkali-kali kami belok kiri-kanan-kiri-kanan-kiri-kanan, tetapi malah lebih panjang daripada rute berangkat. Hingga akhirnya sampai juga di jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai. Kami lalu bertanya kepada polisi dan sampai di Sanur dengan teparr.

Museum Le Mayeur
Jalan Hang Tuah, Sanur, Denpasar (samping hotel Grand Inna Bali Beach)
Buka :
Senin-Kamis, Sabtu-Minggu :¬†08.00‚ÄĒ15.00 WITA
Jumat : 08.00 -12.30 WITA
Hari libur nasional tutup

Tiket :
Dewasa : Rp 5.000,-
Anak : Rp 2.500,-
Asing : Rp 10.000,-

Pantai Kuta
Jalan Sunset Road, Kuta, Badung
Buka setiap hari
HTM : Gratis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s