Mendadak Bali (5) : Sihir Tari Bali di GWK

Puas berkeliling kompleks Garuda Wisnu Kencana, telinga saya mendengar bunyi gamelan Bali yang dinamis. Arah suara berasal dari amphiteatre / panggung terbuka. Bergegas saya masuk ke dalam. Masih banyak tempat yang kosong sehingga saya bisa memilih tempat duduk tidak jauh dari panggung. Masuk kesini gratis.
 
Pertunjukan sedang berlangsung. Seorang gadis muda menarikan tari Bali. Judulnya jangan tanya ya, saya tidak tahu. Yang jelas si penari memakai kipas dan di kepalanya terdapat hiasan bunga putih. Sekitar lima menit tampil si penari kembali ke balik panggung. Penari lain keluar. Penari yang ini selain menari sendiri juga mengajak penonton untuk menari bersama. Beberapa penonton berkesempatan diajak menari ke panggung. Penonton yang ditarik ke panggung saya lihat tidak memberikan uang saweran kepada penari.
Selesai tarian tunggal, acara diistirahatkan selama kurang lebih lima belas menit. Panggung kosong. Para penabuh gamelan masuk ke balik panggung serta membawa alat musiknya masing-masing. Pertunjukan utama akan digelar sebentar lagi. Jadwal hari itu yaitu Selasa adalah tari bianglala Nusantara dan tari barong. Pertunjukan akan dimulai pulul 18.00 WITA. Penonton mulai memadati arena panggung terbuka.
Beberapa saat kemudian pengumuman dibacakan bahwa pertunjukann akan segera dimulai. Semua mata tertuju ke panggung menanti pertunjukan seperti apa yang akan ditampilkan. Para lelaki bertelanjang dada mengusung gamelan Bali. Kemudian seorang pawang keluar dan memilih duduk di tribun atas di samping penonton. Seorang pria berpakaian adat membawa sesaji ke tengah panggung dan berdoa sebelum acara dimulai.
Selanjutnya berturut-turut ditampilkan berbagai macam tarian. Pertama adalah tari Papua yang dibawakan oleh anak-anak tuna rungu. Mereka melihat aba-aba yang dipimpin oleh pelatih dan mereka menerjemahkannya ke dalam bentuk tarian. Berikutnya adalah sebuah tarian jenaka yang tidak saya ketahui namanya dan tari baris. Tari baris dibawakan penari berbaju putih dan menggambarkan jiwa kepahlawanan masyarakat Bali. Saat membawakan tari jenaka, para penonton dibuat tertawa karena aksi para bocah ini sangat lucu 😀 .
Tari berikutnya adalah tarian Bali kontemporer diantaranya tari belibis, tari cenderawasih dan beberapa tarian yang tidak saya ketahui namanya. Tari belibis mengisahkan raja Angling Dharma yang dikutuk istrinya menjadi seekor burung belibis. Dia kemudian mengembara. Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan sekelompok burung belibis. Namun ia tidak diakui itu karena bisa berbicara seperti manusia. Sedangkan tari cenderawasih melukiskan sepasang burung cenderawasih yang sedang dimabuk asmara. Meskipun cenderawasih merupakan burung asli Papua, gerakan tari ini sepenuhnya memakai gerakan tari Bali.
 
Yang tampil selanjutnya adalah sebuah tari yang mirip tarian Dayak dari Kalimantan. Meskipun tata musik dan busananya kurang mencerminkan budaya Kalimantan yang asli. Berikutnya tampil tari barong landung. Barong landung wujudnya mirip ondel-ondel di Jakarta dan jumlahnya juga sepasang laki-laki dan perempuan. Barong landung melambangkan roh raksasa tetapi berkepribadian baik dan bertugas sebagai penjaga. Di Bengkulu, barong landung juga dikenal sebagai barong landong, sosok roh pelindung di suku Lembak.
  
Acara selanjutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu yaitu tari Barong. Tarian klasik ini menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan yang disimbolkan barong yang berwujud singa melawan Rangda yang berwujud hantu. Barong merupakan makhkluk halus yang bersifat menjaga sebuah tempat di Bali. Sebenarnya ada lima jenis barong di Bali yaitu barong singa, barong harimau, barong raksasa, barong babi hutan dan barong naga. Namun, barong singa dari Gianyar-lah yang paling terkenal. Selama pertunjukan para penari menunjukkan kebolehannya bermain api dan menusukkan keris ke tubuh tanpa luka sedikitpun. Menakjubkan. 😀
   
Selesai semua pertunjukan, seluruh penari berdiri di depan panggung. Banyak penonton yang ingin berfoto bersama para penari. Saya sempat berfoto dengan Rangda di makhluk jahat. Benar-benar pertunjukan yang bagus dan sayang untuk dilewatkan jika Anda berkunjung ke Bali. 🙂
Sebelum pulang, saya melihat indahnya lampu-lampu di kota Denpasar dari ketinggian GWK. Kami pulang dengan hati senang.
 
Bus kami meninggalkan GWK dan berhenti di sebuah toko swalayan yang menjual makanan dan oleh-oleh khas Bali. Saya membeli kacang disko dan sarung Bali bermotif songket. Di depan toko ini terdapat sebuah restoran yang namanya mirip bintang film porno asal Jepang hahaha. Puas berbelanja saatnya kembali ke hotel.

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Jalan Raya Uluwatu-Jimbaran
Kuta Selatan, Badung, Bali
Buka setiap hari, pukul 8.00 – 22.00 WITA
Harga Tiket Masuk :
Anak-anak, pelajar, mahasiswa : Rp 25.000,-
Dewasa : Rp 30.000,-
Asing : Rp 60.000,-
Situs Web :  gwk-culturalpark.com
Jadwal pertunjukan di GWK diambil dari sini.
Iklan

2 comments

  1. saya sangat takjub…..melihat anak2 tuna rungu menari,….tanpa mendengar suara,dan yang saya heran lagi…pelatihnya masih sangat muda,dari raut wajah dan pembawaan,beliau adalah org yang kalem,tlaten dan penuh kasih sayang terhadap anak2…….mungkin ada yang tahu siapa nama pelatih tersebut, ..sungguh mengesankan……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s