Mendadak Bali (4) : Agungnya Garuda Wisnu Kencana

Masih hari ketiga di pulau Dewata ūüôā

Lepas dari pantai Dreamland, kami meluncur menuju arah Jimbaran. Bukan ke pantai Jimbaran, tetapi ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). ūüėÄ Setelah bus parkir, saya segera turun dan mengambil jatah snack dan minum. Habis makan panitia membagikan tiket masuk menuju GWK. Tiket untuk wisatawan domestik adalah Rp 25.000,-. Tidak tersedia tiket rombongan ūüė¶ Namun, tidak masalah. Toh kali ini biaya masuknya ditanggung panitia juga hehe.

GWK atau lengkapnya bernama Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berlokasi di puncak bukit Ungasan, desa Ungasan, Kuta Selatan, kabupaten Badung. GWK merupakan sebuah kawasan wisata budaya dengan ikon utamanya patung dewa Wisnu yang mengendarai garuda. Patung ini hasil karya seniman asli Bali, I Nyoman Nuarta. Patung ini dipromosikan menjadi menjadi ikon baru pulau dewata.

Setelah menyerahkan tiket masuk, saya disambut oleh pahatan relief yang menceritakan kisah dewa Wisnu dengan garudanya. Diceritakan bahwa garuda merupakan dewa dengan wujud setengah manusia setengah hewan yaitu burung. Dewa Garuda merupakan tunggangan dewa Wisnu. Dewa Wisnu salah satu dari dewa Trimurti selain dewa Syiwa dan dewa Brahma. Di ujung sebelah kanan  terdapat miniatur patung Garuda dan dewa Wisnu.

 

Tidak jauh dari situ terdapat berbagai restoran, mulai dari restoran Bali, masakan Barat dan ¬†Sunda. Saya mendengar para petugas restoran menyapa para pengunjung dengan bahasa Sunda. ūüôā ¬†Sebuah salon pijat refleksi juga tersedia bagi pengunjung yang kecapekan setelah berkeliling GWK. Tersedia juga salon yang menyediakan jasa foto dengan pakaian adat Bali. Sayangnya, harganya cukup menguras kantong. Jika ingin gratis bisa berfoto dengan di¬†booth penari Bali hehehe ūüėÄ

 

Ada dua jalur berkeliling GWK. Pertama lewat lotus pond dan kedua lewat kolam kura-kura. Saya memilih melewati kolam kura-kura terlebih dulu. Kura-kura melambangkan penjaga kekuatan dalam mitologi Bali. Tidak heran hampir semua bangunan di Bali memakai patung kura-kura sebagai alas pondasi bangunan untuk mencegah kerusakan bangunan dari bencana alam.

Berjalan melewati tangga naik di samping kura-kura, sampai juga saya di puncak tertinggi GWK yaitu patung dewa Wisnu. Patung setinggi belasan meter ini belum sempurna, baru badan dan kepala yang sudah dibuat. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton. Nantinya dengan tinggi patung 75 meter dan tinggi bangunan 70 meter, patung ini direncanakan akan menjadi patung terbesar di dunia mengalahkan rekor saat ini yaitu patung Liberty yang mempunyai tinggi 93 meter. Sangat megah dan luar biasa pastinya.

Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi pemeliharaan, penyelamatan lingkungan dan dunia. Sesuai dengan kepribadian dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta. Tepat disamping patung Wisnu terdapat pura bernama Parahyangan Somaka Giri. Di dalam pura terdapat sumber air yang dikeramatkan warga Ungasan karena tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Oh ya, dari ketinggian di depan patung Wisnu kita bisa melihat pantai Kuta, Sanur, dan kota Denpasar di kejauhan.

 

Menuruni tangga di belakang patung Wisnu saya sampai di patung Garuda. Patung ini mempunyai tinggi 18 meter. Pembangunannya baru sebatas sebagian dada dan kepala garuda. Banyak pihak menyayangkan pembangunan GWK yang belum juga usai. Kompleks GWK dirancang sejak dibangun tahun 1997. Namun, kesulitan dana membuat pembangunannya tersendat-sendat. Konon masih butuh dana empat triliun rupiah lagi untuk membangun gedung alas patung dan untuk menyempurnakan patung GWK. Namun, hal ini tidak mengurangi minat wisatawan mengunjungi GWK dan mengagumi keagungannya.

   
Selepas mengagumi keindahan patung Wisnu dan Garuda, saya menuruni tangga kembali. Saya menjumpai lapangan luas dengan dinding-dinding kapur menjulang tinggi di tepi lapangan. Dinding-dinding kapur di lotus pond dulunya merupakan bukit kapur yang gersang dan sepi. Bukit-bukit ini lalu dibelah hingga membentuk pilar-pilar yang agung dan monumental. Area ini sering dipakai sebagai tempat pertunjukan musik atau tempat pertemuan bahkan resepsi pernikahan. Teratai menempati posisi utama dalam agama Hindu. Bunga ini melambangkan keindahan, kemakmuran dan kesuburan. Dewa Wisnu juga selalu membawa bunga teratai di tangannya dan hampir semua dewa Hindu duduk di atas teratai. Jika berminat, Anda dapat mencoba menaiki segway disini. Saya tidak mencobanya. Lain kali saja hehe.
5308162193_b2fc19154b_z
Di akhir kunjungan, terdapat sebuah toko oleh-oleh yang menjual kaos, pernak-pernik dan cendera mata. Salah satu cendera mata yang ditawarkan adalah miniatur GWK.

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana

Jalan Raya Uluwatu
Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali
Buka setiap hari, pukul 8.00 – 22.00 WITA
Harga Tiket Masuk :
Anak-anak, pelajar, mahasiswa : Rp 25.000,-
Dewasa : Rp 30.000,-
Asing : Rp 60.000,-
Situs Web :  gwk-culturalpark.com‎
Foto miniatur GWK diambil dari sini.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s