Mendadak Bali (1) : Antara Panik dan Euforia

Saya dan istri sudah pulang ke rumah setelah menempuh tugas secara maraton ke beberapa kota dimulai dari Jambi, Palembang, Lahat, Sarolangun dan Bangko. Kami kembali ke Sungai Penuh setelah menempuh perjalanan total selama delapan hari. Sangat melelahkan.

Belum ada satu jam setelah perjalanan panjang tiba-tiba saya dikejutkan oleh telpon dari Andar, kawan di Bengkulu bahwa saya harus segera ke Bali. Saya mendapat tugas mengikuti pelatihan pembuatan blog di Bali. Buru-buru saya membuka internet untuk memastikan undangan tersebut. Benar saja, nama saya tercantum dalam daftar undangan yang disebarluaskan melalui media online.

Istri saya kaget karena belum hilang rasa capek karena perjalanan delapan hari. Saya bujuk terus agar istri ikut. Oke, istri saya mau ke Bali. Giliran mencari tiket ke Jakarta dan Bali karena acara tinggal dua hari lagi sehingga kami harus berangkat malam ini ke Padang untuk ke Jakarta besok paginya. Ini adalah perjalanan ke Bali pertama saya jadi saya cukup antusias.

Buruan saya menelepon agen travel memesan dua kursi ke Padang. Sayang kursi depan sudah penuh sehingga kami terpaksa duduk di belakang. Istri saya mulai rewel karena tidak bisa duduk di belakang karena mabuk. Terus saya yakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. 🙂 Mobil jemputan datang setengah jam lagi. Baju kotor yang sempat dikeluarkan dari tas saya masukkan lagi ke koper. Waktu yang ada saya manfaatkan untuk membeli tiket ke Jakarta. Tiket ke Bali akan saya beli di Jakarta. Tiket pesawat Padang-Jakarta saya dapatkan seharga 800ribuan seorang, lebih mahal dibandingkan hari biasa yang ‘hanya’ sekitar 500ribuan.

Dengan sedikit kepanikan karena waktu berkemas-kemas yang terbatas, kami juga harap-harap cemas karena takut istri saya akan mabuk. Beberapa saat menunggu mobil jemputan datang. Benar saja, kami dapat tempat duduk paling belakang. Alhamdulillah sepanjang tujuh jam perjalanan menuju Padang istri saya tertidur lelap dan tidak mabuk. Kami diantar sampai ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman.

Pesawat dari Padang menuju Jakarta berangkat dua jam lagi. Kami gantian tidur di ruang tunggu bandara sambil menunggu naik pesawat. Perjalanan udara dari Padang ke Jakarta ditempuh selama satu setengah jam. Siang hari kami mendarat di Bandara Soekarno–Hatta. Beruntung saat itu katanya sedang ada tiket promo Jakarta-Denpasar sebesar Rp 500ribu. Tetap mahal juga 😦 Kami berangkat menuju Bali dari terminal 3 yang megah, luas dan futuristik.

Menunggu pesawat di terminal 3 bandara Soetta

Sepanjang penerbangan dua setengah jam Jakarta-Denpasar saya mencoba untuk tidak tidur. Saya ingin melihat pemandangan dari atas khususnya pemandangan pulau Dewata. Sebelum mendarat di Bali dapat juga saya lihat samar-samar jembatan Suramadu di antara pulau Jawa dan Madura serta kota kecil Kalianget di ujung timur pulau Madura.

Jembatan Suramadu pemisah Pulau Jawa dan Madura

Terbang di atas pulau dewata, saya bisa melihat indahnya gunung Prapat Agung di ujung barat pulau Bali. Kemudian sawah dan pegunungan yang mendominasi alam pulau Bali. Menjelang mendarat pesawat berputar-putar di dekat pantai Kuta sebelum mendarat di bandara internasional Ngurah Rai, Denpasar. Namun, bandara ini sesungguhnya berada di wilayah kabupaten Badung. Jam di Bali yang masuk WITA lebih cepat satu jam dari Jakarta yang masuk WIB. Welcome to Bali 😀

 

 

Bandara Ngurah Rai rupanya sedang direnovasi. Bandara baru nantinya akan dibangun lebih luas dengan lebih menonjolkan arsitektur tradisional Bali. Setelah puas berfoto-foto kami memesan taksi menuju hotel yang sudah dipesankan kantor di dekat pantai Sanur.

canang sari di atas dasbor taksi

Sopir taksi kami orang Bali asli. Dia menceritakan bahwa semua tempat termasuk taksi yang kami naiki terdapat canang sari, sesaji untuk memohon keselamatan dan keberuntungan kepada Tuhan. Setiap rumah di Bali memiliki sanggah, sebuah anjungan berupa bangunan mirip tugu untuk meletakkan sesaji kepada Tuhan. Umat Hindu pergi ke sanggah setiap pagi dan sore hari.

 

Keluar dari bandara, saya melihat patung Gatotkaca Seraya. Patung ini merupakan patung selamat datang di Bali. Melukiskan tokoh pewayangan Gatotkaca yang gagah berani dan bisa terbang. Patung ini dipercaya memberikan perlindungan kepada wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Kira-kira setengah jam perjalanan kami sampai di Sanur Paradise Plaza Hotel. Saatnya istirahat dulu.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s