Cantiknya Jembatan Beatrix

Jembatan Beatrix dilihat dari Ancol

Sebuah jembatan cantik berdiri anggun di kota Sarolangun di atas aliran sungai Tembesi. Setiap kali saya melakukan perjalanan melintasi kota Sarolangun dengan mobil, hampir selalu saya menoleh ke arah jembatan hanya untuk melihat keindahan jembatan tua ini. Jembatan Beatrix namanya.

Panjang jembatan kurang lebih seratus meter dengan lebar lima meter. Bentuknya mirip busur panah yang terulur ke bawah. Jumlah lengkungan jembatan ada empat buah dan ditopang tiga buah tiang pancang. Sekilas melihat wujud dan warnanya mirip wahana permainan anak jaman saya sekolah TK dulu hehehe.

Jembatan Beatrix terletak di pusat kota Sarolangun, ibukota kabupaten Sarolangun. Tepatnya di sebelah kanan jembatan baru Sarolangun yang merupakan jalan lintas tengah Sumatera jika Anda berasal dari arah Bangko atau Padang. Jauh ebelum jembatan baru dibangun, jembatan Beatrix merupakan jembatan utama yang menghubungkan kelurahan Sri Pelayang dan kelurahan Pasar Bawah. Penduduk sekitar lebih akhrab dengan sebutan jembatan lamo. Sekarang fungsi jembatan Beatrix hanya sebagai jembatan penghubung kedua kelurahan.

Menurut para tetua, jembatan Beatrix dibangun oleh para pekerja rodi pada tahun 1932 pada jaman penjajahan Belanda. Jembatan selesai dan diresmikan pada tahun 1939. Tidak ada yang tahu dengan pasti sejarah penamaan jembatan Beatrix. Asal mula penyebutan Beatrix diketahui berasal dari sebuah prasasti berbahan marmer yang ditempelkan di ujung badan jembatan tepatnya di sisi Sri Pelayang. Tulisan Beatrix Brug yang tertera bermakna “Jembatan Beatrix”.

Kemungkinan penyebutan nama Beatrix diberikan untuk merayakan kelahiran Putri Beatrix yang lahir pada tanggal 31 Januari 1938. Beatrix lahir sebagai putri pewaris kerajaan Belanda dari ibunya Ratu Juliana.

Meski terlihat kokoh, jembatan yang terbuat dari beton bertulang ini pernah mengalami kerusakan parah pada tahun 1982. Salah satu tiang penopangnya runtuh digerus aliran sungai Tembesi.

Istri saya di tengah-tengah jembatan

Sekarang jembatan Beatrix telah menjadi ikon utama Sarolangun. Orang bilang belum ke Sarolangun jika belum kesini. Jembatan Beatrix telah menjadi wisata sejarah andalan Sarolangun bahkan saat Sarolangun masih bernama kabupaten Sarolangun-Bangko (induk kabupaten Sarolangun).

Pada sore hari banyak warga berkumpul untuk sekedar melihat pemandangan sungai Tembesi dan jembatan Beatrix dari tepi sungai yang disebut Ancol. Di Ancol banyak pedagan yang menggelar dagangan dan menyediakan tempat duduk untuk para pengunjung. Ketika kami melewati Ancol pada siang hari suasana sangat sepi. Hanya tampak beberapa orang yang memancing dari tepi sungai.

Di dekat jembatan Beatrix terdapat rumah dinas bupati Sarolangun dan masjid agung Sarolangun yang sangat megah. Di depan masjid agung terdapat sebuah tugu peringatan dan makam noni Belanda bernama Maria. Tugu tersebut dibangun untuk memperingati kedatangan Belanda di Sarolangun pada tahun 1901. Sayangnya tulisan di tugu tersebut kini sudah tidak bisa dikenali lagi karena rusak dimakan usia. Nasib makam Maria di dekatnya lebih menyedihkan lagi, tidak diketahui dimana makamnya sekarang. Kemungkinan nisannya yang berupa tanda salib sengaja dihancurkan saat renovasi masjid. Benar-benar tidak menghargai sejarah.

Di luar negeri nama Ratu Beatrix diabadikan menjadi nama bandara internasional di Aruba, sebuah negara kecil di laut Karibia. Aruba sendiri merupakan negara otonom di bawah pemerintahan kerajaan Belanda.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s