Waduk Gajah Mungkur dan Nostalgia Nasi Liwet

Suatu saat saya mendapatkan undangan pernikahan dari kawan kuliah saya Candra di Wonogiri. Karena saya belum pernah pergi ke Wonogiri sebelumnya, saya mengontak kawan-kawan siapa tahu ada yang mau ke acaranya Candra. Anggi, kawan saya di Boyolali akhirnya mau setelah saya ajak. Kami naik motor ke Wonogiri.

Sekitar satu jam kami sampai di gedung pertemuan tempat acara pernikahan Candra. Pesta telah selesai dan kami diantar salah satu anggota keluarga Candra ke rumah mempelai perempuan. Setelah bertemu Candra kami berpamitan.

Mumpung masih di Wonogiri kami mau sekalian mau melihat waduk Gajah Mungkur, waduk terbesar di Jawa Tengah. Dari pusat kota Wonogiri waduk bisa dicapai dengan kendaraan umum sekitar lima belas menit saja. Waduk ini diresmikan tahun 1978 dengan membendung aliran sungai Bengawan Solo. Dengan luas 88 km persegi meliputi tujub kecamatan di wilayah kabupaten Wonogiri. Air dari waduk digunakan untuk  mengairi sawah di kabupaten Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen. Juga sebagai bahan baku air minum di kota Wonogiri dan sebagai sumber pembangkit listrik.

DSCN9283    DSCN9285

Setelah memarkirkan motor kami segera mendekati tepi waduk. Sebuah tulisan besar Bendungan Serbaguna Wonogiri menyambut kami. Waduk Gajah Mungkur ramai didatangi pengunjung hari itu karena hari Minggu.

DSCN9333

Sebuah monumen berdiri tegak ditepi danau. Berwujud patung sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu yang menggendong anak dan seorang anak perempuan. Mereka seolah mengucapkan selamat tinggal kepada tanah Wonogiri. Monumen bedol desa dibangun untuk mengenang pengorbanan ratusan warga yang dipindahkan ke luar Jawa karena proyek pembangunan waduk. Mereka ditransmigrasikan ke Dharmasraya, Sumatera barat.

DSCN9282    DSCN9325

Meski sudah ada larangan, sebagian pengunjung masih nekat memancing di waduk. Saya dan Anggi berjalan berkeliling sebentar melihat waduk. Air waduk sedang surut. Tidak banyak yang bisa dilihat kecuali tanaman sekeliling waduk yang gersang. Tidak berapa lama kami lalu memutuskan pulang ke Boyolali.

DSCN9336

Ketika melewati daerah Solobaru, saya melihat deretan penjual nasi liwet. Segera saya meminta Anggi menghentikan motornya untuk menawari makan malam. Kami makan nasi liwet karena saya sudah lama sekali tidak makan masakan khas Solo tersebut. Nasi liwet merupakan nasi uduk khas solo berupa nasi gurih disajikan bersama sayur labu siam, opor ayam dan pasta santan. Rasanya nikmat dan gurih 🙂

Peta wisata Wonogiri diambil dari sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s