Pesona Lampu Colok

Menjelang malam tujuh likur (malam 27 Ramadhan), masyarakat Melayu di pesisir Riau dan Kepulauan Riau memiliki tradisi unik yaitu menyalakan lampu colok. Lampu colok merupakan gapura dari bambu berbentuk miniatur masjid yang dihiasi puluhan lampu minyak. Gapura ini didirikan secara bergotongroyong oleh warga desa secara swadaya. Lampu colok biasanya didirikan di pintu masuk tiap-tiap kampung dan di sepanjang jalan kampung.

Pada awalnya lampu colok dibuat dari lampu berbahan damar. Konon lampu colok dibuat untuk menyambut para malaikat yang turun ke bumi saat malam Lailatul Qodar. Malam Lailatul Qodar merupakan malam yang sangat dimuliakan umat Islam saat bulan Ramadhan.

Hari itu saya janjian dengan kak Ochie, kawan kantor saya untuk berkeliling kota menyaksikan lampu colok. Kami berangkat naik mobil selepas sholat Isya, ikut juga mama kak Ochie dan para kurcaci, sebutan untuk para keponakan kak Ochie. Saya duduk  di depan. Adik kak Ochie yang menyupiri mobil.

DSCN9259

Kurcaci 🙂

Kami memulai perjalanan dari kota Tanjung Batu menuju ke Sungai Ungar, memutar ke arah Sawang dan pulang lewat Tanjung Sari. Banyak juga warga yang sengaja berkeliling kota naik motor atau mobil menikmati indahnya lampu colok. Berikut beberapa lampu colok yang sempat kami abadikan.

DSCN9255

DSCN9271

DSCN9262

DSCN9265

Lampu berbentuk perahu

DSCN9269

DSCN9267

DSCN9251

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s