Belajar Minang di Padang Panjang

Sebuah acara wisata di sebuah tv nasional berhasil membawa saya ke kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Di kota kecil ini terdapat sebuah tempat wisata pendidikan dan budaya bernama Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang.

Padang Panjang adalah salah satu kota terkecil di Indonesia dengan luas hanya 23 km persegi. Terbagi atas 2 kecamatan dan 16 kelurahan. Terletak di persimpangan antara kota Bukittinggi menuju ke arah Padang dan Solok. Padang Panjang berhawa sejuk karena dikelilingi gunung Marapi (Merapi), Singgalang dan Tandikek (Tandikat) yang merupakan gugus pegunungan Bukit Barisan. Kota ini dijuluki kota Serambi Mekah karena banyaknya pondok pesantren sebagai tempat pendidikan agama Islam.

Salah satu magnet wisata kota ini adalah PDIKM  yang terletak bersebelahan dengan objek wisata Perkampungan Minangkabau (Minangkabau Village) dan Minang Fantasi, sebuah kompleks wisata theme park dan water boom. PDIKM hanya berjarak lima puluh meter dari jalan raya Padang-Bukittinggi. Jika Anda datang dari Padang, PDIKM terletak di sebelah kanan jalan.

     

     

PDIKM didirikan sebagai sebuah tempat wisata sejarah, budaya, sekaligus tempat belajar dan penelitian budaya Minangkabu. Disini disediakan berbagai informasi dan dokumentasi tentang sejarah dan budaya Minangkabau baik berupa buku-buku, foto dan mikrofilm.

PDIKM Padang Panjang menempati bangunan berupa sebuah rumah gadang yang mempunyai halaman luas dilengkapi taman. Lantai atas rumah dipakai sebagai ruang pamer sedang ruang dibawah adalah aula. Di depan rumah gadang terdapat sepasang rangkiangRangkiang adalah bangunan kecil menyerupai rumah gadang yang berfungsi untuk menyimpan gabah dan hasil panen. “Rangkiang sengaja dibuat dua buah sebagai cadangan jika ada sesuatu terjadi terhadap sebuah rangkiang misal terbakar atau kecurian, kita masih memiliki cadangan makanan di rangkiang satunya” begitu penjelasan seorang ibu pemandu saat menerangkan fungsi rangkiang.

Biaya masuk ke PDIKM gratis, saya cukup menulis data diri di sebuah buku tamu selanjutnya saya bebas berkeliling di dal rumah gadang melihat-lihat koleksi yang rata-rata berupa foto. Saat itu susana sedang sepi. Hanya saya pengunjung satu-satunya PDIKM saat itu. Jika berminat, Anda dapat meminta para pemandu yang ada untuk menemani berkeliling sekaligus bertanya-tanya segala sesuatu tentang budaya Minangkabau. Para pemandu disini yang semuanya ibu-ibu saya rasa cukup memahami seluk-beluk budaya Minangkabau yang saya tanyakan.

Bilik kamar rumah gadang

Saya pernah menanyakan mengapa kamar-kamar di rumah gadang berukuran sempit. “Kamar di rumah gadang sempit karena hanya dipakai anak gadis untuk berganti baju dan tidur. Kegiatan lainnya dilakukan di luar kamar. Sementara anak laki-laki kalau malam harus tidur di surau.” Jawaban ibu itu membuat saya mengangguk-angguk.

Kemudian saya bertanya kembali mengapa bendera suku Minangkabau berwarna merah,hitam dan kuning seperti bendera negara Jerman. Kembali ibu itu dengan ramah menjelaskan bahwa bendera Minangkabau atau lazim disebut marawa melambangkan tiga luhak atau daerah asal orang Minangkabau. Ketiganya adalah warna kuning melambangkan luhak Tanah Datar, warna merah melambangkan luhak Agam serta warna hitam melambangkan luhak Limopuluah Koto.

Puas melihat-lihat koleksi di lantai atas saya turun ke lantai bawah. Disini terdapat aula, ruang rapat, ruang kantor dan sebuah pelaminan adat Minang. Terdapat juga foto-foto pengantin dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Dari lantai bawah saya naik ke atas lagi dan pamit meninggalkan PDIKM.

Beberapa meter di samping PDIKM terdapat sebuah wisata yang memadukan wisata budaya dan wisata keluarga bernama Minangkabau Village (Perkampungan Minangkabau) dan Minang Fantasy atau sering disebut Mifan. Tiket masuk mifan adalah Rp 40.000 untuk waterboom dan Rp 80.000 untuk waterboom dan theme park. Saya membeli tiket yang Rp 80.000,-. Minangkabau Village dibangun menyerupai kompleks perumahan tradisional yang menggambarkan rumah-rumahadat di perkampungan suku Minangkabau pada zaman dahulu. Di situ terdapat rumah gadang, rangkiang, surau, medan nan bapaneh (arena budaya), balairung, rumah kincir dan lain-lain. Beberapa rumah adat disewakan untuk umum sebagai cottage.

    

Puas berkeliling melihat rumah-rumah adat, saya mencoba beberapa wahana permainan. Saya menaiki mini coaster, sepeda air, dan bianglala. Tidak ada yang terlalu ekstrem menurut saya. Kurang cocok untuk saya yang menggilai wahana ekstrem seperti beberapa wahana di Dufan, Jakarta.  Agak kecewa juga pihak tempat wisata tidak menjual tiket khusus theme park saja. Padahal, saya sedang tidak ingin bermain-main di water boom. Saya hanya memandang para pengunjung yang asyik mandi dan bermain sambil mengambil foto.

Tidak terasa  hari telah sore dan saatnya saya meninggalkan Padang Panjang menuju kota Bukittinggi. Saya keluar dari kompleks PDIKM dan segera mencari mobil jurusan Bukittinggi dari seberang PDIKM. Tidak berapa lama saya naik mobil saya melihat rumah makan Mak Syukur yang khusus menjual sate Padang Panjang. Sate Padang Panjang merupakan salah satu varian sate Padang. Sate padang memiliki ciri khas berupa sate yang disajikan bersama kuah yang kental.

Sate Padang Panjang, sumber : Wikipedia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s