Museum Karo Lingga, Bertahan di Tengah Kesederhanaan

Puas menyaksikan rumah-rumah adat Karo di Lingga. Saya meninggalkan desa Lingga menuju arah Kabanjahe. Lima menit saya naik mobil, mata saya menangkap sebuah museum tepat di depan sebuah bangunan rumah adat. Inilah museum Karo yang saya cari-cari. Buru-buru saya menyetop mobil yang saya tumpangi dan menunda kepulangan ke Kabanjahe.

Yayaasan Museum Karo Lingga, demikian bunyi papan nama yang membuat saya turun dari mobil. Saya melongok ke dalam dan tampak sebuah rumah panggung sederhana dengan atap bertumpuk khas Karo. Saat saya disana musik dari organ tunggal berbunyi nyaring. Telinga saya sibuk mencari asal suara. Rupanya sedang ada pesta pernikahan di sebuah jambur tidak jauh dari museum. Saya abaikan keramaian itu meski saya cukup penasaran dengan prosesi pernikahan adat Karo.

Bangunan seperti rumah adat yang berada di depan museum rupanya sebuah gereja. Tepatnya sebuah gereja Katholik bernama Gereja Santo Petrus Lingga. Bangunan utama gereja menyerupai rumah adat Karo dilengkapi dengan menara lonceng dengan lambang salib di puncaknya.

Museum Karo Lingga menempati sebuah rumah sederhana. Saya perlu menaiki tangga kayu dan melintasi beranda berlantai bambu. Memasuki museum, tampak di hadapan sebuah ruangan sangat sederhana menyerupai ruang tamu sebuah rumah. Disitu dipajang semua koleksi museum. Saat itu hanya ada dua pengunjung  yang sedang melihat-lihat kolesi museum. Saya masuk dengan ragu.

Tidak berapa lama saya melihat-lihat isi museum muncul seorang gadis kecil seumuran SD dari ruang belakang. Rupanya dia anak sang juru kunci museum ini. Dia sesekali bercerita tentang koleksi museum. Museum ini dibangun pada tahun 1977 atas inisiatif G.H. Mantik, seorang pejabat di Kodam II Bukit Barisan lalu dibuka pada tahun 1989. Selanjutnya dikelola secara swadana oleh Yayasan Museum Karo Lingga.

Koleksi museum

Koleksi museum berjumlah 206 buah, terdiri atas berbagai jenis uis kain tenun khas Karo, gundala-gundala (topeng Karo), mata uang, peralatan dapur, peralatan pertanian, peralatan musik, peralatan berburu, peralatan upacara adat, dan peralatan pengobatan. Semuanya menggambarkan berbagai perlengkapan hidup yang dulu sering dipakai orang Karo dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya kurangnya biaya perawatan dan minimnya perhatian pemerintah membuat penataan museum ini terkesan ala kadarnya. Saya kurang memahami fungsi benda-benda yang ditampilkan karena minim keterangan. Beberapa koleksi dibiarkan berdebu dan kotor karena hanya diletakkan dalam kotak kaca biasa. Itupun tanpa tampilan yang menarik. Parahnya lagi tongkat tunggal panaluan dipajang begitu saja tanpa dimasukkan ke dalam lemari. Datang ke museum ini seakan menggugah rasa keprihatinan saya akan ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah akan pentingnya menjaga warisan budaya. Setelah berkeliling ruangan saya mengisi kotak donasi dan pergi keluar museum.

Di seberang sana saya melihat acara pernikahan Karo (erdemu bayu) masih berlangsung. Setelah melihat kemeriahan pesta dari jauh dan mengambil foto, tidak terlalu lama angkot ke Kabanjahe datang. Saya lalu bergegas pulang.

Museum Karo Lingga

Alamat : Desa Lingga, Kec. Simpang Empat, Kab. Karo (depan gereja Katholik St. Petrus Lingga)
Jam buka : Senin – Sabtu : 09.00 – 16.00, Minggu : Tutup
Harga tiket masuk : Sukarela

Lihat juga : Desa Budaya Lingga

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s