Gundaling dan Indahnya Sinabung dan Sibayak

Dijuluki Puncak-nya Sumatera Utara, bukit Gundaling sering dikunjungi oleh warga Medan di saat akhir pekan. Tempat wisata di ketinggian 1575 meter di atas permukaan air laut ini konon dulu menjadi tempat liburan favorit para meneer dan noni Belanda.

Mobil reyot yang saya tumpangi berhenti di tugu perjuangan kota Berastagi. Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke dinas pariwisata kabupaten Karo di dekat tugu. Sekedar memastikan informasi yang saya dapatkan dari buku Lonely Planet Indonesia yang saya tenteng dengan situasi lapangan terkini.
Saya berusaha menyapa ramah petugas dinas pariwisata. Mereka memberikan penjelasan dan menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Di situ perhatian saya tertuju kepada miniatur rumah adat Karo, siwaluh jabu. Setelah meminta brosur, saya bergegas pamit. Tujuan saya selanjutnya adalah puncak Gundaling.
     
Untuk menuju ke Gundaling saya cukup sekali naik angkot ke puncak Gundaling. Sepanjang perjalanan saya melihat indahnya bebungaan yang dijajakan di tepi jalan dan pohon pinus di kiri kanan jalan. Ada juga beberapa orang yang menuju puncak bukit dengan menaiki kuda. Jalan semakin menanjak dan saya diturunkan di dekat pintu masuk bukit Gundaling.
   
Setelah membayar tiket, saya melangkahkan kaki ke dalam bukit. “Selamat datang di Bukit Gundaling” gumam saya bahagia dalam hati. Inilah tempat yang sering dikatakan para pelancong di internet itu. Karena bukan hari libur, ditambah dengan hujan yang baru turun membuat Gundaling agak sepi. Saya berjalan perlahan; menghirup udara segar pegunungan. Saya berkeliling menikmati setiap jengkal tanah yang saya lalui. Memandang bebungaan yang tumbuh di sekeliling yang diterpa angin sepoi-sepoi. Beberapa pedagang makanan mencoba menawarkan dagangannya kepada saya, tetapi saya sedang tidak berselera makan.
Sambil berjalan, saya kembali mengamati keadaan sekitar. Berharap saya akan menemui monyet, satwa liar penghuni Gundaling. Namun, saya belum beruntung saat itu.
Patung Puteri Gunung beru Patimar

Perhatian saya kemudian beralih kepada patung Pawang Ternalem dan Puteri Gunung beru Patimar. Mereka adalah tokoh dalam cerita rakyat Karo. Dikisahkan bahwa Puteri Gunung adalah seorang gadis cantik di Jenggi Kemawar. Namun, dia menderita sakit yang sukar dicari obatnya. Satu-satunya obat adalah madu di pohon Tualang Simande Angin.

Ayah Puteri Gunung lalu mengadakan sayembara. Siapa saja yang bisa mengambil madu di pohon tersebut akan dijadikan menantunya. Banyak pemuda mencoba memanjat pohon itu tetapi semuanya tewas karena pohon tersebut angker.

Sampai kemudian datang seorang pemuda buruk rupa bernama Pawang Ternalem. Pawang Ternalem berkat kesaktiannya  berhasil memanjat pohon. Setelah berhasil mengambil madu dia meniup seruling untuk memberitahu keberadaannya kepada penduduk kampung. Puteri Gunung akhirnya sembuh setelah meminum madu pemberian Pawang Ternalem. Pawang Ternalem tiba-tiba berubah wujud menjadi pria tampan dan dia menikah dengan Puteri Gunung.

Kota Brastagi dan gunung Sibayak
Mengunjungi puncak Gundaling, saya bisa melihat panorama kota Brastagi di kaki puncak gunung Sibayak. Indah sekali. Gunung berapi setinggi 2.094 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu terlihat biru tanpa asap. Meski masih aktif, Sibayak memang sudah lama sekali tidur dalam diam. Kata Sibayak dalam bahasa Karo berarti “raja”. Konon dulu Tanah Karo diperintah oleh lima orang raja yang wilayah kekuasaannya di sekitar gunung Sibayak.
 
Selain Sibayak, satu lagi pesona puncak Gundaling adalah gunung Sinabung. Dibanding “adiknya” gunung Sibayak, gunung Sinabung lebih aktif. Gunung berapi setinggi 2.460 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini meletus tahun 1600 dan terakhir meletus bulan Agustus dan September 2010. Dua belas ribu warga di kecamatan Namanteran diungsikan ke Brastagi dan Kabanjahe. Debu vulkaniknya menyelimuti sebagian kota Medan. Sayangnya saat saya memandang ke puncaknya, Sinabung tampak malu-malu. Asap tebal menyelimuti lereng sampai ke puncaknya.
Hari telah beranjak sore dan saya bergegas meninggalkan Gundaling. Tempat ini akan selalu tersimpan di hati saya. Karena saat itu bukan hari libur, suasana Gundaling relatif sepi dari pengunjung. Banyak kedai makan termasuk sebuah kedai pecal tutup. Beberapa kios oleh-oleh dan souvenir tidak tampak sebuah kesibukan. Saya lalu menyetop sebuah mobil jurusan pajak (pasar) Brastagi.
Perut saya lapar minta diisi dan saya makan bakso di dekat pajak Brastagi. Tidak terlalu enak tetapi cukup mengenyangkan. Hari sudah gelap saat saya meninggalkan kota Brastagi menuju Medan.

Bukit Gundaling
Jl. Puncak Gundaling, Brastagi, Kab. Karo
Harga Tiket Masuk : Rp. 3.000
Jam Beroperasi : buka setiap hari, 09.00 – 15.00

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s