Bengkalis, Ironi Kabupaten Terkaya di Indonesia

Laks’mana Raja di Laot

bersemayam di Bukit Batu

Ahai hati siapa

Ahai tak terpaot

mendengar lagu zapin Melayu

Sekelumit lagu Melayu yang pernah dipopulerkan oleh Iyeth Bustami ini saya pikir hanya lagu biasa. Sampai akhirnya ketika saya mengunjungi kota Bengkalis saya menyadari sosok Laksamana Raja di Laut memang pernah hidup pada abad ke-18. Laksmana Raja di Laut adalah seorang panglima kerajaan Siak. Beliau hidup dalam cerita lisan masyarakat Bengkalis sebagai pahlawan yang membela kebenaran, memerangi perompak-perompak yang dulu sering membuat keributan di selat Melaka. Sekarang nama Lakasmana Raja di Laut diabadikan menjadi sebuah nama gedung di kota Bengkalis.

Laksamana Raja di Laut atau sering disebut Datuk Laksamana I mewarisi keberanian dari ayahnya yang keturunan Bugis dengan ibu berdarah Melayu Bengkalis. Beliau dilahirkan dengan nama Encik Ibrahim. Memang sekarang ini tidak ada yang tersisa dari peninggalan sang Laksamana kecuali makam zuriyat (keturunannya) di desa Sukajadi, kecamatan Bukit Batu. Disini terdapat Datuk Laksamana III dan Datuk Laksamana IV. Kedua Makam ini terletak di belakang Masjid Jami’ Al Haq. Tak jauh dari mesjid ini berdiri juga rumah Datuk Laksamana ke IV. Rumah ini berbentuk panggung dan berarsitektur Melayu. Di depan rumah terpancang dua buah meriam peninggalan Datuk Laksamana I.

Saya pernah mengunjungi kota Bengkalis pada tahun 2009 sepulang dari perjalanan ke Dumai. Kota Bengkalis merupakan ibukota Kabupaten Bengkalis. Kota Bengkalis sendiri terletak di pulau Bengkalis. Dulu Bengkalis merupakan sebuah kabupaten amat luas di Riau sebelum dimekarkan menjadi kabupaten Bengkalis, kabupaten Siak, kabupaten Rokan Hilir, kabupaten Kepulauan Meranti dan kota Dumai.

Di Bengkalis saya menginap di rumah dinas kantornya Rudi kawan kuliah saya dulu. Kantornya sendiri terletak tidak jauh dari pelabuhan Bandar Sri Laksamana, pintu masuk utama kota Bengkalis dari Riau daratan. Pelabuhannya besar dan megah. Pelabuhan ini juga melayani pelayaran ke Melaka, Malaysia.

Di Bengkalis, Rudi bekerja di Pos Pelayanan Pajak Bengkalis. Agak lucu juga melihat kata Pos di bawah kata Kantor. Hal ini karena Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bengkalis terletak di kota Dumai, bukan di Bengkalis. Kantor Rudi memiliki sebuah rumah dinas yang letaknya menyambung dengan kantor. Bangunan rumah dinas cukup tua dan banyak biawaknya di halaman belakang 😦

Bengkalis merupakan salah satu kabupaten terkaya di Indonesia. Disini terdapat ladang minyak terbesar di Indonesia dengan kulitas nomor dua terbaik di dunia. Salah satu perusahaan minyak di Bengkalis adalah PT Chevron Pacific Indonesia. Ladang minyak sebenarnya terdapat di kota Duri kecamatan Mandau di Riau daratan, bukan di pulau Bengkalis. Sehingga pusat perekonomian Bengkalis terpusat di kota Duri. Kota Bengkalis berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Meski demikian masyarakat Mandau dan daerah-daerah lain merasa hasil pembangunan belum merata dan hanya terpusat di wilayah pulau Bengkalis. Hal ini memicu aksi unjuk rasa menuntut pemekaran kabupaten Mandau dari kabupaten Bengkalis.

Saya seharian berkeliling kota Bengkalis dan menemukan banyak sekali gedung-gedung megah milik pemerintah mulai dari pelabuhan, supermarket, kantor Bupati, gedung Laksamana Raja di Laut, arena olahraga dan masjid. Semuanya megah dan indah. Jalan-jalan juga mulus. Namun suatu saat ketika saya melintasi kota Duri jalan-jalan banyak yang rusak. Padahal pendapatan utama kabupaten Bengkalis dari kota Duri. Ironis.

Kantor bupati Bengkalis
Rumah jabatan bupati Bengkalis
Rumah jabatan bupati Bengkalis

Bengkalis tidak hanya mempunyai bangunan-bangunan megah. Disini juga terdapat beberapa bangunan peninggalan Belanda. Salah satunya huis van behauring atau sering disebut rumah orang rantai.

Huis Van Behauring Rumah Orang Rantai Gambar dari sini

Rumah ini berfungsi sebagai penjara pada zaman Hindia Belanda. Bangunan ini dibangun pada tahun 1810 untuk memenjarakan raja, tokoh masyarakat dan siapa saja yang menentang penjajahan. Para tahanan tidak hanya berasal dari pulau Bengkalis, tetapi juga dari berbagai daerah di pulau Sumatera. Para tahanan dirantai kedua kakinya biar tidak bisa kabur. Dari situlah sebutan rumah orang rantai berasal.

Menjelang akhir sore, Rudi mengajak ke pantai Perepat Tunggal. Meski pasir pantai kurang bersih, pantai ini ramai sekali. Disini terdapat sebuah dermaga yang sering dipakai masyarakat Bengkalis untuk melihat matahari terbenam. Di depan sana, para nelayan masih sibuk mencari ikan. Sementara itu perlahan-lahan matahari terbenam di antara awan. Malam datang dan saya harus pergi meninggalkan kota Bengkalis esok pagi.

Iklan

4 comments

  1. ah, keren. tulisan ini semakin membuatku penasaran mengenai hubungan raja-raja Melayu dengan bangsa-bangsa kolonial. 😀 apalagi ternyata Laksmana Raja di Laut itu pernah hidup. Tapi…makamnya dimana? Dan bagaimana akhir kisah hidupnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s