Sungai Penuh; Penuh Cerita

Sudah enam bulan ini saya tinggal di kota Sungai Penuh. Kota ini dibentuk dari pemekaran kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Kota ini terletak di ujung barat provinsi Jambi. Diperbatasan provinsi Jambi dengan Sumatera Barat dan Bengkulu. Sungai Penuh terbentang mulai dari punggung pegunungan Bukit Barisan sampai dengan lembah Kerinci. Sekitar 60% dari 39km luas kota Sungai Penuh merupakan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang dilindungi pemerintah. Kota ini berhawa sejuk.

Aksara incung

Penduduk Sungai Penuh mayoritas suku Kerinci. Ada juga pendatang dari Minangkabau, Batak, Jawa dan Melayu Jambi. Sistem yang dipakai adalah matrilinial seperti di Minangkabau. Bahasa orang Sungai Penuh adalah bahasa Kerinci. Bahasa Kerinci terpengaruh bahasa Jambi dan Minang. Namun sama sekali berbeda dengan bahasa Jambi maupun Minang. Ada puluhan dialek bahasa Kerinci sehingga antar desa disini bisa lain pula bahasanya. Tulisan Kerinci disebut incung, dulunya dibuat dengan pengerat di bambu dan tanduk kerbau untuk menuliskan adat istiadat dan sejarah Kerinci. Tulisan incung sekarang hanya dipakai pada papan nama kantor dan jalan di lingkungan pemerintah kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh.

Ikon kota ini adalah sebuah masjid kuno yang bernama Masjid Agung Pondok Tinggi. Masjid ini merupakan masjid tertua di kota Sungai Penuh. Letaknya di jalan Depati Payung kelurahan Pondok Tinggi. Masjid ini dibangun pada tahun 1874 dengan dinding anyaman bambu dan atap ijuk. Renovasi dilakukan tahun 1890 dengan mengganti dinding dengan kayu dan lantainya didatangkan langsung dari Belanda. Masjid ini dibangun tanpa paku, hanya menggunakan pasak.

Pemandangan kota dari puncak Bukit Sentiong

Jika malam minggu tiba, salah satu tempat yang ramai dikunjungi muda-mudi adalah Bukit Sentiong. Dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan kota dan jika malam pemandangan akan berganti dengan lampu-lampu indah yang menyala dari seluruh penjuru kota. Jalan menuju bukit Sentiong cukup curam apalagi sebelum puncaknya.

Danau Kerinci dilihat dari puncak bukit Khayangan

Satu lagi wisata andalan kota ini adalah Bukit Khayangan. Inilah titik tertinggi di Sungai Penuh. Dari puncaknya kita dapat melihat indahnya danau Kerinci di kejauhan, sawah yang luas membentang dan perbukitan yang mengelilingi kota Sungai Penuh. Jika kita beruntung kita dapat mendengar bunyi hewan-hewan seperti monyet dan siamang. Jika kita pergi ke Bukit Khayangan pada sore hari seringkali kabut menutupi pandangan seolah-olah sedang berada di surga/khayangan. 😀

Mie ayam kental

Berbicara mengenai makanan khas jika kita berkeliling kota banyak terdapat rumah makan Padang karena banyak perantau dari Minang disini. Makanan khas Sungai Penuh adalah dendeng batokok, yaitu dendeng yang dipukul-pukul dan dipanggang dalam bara api. Rasanya lebih ‘berasap’ daripada dendeng balado. Selain masakan Minang terdapat juga masakan Melayu, Palembang, Jawa dan lain-lain. Khusus mie ayam, disini kuahnya lebih kental daripada di Jawa dan dagingnya lebih banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s