Rumitnya Pembuatan Angklung

how-to-make-angklung

Angklung, musik tradisional dari Jawa Barat ini telah dikenal sejak zaman nenek moyang orang Sunda kuno. Dulunya angklung merupakan instrumen yang dipakai dalam upacara keagamaan. Angklung dibunyikan untuk mengundang Dewi Sri (dewi padi/kesuburan) untuk turun ke bumi dan memberikan kesuburan pada tanah yang akan ditanami. Angklung yang dipergunakan memakai titi nada tritonik (tiga nada), tetra tonik (empat nada) dan penta tonik (5 nada).  Angklung jenis ini seringkali disebut dengan istilah angklung buhun yang berarti “angklung tua” yang belum terpengaruhi unsur-unsur dari luar . Hingga saat ini di beberapa desa di Jawa Barat masih dijumpai beragam kegiatan upacara yang mempergunakan angklung buhun, diantaranya: pesta panen, seren taun (upacara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan selama setahun untuk disimpan ke dalam lumbung), nadran (labuh sesaji), helaran, turun bumi, sedekah bumi  dll.

Cara membuat angklung adalah sebuah proses yang panjang dan rumit yang mebutuhkan keuletan dan ketelitian tingkat tinggi. Dimulai dari proses pertama yaitu pemilihan bahan. Bahan utama berupa bambu dipilih berdasarkan usia yaitu minimal 4 tahun dan tidak lebih dari 6 tahun serta harus dipotong pada musim kemarau dari pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore hari. Nah, ribet kan.

Setelah memotong dasar dari pohon bambu, dengan ukuran kurang lebih 2-3 jengkal dari permukaan tanah, bambu harus disimpan selama sekitar 1 minggu sehingga bambu benar2 tidak berisi air. Setelah seminggu, bambu dipisahkan dari cabang-cabangnya dan dipotong menjadi berbagai ukuran tertentu. Kemudian bambu harus disimpan selama sekitar satu tahun untuk mencegah dari gangguan hama. Beberapa prosedur adalah dengan cara merendam bambu di genangan lumpur, kolam atau sungai, juga bisa dengan cara diasapi di perapian (diunun), dan prosedur modern yaitu dengan menggunakan cairan kimia tertentu.

Bagian-bagian angklung

Angklung terdiri dari 3 bagian:

Tabung Suara : bagian terpenting dari suatu angklung; adalah tabung suara yang menghasilkan intonasi.

Kerangka : kerangka tabung untuk tempat berdirinya tabung.

Dasar : berfungsi sebagai kerangka tabung suara.

Proses paling penting dalam pembuatan angklung selanjutnya adalah penyeteman. Penyeteman bermakna pembentukan tabung suara angklung. Ini adalah proses ‘membentuk’ bambu biasa menjadi sebuah menjadi tabung suara yang menghasilkan nada. Selanjutnya bagian bawah tabung angklung ditiup dan disamakan suaranya ke alat tuner. Terakhir adalah proses penyeteman suara dengan meninggikan dan menurunkan nada dengan membunyikan nadanya. Jika nada yang didapat dirasa kurang pas dilakukan proses  meninggikan nada dengan memotong bagian atasnya sedikit, dan menurunkan nada dengan menyerut kedua sisi bilah tabung dengan pisau.

Setelah masing-masing tabung suara memiliki nada, tabung harus diletakkan ke dalam rangka dan diikat dengan tali rotan. Bagaimana, panjang sekali kan proses membuat angklung. 🙂

Sumber dan grafis : http://www.angklung-udjo.co.id/

Foto : koleksi pribadi

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s