Belajar Sunda di Saung Angklung Udjo

Berbicara tentang Bandung, apa yang Anda pikirkan? Mall, factory outlet, mojang Bandung atau udara dingin? Bukan semuanya, kali ini Anda salah. Jawabannya adalah angklung. Yups..kota Bandung adalah kota angklung. Sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, Bandung juga dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Sunda. Salah satu sudut kota ini menawarkan wisata budaya yang cukup unik yaitu belajar memainkan angklung. Tempat tersebut adalah Saung Angklung Udjo di jalan Padasuka No. 118 Bandung.

Saung Angklung Udjo didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati dengan tujuan melestarikan budaya Sunda salah satunya angklung. Disini kita tidak hanya bisa memainkan alat musik angklung saja. Melainkan bisa melihat langsung proses pembuatan angklung, bahkan belajar budaya dan kesenian Sunda. Saung Angklung Udjo sangat terbuka untuk siapa saja yang tertarik untuk belajar budaya Sunda. Saya lihat disini ada beberapa turis asing yang katanya tinggal beberapa bulan untuk belajar tarian Sunda. Wah, mereka sangat perhatian dengan kesenian tradisional Indonesia. Kita??

Begitu saya memasuki kompleks Saung Angklung Udjo, atmosfer Sunda begitu terasa disini. Hampir seluruh bangunan disini memakai bahan utama bambu, mulai dari kantor, ruang pertunjukan, saung-saung yang menyediakan makanan, mushola. Bahkan tempat sampah juga terbuat dari anyaman bambu.

Masuk lagi ke dalam terdapat sebuah taman yang dinamai Taman Sunda. Dengan ditanami banyak sekali rumpun bambu, ditambah dengan adanya empang kecil dan saung di tengah rimbunnya pepohonan membuat hati ini berasa damai seperti di desa. Di ujung taman terdapat pohon-pohon kecil yang ditanam oleh turis-turis asing yang telah menyelesaikan ‘pelajaran’ kesenian Sunda di tempat ini.

Waktu menunjukkan pukul tiga sore dan  saya bergegas menuju balai pertunjukan untuk menyaksikan pertunjukan bambu petang sore itu.  Balai pertunjukan berupa panggung semi terbuka dengan penonton duduk membentuk formasi setengah lingkaran. Di depan penonton terdapat sebuah panggung sederhana dimana para penabuh gamelan (nayaga) duduk. Para penabuh gamelan itulah yang nanti akan mengiringi jalannya pertunjukan secara live.

Pertunjukan ini rutin diadakan setiap hari pada waktu sore hari dengan durasi dua jam penuh. Saya membeli tiket pertunjukan untuk wisatawan domestik sebesar Rp 50.000,- dan mendapatkan tanda masuk berupa kalung dari angklung. Harga tiket untuk turis asing sebesar Rp 100.000,- Meski tiket tidak bisa dibilang murah, namun ternyata banyak turis asing yang datang jauh-jauh untuk menonton pertunjukan ini. Para turis ini digandeng oleh sebuah agen wisata bekerja sama dengan Saung Angklung Udjo. Agen wisata tersebut memasukkan agenda menonton pertunjukan angklung ke dalam agenda wisata mereka. Oke, saatnya kita menyaksikan pertunjukan 🙂

Pertunjukan dimulai oleh pembawa acara seorang gadis berpakaian kebaya dan rok batik. Dia berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat lancar. Waktu itu hanya saya seorang warga Indonesia yang menyaksikan pertunjukan di antara puluhan penonton bule. Duh..miris. Penampilan pertama adalah wayang golek Sunda yang diiringi gamelan Sunda menampilkan potongan lakon Arjuna melawan raksasa. Lalu disambung dengan kuda lumping (di Jawa Barat ada kuda lumping juga ya, saya baru tahu). Pemain kuda lumping sepertinya masih seumuran anak SMP.

Setelah kuda lumping berlalu panggung dipenuhi dengan puluhan anak-anak mulai dari seumuran kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Mereka membawakan berbagai fragmen upacara adat Sunda. Ada seorang anak kecil dibawa dengan tandu dan para pengusungnya berjalan sambil menari. Mereka menyebutnya ‘helaran’. Saya sendiri kurang mengerti maksud tarian ini, yang jelas asyik saja buat dilihat.

Selepas ‘helaran’ panggung tiba-tiba sepi. Kali ini giliran dua gadis kecil menari topeng Cirebon. Tarian ini menggambarkan prabu Minakjingga yang tergila-gila dengan Ratu Kencana Wungu. Namun , disini hanya digambarkan prabu Minakjingga saja. Gerakan kedua penari sangat kompak dan lincah.

Tari topeng selesai lalu panggung kembali diramaikan oleh kehadiran anak-anak yang tadi sempat muncul di awal pertunjukan. Mereka tampil membawa masing-masing satu angklung. Inilah angklung orkestra. Dengan berkolaborasi bersama pemain gamelan Sunda dan pemain arumba (sejenis kolintang dari bambu) mereka membawakan beberapa lagu daerah yang cukup populer di Indonesia seperti Bungong Jeumpa, Ayam den Lapeh, Pak Ketipak Ketipung dan Apuse. Terdengar juga beberapa lagu internasional. Penampilan mereka sangat profesional, sepertinya mereka telah berlatih pertunjukan ini ribuan kali. Nyaris sempurna dan mengundang decak kagum 😀

Setelah lagu-lagu selesai dinyanyikan anak-anak itu membagi-bagi ke semua penonton termasuk saya masing-masing sebuah angklung.  Masing-masing angklung telah diberi tanda nada sendiri-sendiri. Seorang dirigen tampil ke tengah memperlihatkan notasi angka sebuah lagu yang ternyata berjudul ‘I have a dream” yang pernah dinyanyikan boyband Westlife. Dia menunjukkan kepada penonton dalam bahasa Inggris bagaimana cara memainkan angklung. Cara memainkannya cukup mudah. Bagian tengah kerangka dipegang dengan tangan kiri dan angklung digoyangkan dengan tangan kanan.

Kemudian setelah beberapa kali simulasi, barulah kami mengerti bagaimana membunyikan angklung dengan pas. Selanjutnya dirigen meminta kami membunyikan angklung sesuai dengan notasi angka yang dia tunjuk. Akhirnya terciptalah sebuah lagu instrumentalia angklung yang sangat harmonis. Para penonton yang hampir semuanya bule terkagum-kagum dengan musik yang sangat indah dari alunan angklung 🙂

Pertunjukan sore itu ditutup dengan menari bersama. Tanpa rasa takut anak-anak mengajak semua penonton menari bersama membentuk lingkaran. Anak-anak senang dan semua penonton puas. Harga tiket yang lumayan mahal sebanding dengan pertunjukan yang spektakuler selama dua jam penuh. Sebelum pulang saya dan beberapa turis asing membeli cinderamata yang dijual di dekat balai pertunjukan. Angklung dalam ukuran asli juga dijual disitu. Saya membeli sebuah angklung dan kaos bergambar angklung.

Disamping pertunjukan rutin setiap sore, Saung Angklung Udjo telah sering diminta untuk mengadakan pertunjukan angklung oleh berbagai pihak dan diundang kemana-mana baik di dalam maupun di luar negeri.

Saung Angklung Udjo

Jalan Padasuka No 118 Bandung, Jawa Barat

Telp.  (022) 7271714 , 022. 7101736

Situs Web : //www.angklung-udjo.co.id/

Agenda Acara :

Pertunjukan Bambu Petang : Setiap Hari Pukul 15.30 – 17.00 WIB

Tiket Pertunjukan Bambu Petang : Dewasa : Rp 50.000,- Anak : Rp 25.000,- Asing : Rp 100.000,-

Email : info@angklung-udjo.co.id

Lihat juga : Proses Pembuatan Angklung

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s