Mengenal Etnis Asli Sumatera Utara

 

Bangunan megah di pusat kota Medan tepatnya di Jalan HM Joni No. 51 Medan ini mungkin kurang diperhatikan oleh sebagian masyarakat Medan. Padahal di bangunan yang berwujud museum ini menyimpan warisan dan khasanah budaya Sumatera Utara yang tak ternilai. Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau yaitu Rp 1.500,- untuk umum dan Rp 750,- sebenarnya museum ini bisa menarik perhatian banyak pengunjung. Akan tetapi sebuah kisah klasik museum terjadi juga disini. Masyarakat enggan dan takut berkunjung ke museum karena mengira museum itu kotor, gelap dan horor. Tidak heran jika museum Sumut hanya ramai jika ada anak-anak sekolah yang mengadakan karyawisata.

Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi antara lain benda-benda prasejarah, benda-benda peninggalan sejarah kerajaan Hindu-Buddha, zaman kerajaan Islam, zaman penjajahan dan zaman kemerdekaan Indonesia. Ada juga koleksi berupa benda-benda etnografi dari negara Thailand hasil kerjasama dengan pemerintah kerajaan Thailand.  Selain itu museum negeri terbaik di Indonesia ini juga menyediakan sebuah ruangan khusus yang memajang foto gubernur Sumatera Utara dan foto para pahlawan nasional dari Sumatera Utara seperti Raja Sisingamangaraja XII, Adam Malik, dan Jenderal Besar AH Nasution. 

Bagian favorit saya di museum ini adalah etalase yang menyajikan pakaian adat suku-suku asli di Sumatera Utara, kain tenun khas Sumatera Utara misalnya kain ulos dan sejenisnya dan miniatur rumah-rumah adat. Dari sinilah awal kecintaan saya terhadap Sumatera Utara khususnya budaya Batak mulai bersemi 🙂

Berikut ini saya tampilkan galeri unsur-unsur budaya Sumatera Utara.

Masyarakat Sumatera Utara terdiri dari dari delapan etnis asli dan beberapa etnis pendatang seperti Jawa, Aceh, Minangkabau, Tamil, Arab dan Tionghoa. Etnis asli di Sumatea Utara terdiri dari etnis Melayu, Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak/Dairi, Nias dan Pesisir. Beberapa ahli memasukkan etnis Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak/Dairi sebagai etnis Batak karena memiliki banyak persamaan meskipun hal ini ditentang sebagian masyarakat.

      
Pakaian adat Melayu                                                        Miniatur pelaminan adat Melayu Deli

Etnis Melayu atau sering disebut Melayu Deli merupakan etnis pertama penghuni kota Medan. Mereka kebanyakan tinggal di pesisir pantai timur Sumatera Utara. Hampir seluruh anggota etnis Melayu memeluk agama Islam.

      
Pakaian adat Batak Toba                                                     Miniatur sopo(lumbung padi)
Horas…itulah sapaan khas etnis batak Toba. Mereka mempunyai kain tenun tradisional yang bernama ulos. Ulos sering dipakai dalam upacara adat baik dalam suasana suka maupun duka. Tiap-tiap ulos mempunyai kegunaan sendiri-sendiri. Masyarakat Batak Toba mempunyai sistem kekerabatan yang bernama marga. Hutagalung, Tambunan, Sitorus merupakan salah satu nama marga Batak. Masyarakat Batak Toba kebanyakan bermukim di seputar danau Toba seperti kabupaten Toba Samosir, Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.
     
Pakaian adat Karo                                                                    Miniatur rumah adat Karo
Suku Karo banyak mendiami dataran tinggi Karo di kabupaten Karo, sebagian kabupaten Dairi, Langkat dan Deli Serdang. Kain khas Karo disebut uis dan sapaan khas Karo adalah mejuah-juah.  Suku Karo diidentifikasi dari penggunaan nama merga yang disebut merga silima yaitu Sembiring, Ginting, Tarigan, Karo-karo dan Perangin-angin.
     
                    Pakaian adat Simalungun                                          Miniatur rumah adat Simalungun
Etnis Simalungun kebanyakan mendiami wilayah kabupaten Simalungun dan kota Pematang Siantar. Kain khasnya disebut hiou dan sistem kekeluargaannya adalah morga. Empat morga induk suku Simalungun adalah Sinaga, Saragih, Damanik, dan Purba. Meskipun demikian marga Sinaga dan Purba juga ditemukan pada suku Batak Toba.
     
          Pakaian adat Pakpak                                                     Oles, kain tenun khas Pakpak
Pakpak atau Dairi adalah etnis yang banyak mendiami wilayah kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat.

     

                          Pakaian adat Mandailing                                        Sopo Godang, rumah adat Mandailing

Suku Mandailing kadang disebut suku Angkola-Mandailing karena banyaknya persamaan antara suku Angkola dan Mandailing meskipun tetap saja ada perbedaan antara keduanya. Etnis Mandailing terdapat di wilayah Sumatera Utara bagian selatan seperti kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal dan kota Padang Sidimpuan. Sebagian besar etnis Mandailing memeluk agama Islam.

     

                   Pakaian adat Nias                                                      Makam kuno suku Nias

Suku Nias kebanyakan tinggal di kepulauan Nias, di sebelah barat pulau Sumatera. Suku yang terkenal dengan budaya megalitiknya ini mempunyai seni tradisi yang sangat populer bernama hombo batu (lompat batu)

Etnis Pesisir merupakan etnis campuran antara Melayu pesisir dengan etnis Minangkabau yang melahirkan budaya baru. Mereka tinggal di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara terutama kabupaten Tapanuli Tengah dan kota Sibolga. Dalam kehidupan sehari-hari mereka memakai bahasa Minangkabau dialek pesisir.

Museum Negeri Sumatera Utara
Jl. HM Joni No. 51 Medan, Sumatera Utara
Tiket : Rp 1.500,- (umum) Rp 750,- (pelajar/rombongan)
Jam Kunjungan Selasa-Minggu 08.30-12.00 dan 13.30-17.00

Iklan

13 comments

  1. Mantap…. museum nya keren. Tp,, knp yah pengunjung nya kurang rame ??? Saya harap museum ini akan lebih berkembang,,, pokok’a yg dtg k sini tdk akan menyesal. Dijamin 100%..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s