Painan (4) : Eksotisnya Jembatan Akar

Jambatan aka, begitulah masyarakat setempat menyebut jembatan ini. Jembatan akar merupakan sebuah jembatan alam yang terjalin dari lilitan akar dua buah pohon beringin besar di tepi sungai Bayang, Pesisir Selatan. Karena keunikannya, jembatan ini menjadi wisata andalan kabupaten Pesisir Selatan. Banyak wisatawan bahkan dari luar Sumatera Barat mendatangi objek wisata ini sekedar memenuhi rasa penasaran mereka akan kekuatan jembatan ini.

Jembatan ini berada tepat diatas sungai Bayang, menghubungkan kampung Puluik-puluik dengan kampung Lubuak Silau, desa Lubuak Silau, kecamatan Bayang Utara. Dari kota Painan dapat ditempuh selama lima belas menit ke arah Padang menuju Pasar Baru. Dari simpang tiga Pasar Baru kita belok kanan dan melanjutkan perjalanan tiga puluh menit ke arah jembatan akar di Bayang.

Sepanjang perjalanan dari Painan ke Pasar Baru saya disuguhi pemandangan jalan yang berliku-luku khas Sumatera Barat. Jalan cukup lebar dan mulus. Dari simpang tiga Pasar Baru ke Bayang kita saya melihat areal persawahan luas membentang. Semakin mendekati lokasi jembatan akar jalan akan semakin menanjak karena memasuki kaki bukit. Sebelum mencapai jembatan akar saya melewati makam pahlawan nasional dari Pesisir Selatan bernama Ilyas Ya’kub. Beliau adalah  adalah seorang ulama, politikus, wartawan dan aktivis pada masa awal kemerdekaan. Namanya diabadikan menjadi nama jalan, nama gedung olah raga dan sosoknya dibuatkan patung di jalan protokol kota Painan.

Jembatan akar menurut sejarahnya dibuat oleh Pakiah Sokan , seorang ulama pada tahun 1916 dengan tujuan untuk menghubungkan kampung Puluik-puluik dengan kampung Lubuak Silau yang terpisah oleh sungai Bayang.  Sebelum jembatan ini dibangun telah ada sebuah jembatan dari bambu. Namun arus deras aliran sungai Bayang sering merusak dan menghanyutkan jembatan bambu. Pakih Sokan akhirnya berinisiatif untuk menanam pohon jawi-jawi (semacam pohon beringin) di kedua sisi sungai. Beliau bernazar akan menyembelih kambing dan membuang darahnya di akar pohon jika kedua akar pohon menyatu. Atas kebesaran Alloh kedua akar pohon akhirnya menyatu dan Pakih Sokan melunasi nazarnya. Meski sudah bersatu jalinan akar pohon belum bisa langsung dilewati. Setidaknya butuh waktu 25 tahun hingga jembatan akar menjadi bentuk yang bisa dilihat sekarang ini.

Panjang jembatan ini adalah 25 meter dengan lebar 1,5 meter. Jarak antara permukaan sungai dengan dasar jembatan sekitar lima meter. Jembatan ini kuat menopang 10 orang secara bersamaan. Jembatan akar pernah dihantam arus sungai Bayang yang besar sehingga merusak sebagian badan jembatan. Oleh karena itu badan jembatan ditopang dengan kawat baja agar jembatan akar tidak condong ke bawah.

Mitos yang berkembang di jembatan akar adalah siapa saja yang mandi tepat di bawah jembatan akar akan enteng jodoh. Entah benar atau tidak yang jelas banyak sekali pasangan muda mudi yang pergi mengunjungi jembatan ini untuk melihat indahnya sungai Bayang yang airnya jernih kehijauan. Air sungai Bayang dalam dan deras dan sering dipakai untuk olahraga arung jeram. Di sungai ini juga terdapat ikan larangan artinya semua ikan disini dikeramatakan warga dan dilarang untuk diambil.

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s