Painan, No Pain (1)

Sekitar tiga bulan yang lalu saya menemani istri saya ke kantor imigrasi Padang buat bikin paspor. Kebetulan saat itu saya lagi ada tugas kantor selama seminggu disana. Jadi sementara saya bertugas, istri bisa ngurus paspor. Rencana Senin pagi kami ke imigrasi biar Jumat bisa diambil. Rupanya istri baru bisa ke imigrasi hari Selasa dan paspor bisa diambil hari Senin depan. Acara kantor selesai lebih cepat darim jadwal semula. Rabu sore kami harus pergi ke Jambi. So, paspor belum bisa kami ambil. Paspor harus diambil paling lama tiga bulan sejak tanggal pengurusan alias tanggal 16 Oktober.

Dua setengah bulan kemudian …

Dua bulan berlalu sejak kami ke imigrasi untuk mengurus paspor. Kami belum sempat pergi ke Padang lagi sejak saat itu. Ngga ada alasan lagi untuk tidak ke Padang. Jadi kali ini agendanya cuma satu : ambil paspor sekalian jalan-jalan. Tidak ada agenda lain selain jalan-jalan. Titik.

Ada beberapa alternatif jalan dari Sungai Penuh menuju Padang. Jalan terdekat yaitu lewat Muara Labuh (Solok Selatan). Kondisi jalannya relatif mulus. Dari Sungai Penuh ke Solok Selatan relatif tidak banyak tikungan. Dari Solok Selatan jalan mulai berkelok-kelok sampai Padang. Waktu tempuh sekitar 6-7 jam.

Jalur lain ke Padang adalah lewat Tapan (Pesisir Selatan). Dari Sungai Penuh jalan berkelok-kelok dan rusak bahkan sebagian sering longsor. Mulai perbatasan Sumatera Barat – Jambi jalan mulai mulus. Jika sudah sampai Tapan kita belok kanan ke arah Padang. Jika belok kiri kita akan sampai Bengkulu.

Kali ini kami memilih ke Padang lewat Tapan dan akan singgah dua hari di Painan. Bukan tanpa alasan kami ke Painan. Sudah dua kali jalan ke Padang lewat Muara Labuh dan hasilnya istri saya mabuk duda. Jalan yang berliku-liku bikin mabuk. Jalur ke Painan dianggap lebih ‘aman’.

Saat yang ditentukan tiba, mobil travel (minibus) yang sudah kami pesan seminggu sebelumnya datang. Mobil Safa Marwa jurusan Sungai Penuh – Painan – Pasar Baru datang menjemput pukul sembilan pagi. Ongkos ke Painan Rp 55.000,- / orang. Perjalanan Sungai Penuh ke Tapan ditempuh selama dua jam. Beberapa kilometer sebelum masuk Tapan kami singgah di sebuah rumah makan Padang. Di samping rumah makan tersebut mengalir sebuah sungai berwarna kehijauan yang bernama Sungai Tenang.

Sungai Tenang

Habis makan kami melanjutkan menyusuri perkampungan di Pesisir Selatan. Meskipun sudah memasuki wilayah Sumatera Barat, tidak banyak kami menjumpai rumah bagonjong (rumah gadang yang beratap runcing khas Minang). Rumah gadang hanya kami temui sesekali di kantor pemerintah. Mulai memasuki kawasan Air Haji kami melihat indahnya air laut Samudra Hindia yang membiru di sebelah kanan sana.

Pukul lima sore kami memasuki wilayah kota Painan. Painan merupakan ibukota kabupaten Pesisir Selatan. Kami segera menuju KP2KP Painan. Tempat tujuan pertama kami di sini. Dengan diantarkan Bang Ucok dan adiknya, kami menuju hotel Anordio, tempat kami menginap.  Tarif termurah untuk kamar superior adalah Rp 150.000 (tanpa tv). Kami mengambil kamar standar (Rp 225.000; pakai tv dan ac).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s