Painan (2) : Pulau Cingkuak; Onrust-nya Sumatera Barat

Hari kedua di Painan kami ingin menjelajahi tempat wisata paling populer di kota Painan; pantai Carocok. Pantai Carocok terletak di pusat kota Painan dan berjarak hanya lima menit berjalan kaki dari Pasar Inpres Painan.  Untuk masuk ke pantai Carocok kita perlu membayar Rp 3.000,-. Namun, karena bang Ucok kawan saya merupakan penduduk asli Painan kami tidak dikutip tiket waktu masuk ke pantai Carocok. Hehehe…

Setelah berjalan melewati loket pembelian tiket kami berjalan menuju pulau Batu Kereta. Disebut batu kereta karena di ujung pulau ini terdapat batu besar yang menyerupai lokomotif kereta. Pulau Batu Kereta terletak hanya sekitar seratus meter dari pantai Carocok dan dapat dijangkau melewati jembatan penghubung. Jika air laut sedang surut kita dapat berjalan menyusuri garis pantai Carocok menuju pulau Batu Kereta.

Dari dermaga pulau Batu Kereta terdapat banyak perahu motor yang menunggu pengunjung yang akan berwisata ke pulau Cingkuak. Tarif perahu Rp 10.000,- perorang pulang-pergi. Cukup lima menit kita sudah sampai ke pulau Cingkuak.

Perahu motor dari pulau Batu Kereta menuju pulau Cingkuak
Pulau Batu Kereta dilihat dari pulau Cingkuak

Sesampai di pulau Cingkuak perahu akan kembali lagi ke pulau Batu Kereta. Perahu akan datang kembali untuk menjemput pengunjung setelah tiga puluh menit. Jika perahu tidak kunjung tiba setelah tiga puluh menit maka kita bebas memilih perahu mana saja untuk kembali ke pulau Batu Kereta. Gratis 😀

Pulau Cingkuak bermakna pulau monyet dalam bahasa Minangkabau. Dikatakan dulu di pulau ini banyak ditemukan monyet. Monyet-monyet liar itu akhirnya dipindahkan ke luar pulau Cingkuak.

Pulau Cingkuak menurut saya sangat mempesona. Pasirnya putih dan airnya jernih. Keadaan pulau ini juga masih sangat alami. Meskipun pulau ini nampak sangat ramai oleh para pedagang dan wisatawan, sebenarnya pulau ini tidak dihuni. Pada malam hari para pedagang dan pengunjung akan meninggalkan pulau ini karena mereka rata-rata tinggal di kota Painan. Pulau Cingkuak ramai untuk dijadikan tempat berkemah saat tahun baru atau jika dipakai oleh anak-anak sekolah.

Tidak cuma cantik, pulau Cingkuak memiliki nilai historis tinggi. Di dalam pulau ini terdapat sisa benteng pertahanan yang dibangun zaman penjajahan Portugis. Benteng ini sebagai bukti perjuangan rakyat Pesisir Selatan melawan penjahah saat itu. Selain itu di pulau ini terdapat juga makam kuno Madame van Kempen, istri salah seorang pembesar Belanda pada zaman kolonial. Tidak salah jika pulau ini disebut pulau Onrust dari Sumatera Barat.

Meski kondisi benteng dan makam kuno tak lagi utuh, hal itu tidak memudarkan rasa kekaguman saya terhadap pulau ini. Hal yang saya rasa cukup mengganggu adalah banyaknya nyamuk yang mengganggu (menggigit) saya sewaktu menjelajah benteng ini.

Makam Madame van Kempen

Puas melihat benteng dan makam kuno saya kembali ke pesisir pantai. Selain mandi dan menikmati pasir putih kita dapat melakukan berbagai macam olah raga air disini. Misalnya jet ski dan banana boat. Awalnya saya ingin mencoba menaiki banan boat karena sangat menantang dan belum pernah naik sebelumnya. Tetapi melihat permainan ini kurang seru jika dibandingkan yang pernah saya lihat di tv, saya membatalkannya. Disini kapal yang menarik perahu berjalan lambat sekali dan para ‘penumpang’ dijatuhkan di tepi pantai, bukan di tengah laut . 😦

Hari telah siang dan saya kembali ke Carocok menumpang perahu motor.

Iklan

2 comments

  1. waooww….good, saya ikuti terus postinganya, jarang ada bloger yang mau post hal-hal sperti ini.. saya nantikan postingan lainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s