Museum Balaputeradewa

Baru semalam saya tiba di kosan Edwin di Palembang ketika saya memutuskan untuk pergi ke museum Balaputradewa.  Dulu saya pernah ke museum ini waktu  ikut diklat prajab di Palembang. Alasan saya ingin ke museum ini lagi yaitu ingin memotret semua koleksi museum. Dulu pertama kali kesini saya hanya mempunyai ponsel murah berkamera VGA dengan kapasitas memori hanya 2MB curhat. Jadi semua yang saya lihat di museum hanya bisa saya rekam dalam otak.

Sebelum sampai Palembang saya sudah mengontak Tosa kawan kuliah saya dulu untuk menemani saya keliling kota. Setelah sarapan Tosa datang menjemput saya di kosan Edwin. Saya lalu pergi dengan Tosa ke museum naik motor. Sebenarnya Tosa saya paksa agar mau menemani saya ke museum hehe.  Dari kosan Edwin di pusat ke kota ke museum Balaputeradewa di kawasan Palimo kami tempuh selama kurang lebih dua puluh menit.

Sampai di museum baru saya tahu jika baterai kamera saya masih saya charge di rumah Edwin. Buru-buru saya suruh Tosa balik ke kosan Edwin untuk mengambil baterai. Satu menit dua menit hingga satu jam saya menunggu Tosa tetapi batang hidungnya tidak nampak juga. Rupanya dekat kosan Edwin lagi hujan deras dan Tosa tidak membawa jas hujan sehingga dia tertahan disana. Buset dah, sama-sama di satu kota sementara disini panas terik tetapi di lain tempat hujan deras.

Beberapa menit kemudian Tosa datang dengan motor agak basah. Ternyata benar jika disana sedang hujan. Tanpa membuang waktu kami segera masuk ke museum. Bangunan utama museum ini mengadopsi bentuk rumah limas rumah tradisional di Sumatera Selatan. Begitu masuk lobi museum kami disambut relief  tari Gending Sriwijaya.

Tarian ini merupakan tari selamat datang di Sumatera Selatan. Tari ini menggambarkan keceriaan gadis-gadis Palembang dalam menyambut tamu yang datang ke Sumatera Selatan. Pada akhir tarian seorang penari akan menyuguhkan kapur sirih kepada tamu yang datang. Kapur sirih yang diberikan harus diambil sebagai tanda ucapan terimakasih.

Beranjak ke dalam museum kami disuguhi berbagai koleksi museum. Dimulai dari masa prasejarah, masa kerajaan Sriwijaya, masa kesultananan Palembang serta masa kemerdekaan. Pada masa prasejarah Sumatera Selatan merupakan sebuah daerah yang banyak dihuni oleh manusia purba. Berbagai temuan benda-benda megalitikum di pedalaman Sumatera Selatan terutama di Lahat dan Pagaralam menguatkan teori ini. Beberapa benda megalitikum dari Pagaralam dipamerkan disini seperti figur manusia dan figur beberapa hewan.

Berlanjut ke masa sejarah yaitu masa ketika kerajaan Buddha Sriwijaya mulai berkuasa di Palembang. Saat itu kota Palembang merupakan pusat kerajaan Sriwijaya sekaligus tempat penyebaran agama Buddha. Banyak prasasti yang membenarkan anggapan ini. Meski demikian sebagian ahli masih kurang setuju bahwa pusat kerajaan Sriwijaya terdapat di Palembang karena kurangnya bukti arkeologi. Pada masa kerajaan Sriwijaya tepatnya pada pemerintahan raja Balaputeradewa konsep negara kesatuan mulai dikenal.

Kami selanjutnya menuju ke bagian sejarah Palembang pada masa kesultanan. Setelah  kemunduran Sriwijaya dan masuknya pengaruh Islam oleh pedagang dari Arab dan India Palembang dikuasai oleh kesultanan Islam yang bernama kesultanan Palembang Darussalam. Raja yang terkenal adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Beliau terkenal karena kegigihannya melawan penjajah Belanda di Bumi Sriwijaya. Namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional di Palembang.

Beranjak ke dalam kami melihat kerajinan khas Palembang seperti kain songket Palembang. Percaya atau tidak kain songket Palembang justru banyak dipakai oleh orang Batak selain orang Palembang untuk keperluan acara pernikahan. Sayangnya waktu saya ke museum ini sedang dilakukan renovasi besar-besaran sehingga kami tidak bisa mengakses semua ruangan museum.

Selain menampilkan budaya dan sejarah Sumatera Selatan museum ini juga menampilkan sekelumit hubungan antara kerajaan Sriwijaya dengan kesultanan Melaka di sebuah ruangan bernama Galeri Melaka. Galeri ini dibuat atas kerjasama pemerintah kota Palembang dengan pemerintah negara bagian Melaka Malaysia. Disini dikisahkan bahwa seorang raja Sriwijaya bernama Parameswara merupakan raja pertama yang membangun negeri Melaka.

Beranjak keluar museum kami menjumpai dua buah rumah adat Sumatera Selatan yaitu rumah limas khas Palembang dan satu lagi rumah adat daerah pedalaman (saya lupa daerah mana).  Rumah limas merupakan rumah panggung yang biasanya dihuni oleh bangsawan Palembang. Model rumah ini mengadaptasi rumah panggung khas Melayu dengan bentuk atap rumah limas khas Jawa.

     

Sayangnya waktu kami berkunjung kedua rumah ini sedang tidak dibuka untuk umum. Minimnya informasi membuat kami hanya bisa memanadangi dan mengamati rumah ini dari luar.

Baca juga : https://djangki.wordpress.com/2012/05/19/budaya-palembang-akulturasi-melayu-dan-jawa/

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s