Danau Toba 3 : Semalam di Balige

Selepas dari TB Silalahi Center saya kemudian berjalan kaki menuju makam pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII. Makamnya berjarak kurang lebih sepuluh menit dari TB Silalahi Center. Sebuah pintu gerbang bertuliskan nama Raja Sisingamangaraja XII menyambut saya. gerbang ini dihiasi dengan ukiran gorga khas Batak,sepasang gaja dompak dan sepasang bendera perjuangan Sisingamangaraja. Bendera ini berwarna merah putih bergambar matahari, sepasang bulan dan sepasang pedang.

Suasana makam sangat sunyi. Hanya saya sendiri pengunjung makam saat itu.  Makam sang raja Batak ini berupa monumen besar dan tinggi. Di kompleks makam ini terdapat sebuah gedung pertemuan dan sebuah sumur. Sayangnya disini tidak dijelaskan tentang sejarah Sisingamangaraja XII dan sejarah makam ini.

     

Disini dimakamkan Sisingamangaraja XII dan putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Mereka gugur bersama pada perang melawan Belanda di Dairi pada tahun 1907. Selanjutnya jenazah Sisingamangaraja dimakamkan di Tarutung, Tapanuli Utara. Atas perintah Bung Karno makam Sisingamangaraja XII beserta putra-putri dipindahkan dari Tarutung ke Balige. Balige merupakan tempat pertamakali perang Batak melawan Belanda dikobarkan. Bung Karno berargumen bahwa makam Sisingamangaraja di Tarutung dibuat oleh Belanda. Setelah berdiskusi akhirnya para ahli waris Sisingamangaraja XII memindahkan tulang belulang keluarga Sisingamangaraja ke tempat yang sekarang di Soposurung Balige.

Dalam perjalanan pulang dari makam memutuskan naik becak motor. Berbeda dengan becak di Medan atau di Pematang Siantar, becak di Balige memakai sepeda motor jenis vespa sebagai penggeraknya. Letak motor ini terletak di samping tempat duduk penumpang.

Capek berjalan-jalan perut saya meronta minta diisi. Agak waswas juga mengingat kata kawan-kawan di daerah pedalaman seperti Parapat susah mencari makanan halal. Rupanya Balige tidak seperti Parapat. Balige agak tenang dan tidak sehiruk-pikuk Parapat. Disini juga banyak ditemui kedai makanan halal. Saya lalu memutuskan makan disebuah kedai pecel lele di dekat pasar Balige. Penjual orang Jawa Timur hehe..

Selepas makan saya berkeliling pasar Balige dengan berjalan kaki. Pasar Balige dibuat dengan arsitektur ruma bolon khas Batak Toba. Di seberang pasar terdapat sebuah masjid yang berukuran cukup besar. Di Sumatera Utara tepatnya di Balige dimana mayoritas masyarakat Balige yang beragama Kristen Protestan menaruh toleransi yang besar  terhadap masyarakat muslim.

     

Puas menyusuri pasar dan masjid saya mencari losmen Gelora. Losmen ini adalah sebuah penginapan yang direkomendasikan oleh penjual pecel lele di pasar Balige tadi.  Setelah saya sempat tersesat di sebuah hotel “ayam” saya akhirnya menemukan losmen gelora. Losmen ini terletak di pusat kota Balige dekat monumen DI Panjaitan. DI Panjaitan sendiri adalah putra asli Balige yang gugur sebagai pahlawan revolusi pada peristiwa G 30 S PKI tahun 1965.

     

Selepas melihat jejak DI Panjaitan saya kemudian berjalan ke arah pelabuhan rakyat. Pelabuhan ini menghubungkan Balige dengan pulau Samosir. Setiap hari beberapa kapal kayu melayani perjalanan dari Balige ke Samosir. Meski pinggiran danau Toba mulai dicemari sampah saya masih bisa melihat dasar danau Toba yang masih jernih. Tampak ikan-ikan kecil berenang di antara ganggang.

Hari beranjak malam dan saya memutuskan kembali ke hotel karena tidak berniat jalan-jalan lagi keliling Balige. Sebenarnya ada sebuah tempat wisata religi yang saya lewatkan yaitu Gereja HKBP Balige. Namun saya sedang tidak berniat untuk berwisata religi alih-alih saya tidur di losmen menghemat energi untuk perjalanan esok pagi.

Esok paginya saya beruntung menemukan sebuah warung makan halal di tepi danau Toba. Tulisan warung nasi Islam ditulis besar-besar untuk menerangkan kepada pengunjung yang baru datang bahwa kedai makan ini hanya menyediakan masakan halal.

Setelah kenyang saya kembali ke losmen. Sebelum meninggalkan kota Balige saya mampir sebentar ke sebuah gedung bertuliskan Dekranasda Kabupaten Toba Samosir. Rupanya itu merupakan sebuah tempat yang menjual berbagai jenis kerajinan khas Toba Samosir khususnya kerajinan Batak. Diantaranya ada  kain ulos, miniatur ruma bolon, lukisan pemandangan danau Toba. Saya sempat membeli sebuah kain ulos motif sadum. Ulos sadum yang berwarna cerah biasa dipakai pada saat upacara adat yang sifatnya suka cita. Selain membeli kerajinan saya juga diperkenankan berfoto dengan pakaian adat batak Toba.

Puas melihat-lihat kerajinan Batak saya bergegas mencari minibus menuju tujuan saya berikutnya yaitu kota Siborong-borong.

Iklan

6 comments

    • lupa 😦 udah beberapa tahun yg lalu .. kalo gak salah dibawah 100/malam
      rumahnya dr kayu, bednya seadanya lho ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s