Budaya Palembang : Akulturasi Melayu dan Jawa

Sebagai seseorang yang gemar mengamati seni dan budaya di lingkungan sekitar, tinggal di kota Palembang selama kurang lebih satu tahun memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Selain Jembatan Ampera dan empek-empek kekhasan kota Palembang adalah budayanya.

Budaya Palembang terpengaruh oleh budaya Melayu, Jawa, Tionghoa dan Arab.  Bahasa sehari-hari yang dipakai di kota Palembang disebut baso Palembang atau baso sari-sari. Bahasa  ini mengandung unsur kata bahasa Melayu dialek o seperti apo, cakmano, kemano,siapo dengan unsur kata bahasa Jawa seperti lawang, wong, banyu dan lain-lain. Atap rumah limas rumah adat Palembang hampir mirip dengan rumah joglo di Jawa Tengah. Pakaian pengantin Palembang model aesan gede merupakan percampuran budaya Melayu, Cina dan Jawa. Di Palembang ada juga wayang kulit yang mirip dengan wayang di Jawa.

Baju aesan gede
Rumah Limas
Wayang kulit Palembang

Saya kemudian bertanya-tanya sejak kapan unsur budaya Jawa masuk ke Palembang. Apakah sudah lama masuk atau masuk sejak zaman transmigrasi era Orde Baru pak Harto. Dimana saat Orde Baru banyak keluarga dari pulau Jawa dipindahkan ke berbagai pulau di luar pulau Jawa.

Pilihan pertama saya adalah bertanya kepada ibu kos dan kawan kuliah saya yang beberapa adalah wong Palembang.  Jawaban mereka tidak memuaskan. Saya kemudian bertekad mengunjungi museum Balaputeradewa. Saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Pertanyaan saya baru terjawab beberapa tahun kemudian saat saya mulai bekerja di kantor pajak. Saya baru benar-benar paham justru setelah membuka-buka halaman internet tentang budaya Palembang.

Budaya Palembang dimulai sejak kerajaan Sriwijaya kerajaan maritim terbesar di nusantara yang mengalami puncak kejayaan pada abad 7 Masehi saat masa pemerintahan raja Balaputeradewa. Saat itu Palembang merupakan pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Sriwijaya juga berperan menyebarkan bahasa Melayu ke seluruh daerah jajahannya di nusantara, Malaysia dan Thailand selatan. Kemudian Sriwijaya mulai berkurang pengaruhnya pada abad ke-11 karena diserang kerajaan Cola dari India lalu akhirnya meredup.

Nama Palembang muncul lagi ketika mulai berdirinya kesultanan Palembang Darussalam pada abad 15 saat Islam mulai menyebar di Nusantara. Kesultanan Palembang Darussalam didirikan oleh sekelompok orang dari Kesultanan Demak Jawa Tengah yang kalah berperang dengan kesultanan Mataram Islam. Mereka dipimpin oleh Ki Gede Sido ing Lautan. Ki Gede Sido ing Lautan sendiri masih mempunyai darah Palembang. Saat itu di Palembang dipimpin oleh sekelompok pemimpin dari etnis Melayu. Singkatnya tanpa pertumpahan darah Ki Gede  Sido ing Lautan berhasil melakukan pendekatan dengan para pemimpin etnis Melayu dan menjadi sultan pertama Kesultanan Palembang.

Pada saat itu di lingkungan internal kerajaan dipakai bahasa Jawa sebagai bahasa resmi. Lambat laun hubungan interaksi antara pihak kerajaan yang berasal dari Jawa dengan masyarakat Palembang yang berbahasa Melayu membentuk sebuah bahasa baru yang sekarang dikenal sebagai bahasa Palembang / bahaso Plembang. Bahasa Palembang mengawinkan kosakata dari bahasa Melayu Palembang (dialek o) dengan bahasa Jawa. Bahaso Plembang juga mengenal baso alus/kramo (bahasa halus) dan baso sari-sari (sehari-hari). Selain bahasa, hubungan antara etnis Jawa dan Melayu akhirnya melahirkan sebuah budaya baru yang dikenal dengan budaya Palembang.

Kesultanan Palembang Darussalam mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II pada awal abad ke-19. Pada masanya dibangun Masjid Agung Palembang dan Benteng Kuto Besak. Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II mangkat, kesultanan mengalami kemunduran dan akhirnya kesultanan Palembang Darussalam dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1823.

Dewasa ini beberapa budaya Palembang terancam punah diantaranya bahaso alus Palembang dan wayang kulit karena sedikitnya pemakai bahaso alus dan dalang wayang kulit Palembang hanya tersisa satu orang.

*)

Sumber gambar : Pengantin Palembang, Wayang Palembang, Rumah Limas.

Iklan

16 comments

  1. bukannya kerajaan Sriwijaya didirikan oleh seorang raja dari Jawa ?
    saya berpikir dari situ lah awal percampuran budaya melayu dan jawa nya…

    wayang Palembang ?? wah wah…ini saya baru tau..

    satu lagi mas mungkin yang sudah terlupakan, Aksara Palembang…. ada kan ya?

      • hooo.. gak ada ya.. kemaren sempet nemu di google soal aksara palembang…
        tapi ditemukan di daerah kayu agung (kalau gak salah, he) trus huruf dan katanya mirip aksara Lampung…

        • sumatera bagian selatan memiliki aksara yg hampir sama, bentuknya miring kaya ditulis pake paku, meski penamaannya beda2, di lampung dan bengkulu namanya kaganga, di pagaralam disebut surat ulu, di kerinci (jambi) namanya incung / rencong hehe

  2. ngapo wong palembang dewek dak tau ado bahasa melayu tua di tanah sumsel tapi faktanya tida pernah terungkap seperti bahasa melayu di muara enim tanah pasemah yg sudah ada sejak zaman megalitikum tapi di biarke oleh bangsonyo dewek dak pernah di gali dan di perhatike lupo dengan sejarah dewek

  3. @ indra : makasih 🙂

    @ dedi : yang dimaksud budaya Melayu disini bukanlah budaya Melayu dlm konteks sempit seperti yg dianut oleh Malaysia, daerah Riau dan kepulauan riau tetapi Melayu dalam konteks luas (budaya Melayu di Thailand Selatan, Malaysia, Brunei, sebagian besar jazirah Sumatera dan pesisir Kalimantan). Terimakasih atas komentarnya 🙂

  4. sekedar berbagi bro dan sedikit meralat bahwa orang palembang tidak terpengaruh dari budaya melayu karena palembang menurut literatur ilmuwan sebagai pembawa dan penyebar budaya melayu sejak zaman empire sriwijaya.
    anda bisa baca referensi :
    Virginia Matheson, Encyclopaedia of Asian History: Prepared under auspices of the asia society, Book 2, Malays, page 471, 1988, MacMilan Publishing Company
    R.O. Winstedt, The Malays: A Cultural History, revised and updated by Than Seong Chee (1981)
    G. Benjamin, “In the long term: Three Themes in Malayan Cultural Ecology,” in Cultural Values and Tropical Ecology in Southeast Asia, edited by K. Hutterer and T. Rambo (1985).

    atau wikipedia biar gampang.

    thanks bro atas artikelnya

  5. hm ternyata kamu cocok jd sosiobackpacker…hampir setiap masalah aspek manusia dan budaya setempat dengan jeli kamu tangkap dengan mudah dan berusaha mencari jawaban2 itu. good article Bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s