Di Balik Tor-tor Marsada

Adalah Angga ketua kelas II C yang mengabarkan kalau sebentar lagi akan diadakan acara Malam Keakhraban (Makhrab) yang dibuat oleh Kompak STAN (Komunitasnya anak D3 Khusus di STAN). Acara ini merupakan acara tahunan Kompak yg bertujuan mengakhrabkan seluruh mahasiswa STAN khusnya D3 Khusus. Dalam acara tersebut ditampilkan berbagai macam pertunjukan seni baik musik, tari, paduan suara, dll. Sesuai kesepakatan, kelas kami akan menampilkan tari tortor dan band. Saya khususnya akan berpartisipasi menari tortor. Jujur ini adalah pertama kalinya saya menari tortor, di kampus pula. Memang sebagai halak Sumatera Utara menari tor-tor adalah kebiasaan orang Batak. Tetapi dalam hal ini menari untuk tampil pada acara kampus merupakan hal baru bagi saya. Kali ini saya berperan sebagai koreografer, penata musik dan penata kostum. Saya memutuskan menggunakan lagu populer Maragam-ragam supaya mudah dipelajari. Kemudian kostumnya menggunakan pakaian kuliah biasa dan kain ulos yang praktis. Nama tortor yang akan kami mainkan adalah Tortor marsada (Tarian persatuan). Tarian ini menggambarkan persatuan puak-puak Batak yaitu Batak Toba, Karo, Simalungun dan Mandailing.

Awalnya hanya 3 orang dari kelas II C termasuk saya yg menyatakan keinginannya untuk menari tortor. Mereka adalah saya, Angga, dan Yogi. Uniknya Angga adalah orang Jawa dan Yogi orang Minang. Halak hita di kelas kami rupanya tidak terlalu berminat menari tortor. Kami bertiga sempat berlatih sekali sebelum akhirnya Yogi mengundurkan diri karena kurang percaya diri bisa menari. Kami kemudian sepakat melebarkan keanggotaan tari tor tor kepada kelas lain. Sehingga menjadi sebuah kolaborasi antarkelas. Hasilnya beberapa teman dari kelas A dan D menyatakan minatnya untuk ikut manortor. Mereka adalah Aron Malau dari kelas A dan bang Sam Sianturi dari kelas D. Kami sempat berlatih dua kali sebelum akhirnya Aron mundur karena ingin lebih fokus di panitia Makhrab. Lalu kami sempat gonta-ganti personel mulai dari bang Jhon Purba, bang Jun Sui Siahaan dan akhirnya mereka berduapun cuma berlatih sekali. Di tengah-tengah perjalanan, kami juga sempat putus asa karena kesulitan merekrut pemain. Sementara acara makhrab semakin dekat. Akhirnya bang Sam merekrut kawan sekelasnya Jaka dan kawan-kawan dari organda Horas Sumatera Utara. Mereka adalah Juliani br. Sinaga, Utami br Tampubolon, Juni br. Siburian dan Winda br. Simangunsong. Formasi ini baru fix terbentuk saat H-2 acara. Kami cuma berlatih sekali dan alhamdulillah kami langsung bisa, meskipun belum sempurna 100 %.

Kami sepakat berlatih sekali lagi saat gladi. Saat gladi saya sedang di Blok M untuk membeli kostum pria yg masih ada kekurangan. Jadinya mereka berlima melakukan gladi tanpa saya. Saya cuma bisa berharap saat malam pentas, kami bisa menampilkan yang terbaik. Akhirnya malampun tiba dan kami sangat berdebar-debar memanti saat tampil. Alhamdulillah kami bisa tampil cukup sempurna. Perjuangan selama berbulan-bulan latihan dan latihan satu hari bersama ito-ito dari Horas berbuah manis.Terimakasih semuanya. Mauliate Diatei tupa Bujur

Tami – Saya – Juli – Angga – Winda – Juni – Jaka
Showtime 😀

Angga diberi uang sawer
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s