Kondangan di Kayu Agung

Entah kenapa saya sangat suka menerima kartu undangan pernikahan terutama jika saya mengenal si pengirim undangan. Ada perasaan bahagia ketika melihat sahabat saya mengakhiri masa lajangnya (lebay 🙂 Ada juga perasaan iri kapan saya bisa menyusul menyempurnakan separuh agama (perasaan sebelum menikah).  Setelah saya menikah perasaan saya ketika menerima undangan malah jadi biasa-biasa saja heuhe.

Saya pernah menerima undangan pernikahan dari kawan saya Ali dan Ari yang akan menikah di Kayuagung, Sumatera Selatan saat saya masih bekerja di Tanjung Batu, Kepulauan Riau. Saya tidak langsung memutuskan apakah akan hadir atau tidak. Jarak antara Tanjung Batu ke Kayuagung sangat jauh. Bisa berhari-hari jika ditempuh dari Tanjung Batu. Cara paling murah adalah dengan naik kapal ke Kuala Tungkal dilanjutkan travel ke Kayuagung lewat Jambi dan Palembang.

Saya kemudian memutuskan untuk pergi ke Kayuagung setelah terlebih dulu minta ijin boss untuk bolos kerja beberapa hari hehe.

Singkatnya saya naik kapal dari Tanjung Batu tujuan Kuala Tungkal selama enam jam. Semalam menginap di rumah kawan jaman kuliah di Kuala Tungkal, paginya saya pergi naik travel ke Palembang lewat Jambi. Perjalanan Kuala Tungkal ke Palembang ditempuh selama sembilan jam.

Di Palembang saya menginap di rumah kawan jaman kuliah juga. Dari Palembang saya menghubungi kawan-kawan kuliah yang kira-kira mau kondangan ke Kayuagung. Setelah terkumpul enam orang kami mencari travel yang mau mengantar, menunggui dan mengantar pulang ke Palembang. Akhirnya kami memakai mobil Pak Parman “supir”  yang sering kami pakai mobilnya untuk berjalan-jalan seputaran Palembang saat saya masih kuliah dulu.

Pada hari H pak Parman menjemput kami di Palembang lalu menuju ke Kayuagung. Dua jam kemudian kami sampai di ibukota kabupaten Ogan Komering Ilir ini. Selanjutnya kami menuju ke lokasi pesta di dekat pusat kota Kayuagung. Pengantin sudah bersanding di pelaminan.

Meskipun baik Ali dan Ari sama-sama orang Jawa mereka memakai busana Pak Sangkong, salah satu busana pengantin khas Sumatera Selatan. Jika baju model Aesan Gede pengantin pria maupun wanita untuk atasan memakai kemben, maka busana Pak Sangkong menutup seluruh tubuh bagian atas kecuali telapak tangan.

Suasana pesta Ali dan Ari

     

Ritual kawinan teman : foto bersama pengantin 😀

  

Ali tidak menyangka saya akan hadir untuk datang ke pesta pernikahannya. Setelah acara selesai kami berputar-putar dulu keliling kota Kayuagung. Saya melihat sebuah tugu/monumen di pusat kota Kayuagung. Bentuknya berupa bentuk perahu nelayan yang sedang berlayar di atas ombak. Setelah saya cari di internet nama tugu ini adalah Taman Segitiga Emas, melambangkan semangat bahari masyarakat Kayuagung.

Taman Segitiga Emas

     

Foto-foto dari dalam mobil dalam perjalanan ke Palembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s