Ekspedisi Pulau Rupat

Pagi sekitar pukul 09.00 kami kumpul di pelabuhan ro-ro kota Dumai karena kami berencana untuk jalan-jalan ke pulau Rupat, sebuah pulau di perbatasan Indonesia dan negeri jiran. Kami berencana jalan2 di pulau Rupat naik motor. Kami sama sekali belum tahu situasi dan kondisi di sana. Tapi kami yakin disana ada pantai tropis yang berpasir putih, airnya biru dan banyak tumbuh pohon kelapa πŸ˜€

Perjalanan laut dari pelabuhan Dumai ke pelabuhan Tanjungkapal di pulau Rupat sekitar 30 menit naik kapal penyeberangan (ro-ro). Di kapal, Epy sempat ngobrol dengan seorang penduduk asli pulau Rupat untuk menanyakan pantai yg “recomended” untuk dikunjungi. Lalu, muncul nama pantai Tanjungmedang. Si kakak bilang pantai itu bisa ditempuh dalam waktu 3 jam saja. Begitu sampai di pulau Rupat, kami berencana menuju pantai Tanjungmedang dan pulang ke Dumai sore harinya

Awal perjalanan di pulau Rupat terasa lancar, jalanan mulus beraspal sampai akhirnya melalui jalan tanah yang kondisinya rusak berat dan sebagian becek karena lumpur. Perkampungan mulai jarang ditemui. Sinyal di ponsel mulai drop. Semangat personel mulai menurun dan sebagian dari mereka ingin kembal ke Dumai.

Satu persatu jalan yang rusak berat mulai memakan “korban”

Bersih-bersih dari lumpur di parit

Lelah…..tapi teuteup… Narsis πŸ™‚

Medan yang makin lama makin berat….duh…kapan nyampenya kalo jalannya gini terus 😦

Tak kunjung sampai ke Pantai Tanjungmedang. Kami hampir menyerah. Si kakak bilang cuma 3 jam. Lha kok, nggak sampai-sampai T.T

Sampai di tepian sungai. Lo, mana ujung jembatannya ?? Belum siap dibangun ternyata. Maklumlah, namanya juga daerah terpencil

Menyewa sampan untuk menyeberangi sungai. Pertamax gan. Bismillah. Semoga nggak nyebur

Menyeberang sungai untuk kali kedua

Setelah perjalanan darat lebih dari enam jam yang amat melelahkan. Kami menemukan sebuah pantai, Tanjunglapin namanya. Pantai pasir putih yang sangat sepi. Konon, pantai itu menyatu dengan pantai Tanjungmedang, tapi ternyata… kami belum sampai di Tanjungmedang

Senangnya bermain-main di pantai, bayangan awal kami berbeda dengan kenyataan. Pantai Tanjunglapin airnya kotor. Kami rada kecewa. Tapi tak apalah..asikin aja πŸ˜€

Sejenak melupakan capek enam jam perjalanan darat. Karena hari sudah malam, tak ada pilihan lain selain bermalam di Tanjungmedang. Nggak kebayang sebelumnya bakal nginap di pulau yang sepi ini 😦

Makan malam di sebuah kedai masakan Padang di Tanjungmedang, ibukota kecamatan Rupat Utara (Padang lagi, Padang lagi). Mungkin, ini satu-satunya “restoran” di Rupat Utara. “Kota” ini sangat sepi. Tak ada lampu di malam hari, kecuali penerangan dari genset di rumah masing-masing. Kalau malam jalanan terasa amat sunyi. Penduduknya mungkin lebih senang bikin hiburan di rumah sendiri ketimbang keluyuran di warung kopi. Oya, disini susah mendapatkan sinyal ponsel, nyesel banget kenapa kemaren ngga bawa simcard Tel~~~sel

Tidak ada sarana akomodasi yang layak di Tanjungmedang, kecuali sebuah pondok di tepi pantai yg keadaannya “ya gitu deh”, tapi kami beruntung dapat bermalam di wisma/mess milik Dipenda kabupaten Bengkalis

Tidur terasa nyenyak sekali dan pagi cepat datang. Kami sempat berfoto di depan kantor Camat Rupat Utara, Kab. Bengkalis. Yups….cuma kantor camat, tapi kami tetap antusias karena mungkin ini satu-satunya gedung yg bisa kami kenang di kemudian hari. Sebuah kenangan tentang perjalanan konyol ke sebuah pulau di perbatasan Indonesia-Malay. Lagian, kami tak yakin akan berminat untuk jalan-jalan ke pulau Rupat buat kedua kalinya. Kapok dah !

Upin dan Ipin

Nggak sempat mandi pagi karena harus mengejar satu-satunya kapal dari Kadur ke Dumai. Hehehe… ^^V Waktu yang ada kami gunakan untuk sarapan pagi di sebuah kedai masakan Melayu

Naik kapal kayu yang mengangkut barang dagangan untuk dijual ke Dumai. Bagian atas untuk mengangkut barang, termasuk motor2 yg kami bawa dari Dumai sedang bagian bawah untuk manusia. Nggak layak sebenarnya, karena penumpang hanya bisa duduk lesehan seadanya tapi inilah satu-satunya alat transportasi yg bisa membawa kami keluar dari pulau ini. Kami sudah ingin cepat-cepat pulang ke Dumai. Selamat tinggal pulau Rupat

Indahnya kebersamaan. Bersama kita bisa ^^

Percayalah, meski ini bukan kapal Titanic. Masih ada kisah romantis yang terjadi di kapal yg jelek ini ^^

Awak kapal bilang kalo perjalanan laut akan memakan waktu 6 jam. Tak banyak pemandangan yg bisa dinikmati kecuali laut, laut, dan laut. Mungkin tidur adalah cara terbaik, walaupun harus tidur berdesak-desakan seperti ikan bandeng dengan penumpang lainnya

Akhirnya, kami sampai di Dumai dengan selamat setelah menempuh perjalanan yg sangat panjang. Alhamdulillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s