Menginap di Bandara (1)

Waving Gallery Terminal 1 Changi Airport
Sumber : http://i314.photobucket.com/albums/ll434/antoniusbram/Photograph1451.jpg

Menginap disini bukan tidur di hotel bandara, tapi benar-benar tidur di dalam area bandara. Kedengarannya aneh dan tidak banyak orang yang pernah melakukannya, tapi itulah yg terjadi. Saya pernah dua kali bermalam di bandara karena dua alasan yg berbeda. Kali yang pertama saya numpang tidur semalaman di bandara Changi karena “tertipu” informasi di internet. Kali kedua terjadi setelah saya tiba di Bandara Juanda Surabaya. Saat itu saya harus menunggu bagasi yang tertinggal di bandara Hang Nadim di Batam.

Pertama kali saya tidur di bandara yaitu di waving gallery (anjungan pengantar) Bandara Changi, Singapura. Ini terjadi dua tahun lalu waktu saya mudik untuk merayakan lebaran di kampung. Saya berencana naik pesawat dari Singapura ke Bandung. Pesawat saya berangkat dari Bandara Changi sekitar pukul delapan pagi. Berhubung kapal dari Tanjung Balai Karimun ke Singapura setiap hari berangkat jam 7.30, 11.00 dan 17.00, saya memutuskan untuk pergi ke Singapura sehari sebelum saya naik pesawat.

Sekitar jam lima sore saya berangkat dari Tanjung Balai Karimun ke Singapura naik kapal cepat. Perjalanan menuju Pelabuhan Harbour Front di Singapura saya tempuh selama 1,5 jam. Lalu diteruskan naik kereta api (MRT) jurusan Changi selama 30 menit.

Begitu tiba di Bandara Changi, saya sempatkan jalan-jalan sebentar mengagumi kemegahan dan keindahan salah satu bandara terbaik di dunia ini. Puas cuci mata, saya bergegas menuju area Terminal 1 dimana besok saya chek in dan naik pesawat. Saya harus memastikan mengetahui dimana besok saya akan chek in. Kalo tidak mencari secepatnya pasti bakal kebingungan di bandara sebesar itu. Pikiran saya selanjutnya terfokus mencari rest area. Informasi yang saya dapatkan di situs disebutkan kalau bandara menyediakan tempat beristirahat bagi calon penumpang yg menunggu keberangkatan pesawat berupa sofa  nyaman untuk tidur sementara.

Saya lalu sibuk mengamati satu demi satu papan informasi penunjuk tempat yg ada. Kebanyakan menunjukkan dimana toilet, money changer dan lain-lain. Tidak ada informasi tentang rest area. Kepada staf penunggu counter informasi saya bertanya. Betapa mengejutkan jawaban yg diberikan si mbak. “There’s no rest area here. Rest area just available in arrival terminals.” Pikiran saya jadi kacau mau tidur dimana. Saya tanyakan lagi dimana saya bisa bermalam di area bandara untuk menunggu penerbangan saya besok pagi. Dia menyarankan tidur di hotel transit atau tidur di bangku. Ya, bangku metal nan dingin yg betebaran di dalam area bandara.

Saya menyesali “kedudulan” saya kenapa tidak membaca dengan cermat situs bandara. Namun, saya juga merasa agak tertipu juga karena di situs bandara tidak diberitahukan dengan jelas dimana lokasi rest area. Saya putuskan buat tidur di anjungan pengantar aja. Sayang rasanya kalau harus merogok puluhan dollar cuma untuk satu malem tidur di hotel transit bandara. He3..

Begitu sampai di anjungan pengantar, banyak orang yg tidur di lantai anjungan. Ada belasan orang disitu. Dari raut wajah yg saya amati, saya temukan banyak orang Jepang. Mereka tidur menggunakan sleeping bag. Dasar saya masih newbie soal backpacking, saya tidak tau harus pake alas apa buat tidur. Hal ini benar-benar di luar perkiraan saya. Saya keluarkan semua baju di ransel saya buat dijadikan alas tidur. Lumayan buat menghalau rasa dingin lantai. Berasa seperti tahanan saja tidur di lantai nan dingin sendirian. -_- Alunan musik klasik yg terdengar di penjuru bandara menjadi pengantar tidur saya. Lantai yang dingin dan keras membuat saya begitu sulit untuk memejamkan mata.

Beberapa jam saya tertidur, saya terbangun oleh suara gaduh di sekitar saya. Rupanya ada sweeping oleh polisi Singapura. Beberapa dari orang yg tidur disamping saya diperiksa paspornya oleh tiga orang berpakaian dinas polisi. Anehnya, polisi itu melewatkan saya begitu saja. Padahal saya udah mengeluarkan paspor dari ransel. Alhamdulillah, saya nggak diintrogasi sama mereka. Saya lalu meneruskan tidur saya. Paginya, saya makan sahur di restoran masakan Minang di area bandara. Baru kali ini saya lihat orang Tionghoa menjadi pelayan restoran milik orang Indonesia hehehe …

Pesan moral : kalo Anda kaya raya dan nggak mau repot, tidur di hotel transit adalah pilihan terbaik. Jika Anda mau berhemat dan ingin merasakan dinginnya lantai penjara, nggak ada salahnya mencoba tidur di anjungan bandara.

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s