Pantai Lampuuk, Pantai Favorit Sapi

Selain peninggalan sejarah, Masjid Baiturrahman dan situs bekas tsunami, Aceh juga dikenal memiliki pesona alam yang luar biasa. Di sebelah selatan berbatasan dengan provinsi Sumatera Utara terdapat pegunungan Taman Nasional Gunung Leuser. Di pesisir barat Aceh terdapat banyak pantai yang memiliki pasir putih. Di Sabang, pulau Weh terdapat banyak pantai pasir putih yang menawan. Selain itu Sabang dikenal sebagai kota wisata karena mempunyai tempat tujuan wisata yang banyak. Kita bisa berenang di pantai yang airnya biru kehijauan bahkan bisa melakukan snorkeling maupun scuba diving di pantai Iboih dan Gapang. Kota Sabang menjadi tujuan favorit wisatawan karena kota Sabang terletak di ujung barat Indonesia. Banyak wisatawan yang pergi ke Tugu 0 Kilometer.

Salah satu pantai yang cukup dekat dari kota Banda Aceh adalah Pantai Lampuuk. Pantai ini terdapat di Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh ke pantai Lampuuk bisa ditempuh selama tigapuluh menit. Saat itu saya ke Lampuuk bersama Ollie dan kak Rita dan kawan-kawannya. Saya pergi ke Pantai Babah Tiga, salah satu pantai di Lampuuk. Di Aceh diberlakukan hukum syariah artinya bagi warga Muslim wajib berpakaian sesuai syariat Islam ketika pergi keluar rumah. Karena saat itu saya pergi naik mobil, saya malah disarankan sama Ollie nggak usah pakai celana panjang, cukup celana santai. Katanya sejak polisi syariah tersandung sebuah skandal, pengawasan masyarakat oleh polisi syariah tidak terlalu ketat lagi.

Kami sampai di pantai sekitar pukul empat sore. Namun meski sudah cukup sore langit masih sangat terang. Tinggal di Aceh hidup berasa lambat karena Aceh merupakan wilayah paling barat di Indonesia sehingga matahari seolah-olah terbit lebih lambat daripada wilayah-wilayah lain di Indonesia yang terletak lebih ke timur.

Pantai Lampuuk terletak di pesisir barat Aceh sehingga banyak pengunjung yang kesini termasuk kami untuk menyaksikan matahari terbenam sambil minum air kelapa. Disini banyak pohon kelapa sehingga buah kelapa yang dihidangkan masih sangat segar. Menurut cerita kak Rita, saat tsunami datang tahun 2004 tinggi gelombang hampir mencapai puncak pohon kelapa dan pantai Lampuuk yang indah menjadi porak-poranda. Seram sekali 😦 Saat ini bekas tsunami sudah tak terlihat lagi di Lampuuk. Akan tetapi ombak di pantai Lampuuk masih besar karena menghadap langsung ke Samudera Hindia. Saya melihat tidak ada pengunjung yang berani mandi di laut. Katanya beberapa minggu sebelum saya ke Lampuuk seorang pengunjung tewas setelah tersapu ombak.

Kak Rita dan suaminya

Menjelang petang cuaca sangat mendung sehingga menghalangi pandangan kami untuk melihat matahari terbenam. Kami lalu berjalan ke arah tebing tinggi yang terletak beberapa ratus meter dari tempat kami minum. Tidak lama kami melangkahkan kaki kami harus berhati-hati karena disitu banyak sapi yang berjemur sambil memamah biak. Jika tidak hati-hati kami bisa menginjak ranjau, yaiks.

Ollie dan sapi-sapinya hahaha

Β 

Pulang dari pantai Lampuuk saya minta ijin turun dari mobil kak Rita untuk foto-foto di kuburan massal tsunami Lhok Nga. Kuburannya berupa lahan kosong tanpa nisan dan hanya dipagari kawat berduri. Disitu dikuburkan secara masssal ribuan korban tsunami Aceh tahun 2004. Sebenarnya saya dilarang karena kuburan disitu dikenal angker kalo malam tapi saya nekat hehehe. Kapan lagi kalo tidak sekarang saya pikir.

Kuburan massal tsunami

Pulang dari Lhok Nga, saya mencium bau wangi ketika hampir sampai rumah. Kata Ollie kawan saya, dia melihat kuntilanak !

Iklan

6 comments

  1. Ternyata, warga Aceh pun percaya adanya bangsa-bangsa makhluk halus seperti itu. Aku kira sudah tidak ada kepercayaan lagi seperti itu karena mereka Muslim. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s