Ada Malaysia di Museum Negeri Aceh

Latar belakang pendidikan SMA saya adalah IPA dan kuliah saya jurusan ekonomi. Namun, saat bekerja saya justru tertarik mempelajari  bidang antropologi, etnografi dan sejarah di sela-sela kesibukan bekerja di kantor. Ini dikarenakan lingkungan kerja selalu berganti-ganti karena saya sering berpindah tempat tugas. Setiap kali berpindah tugas, saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang seringkali kondisi geografis dan masyarakatnya berbeda dengan tempat lama. Untuk bisa cepat beradaptasi saya punya cara sendiri yaitu pergi ke museum. Dari museum saya tahu sejarah, kesenian, kebudayaan, kepercayaan dan mata pencarian yang dilakukan masyarakat tersebut.

Di Indonesia  umumnya museum hanya terdapat di ibukota provinsi.  Selebihnya terdapat di Jakarta sebagai ibukota negara. Beberapa provinsi baru hasil pemekaran bahkan belum mempunyai museum daerah. Sedihnya sebagian museum yang ada di Indonesia kondisinya cukup memprihatinkan.

Sebagai sebuah provinsi yang telah berdiri lama, provinsi Aceh (dulu bernama Nanggroe Aceh Darussalam) mempunyai sebuah museum negeri yaitu Museum Negeri Aceh. Museum ini terletak di jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah Banda Aceh. Lokasinya tidak jauh dari kantor gubernur.

Rumoh Aceh

Gedung utama museum ini terletak di samping rumoh Aceh. Rumoh Aceh adalah sebuah prototype rumah adat khas Aceh yang dibangun pada tahun 1914. Dikatakan bahwa di dalam rumoh aceh disimpan perkakas-perkakas tradisional yang biasanya terdapat di dalam rumah tradisional Aceh. Sayangnya saat saya mengunjungi museum ini saya tidak bisa masuk ke rumoh Aceh karena rumah tersebut dalam keadaan terkunci. Petugas yang membawa kunci tersebut sedang tidak berada di tempat. Saya akhirnya hanya mengunjungi gedung utama museum yang telah direnovasi.

Di museum ini kita bisa belajar sejarah pahlawan-pahlawan Aceh, satwa khas Aceh, benda-benda etnografis masyarakat Aceh, mata pencarian masyarakat Aceh, suku-suku di Aceh. Koleksi andalan museum ini adalah genta / lonceng Chakradonya. Lonceng ini merupakan cenderamata dari laksamana dari China Cheng Ho / Sam Po Kong ketika dia mengunjungi kesultanan Aceh abad ke-16.

Lonceng Chakradonya

Selain itu di salah satu ruangan museum Aceh terdapat satu ruangan yang bernama galeri Melaka. Disini dipamerkan potensi wisata di Melaka, Malaysia. Kesultanan Aceh dulu pernah menyerang Melaka karena Melaka dikuasai Portugis. Sampai saat ini masih terjalin kerjasama antara pemerintah Aceh dan Melaka. Kalau museum negara lain bisa membuka perwakilan di negara kita, kenapa kita tidak ?

Iklan

4 comments

  1. Saya sudah pernah ke Rumoh Aceh di TMII dan saya disambut dengan Perang Aceh di pintu masuk. Secara fisik, foto kakak di depan Rumoh Aceh asli Aceh tidak jauh berbeda dengan Rumoh Aceh di TMII. Mungkin bedanya, di TMII, ada Seulawah di depannya. Entah itu asli atau replika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s