Mengenang Ganasnya Tsunami Aceh

Rabu 11 April 2012 kemarin Aceh kembali diguncang gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter. Mau tidak mau ingatan saya kembali pada peristiwa dahsyat  gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 di Aceh dan Nias. Ratusan ribu korban ditemukan tidak bernyawa. Yang membuat hati makin berempati, peristiwa tsunami tahun 2004 turut merenggut keluarga teman kantor saya Budi. Saat itu Budi sedang di Jakarta sementara seluruh keluarganya berada di kampungnya di Meulaboh, Aceh Barat. Saat kejadian ayahnya sedang tidak bersama ibu dan adik-adiknya. Budi berhasil bertemu ayahnya dengan kondisi selamat sementara ibu dan adik-adiknya belum diketahui kabarnya sampai sekarang.

Saya mengunjungi Aceh beberapa tahun setelah tsunami tepatnya pada tahun 2010. Saya pergi ke Banda Aceh dari Medan lewat jalur darat. Perjalanan Medan – Banda Aceh ditempuh selama sepuluh sampai dua belas jam naik bus. Saat Aceh berstatus daerah konflik, banyak yang menghindari bepergian ke Aceh lewat darat karena alasan kemanan. Tsunami dan perjanjian damai pemerintah RI dan GAM membuat Aceh menjadi lebih aman. Saya berangkat dari pool Bus Pelangi sekitar jam tujuh malam dan sampai Terminal Lamtemeun Banda Aceh sekitar jam enam pagi. Selang tiga puluh menit, kawan saya Ollie datang menjemput. Saya kenal Ollie dari Couchsurfing, sebuah situs pertemanan dimana sesama anggota bisa saling bersilaturahmi dengan menjadi tuan rumah atau tamu dengan menyediakan tempat menginap gratis. Sangat menarik bukan.

Berkunjung ke Banda Aceh berarti mengenang kembali peristiwa tsunami yang melanda kota ini. Saat itu bencana tsunami menjadi perhatian dunia dan ditetapkan menjadi bencana nasional. Berduyun-duyun bantuan dan tenaga relawan baik dari dalam maupun asing masuk ke Aceh terutama Banda Aceh.

Banyak situs-bekas tsunami akhirnya menjadi tempat tujuan wisata. Memang bukan untuk bersenang-senang, karena masa kita mau tertawa di atas air mata warga Aceh. Berkunjung ke Banda Aceh seolah-olah sebuah perjalanan spiritual saya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Apalagi ditambah dengan ketaatan religi rakyat Aceh, kita seolah-olah dituntun untuk mengakui begitu besarnya kuasa Tuhan. Berikut ini tempat-tempat yang menyadarkan kita akan kebesaran Tuhan :

1. Museum Tsunami Aceh

                          Museum Tsunami Aceh    

Maket museum; rooftop banguanan ini dirancang sebagai shelter jika sewaktu-waktu gelombang tsunami datang

Museum ini dibangun untuk mengenang korban bencana gempa dan tsunami Aceh. Setelah melewati pintu masuk, berjalanlah di koridor yang sempit. Koridor itu berupa dinding tinggi yang diguyur air. Sejenak pikiran kita dibawa untuk merenungkan suasana mencekam saat gelombang tsunami tiba. Di museum ini kita bisa melihat foto-foto saat tsunami dan situasi kota Banda Aceh setelah tsunami. Museum ini dipersiapkan sebagai tempat evakuasi permanen jika sewaktu-waktu kota Banda Aceh dilanda bencana tsunami.

lorong gelap dan sempit
Ilustrasi tsunami oleh seniman Aceh
air mata dimana-mana T.T
sebelum dan sesudah
merenung

2. Masjid Baiturrahman

Ini adalah masjid terbesar dan masjid paling indah di Aceh. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 dan telah beberapa kali diadakan renovasi dan perluasan masjid. Perluasan terakhir dilakukan pada tahun 1968. Pada saat tsunami datang, banyak warga menyelamatkan diri kesini. Terjadi keajaiban disini saat itu. Menurut penuturan kawan saat gelombang tsunami datang tiba-tiba air laut menjadi surut dan membelah melewati bangunan masjid sehingga warga yang berlindung di masjid ini bebas dari hantaman tsunami. Sisa tsunami dapat ditemui di dinding bagian dalam yang rusak dan dibiarkan apa adanya sampai sekarang.

3. PLTD Apung

Gelombang tsunami membawa hanyut sebuah kapal pembangkit listrik berbobot 2.600 ton sejauh lima kilometer dari pantai ke daratan di kawasan Punge Blangcut, Banda Aceh. Dari atas kapal kita bisa melihat panorama kota Banda Aceh yang terletak di tepi laut dan dikelilingi bukit. Dengan menaiki kapal ini, bisa dibayangkan betapa besar kekuatan gelombang tsunami saat itu. Selain disini, bukti kekuasaan Tuhan bisa dilihat di Lampulo. Disana ada sebuah perahu yang hanyut dan terdampar di atap rumah seorang warga.

4.  Kuburan Massal Korban Tsunami

Ada empat situs kuburan massal korban tsunami di Banda Aceh dan saya pernah mengunjungi salah satu di antaranya yaitu di Lhok Nga. Saya mengunjungi tempat itu setelah jalan2 ke Pantai Babah Tiga, Aceh Besar. Sampai ke makam sekitar pukul 6 sore. Hari sudah gelap. Saya jeprat jepret sendirian sedang teman saya menunggu di dalam mobil. Sepulang dari makam, di simpang jalan yg mau masuk ke rumah saya mencium bau bunga kantil. Perasaan saya tidak enak. Saya coba tanyakan kepada Ollie yg katanya bisa “melihat”. Katanya, tadi ada kuntilanak simpang jalan. Dia nggak tau kunti itu ngikuti dari makam atau memang biasa berkeliaran disitu. Saya jadi merinding dan nggak akan ke makam tsunami lagi malam-malam. Kata teman saya, dulu pernah ada yg iseng ambil foto di kuburan massal malam2 dan sepulang ke rumah dia kesurupan. Hii…

5. Thanks to the World Park (Lapangan Blang Padang)

 

Lapangan Blang Padang adalah sebuah area terbuka dimana di dalamnya terdapat replika pesawat RI 001 Seulawah. Ini adalah pesawat yang disumbangkan rakyat Aceh kepada negara saat perang kemerdekaan. Disini juga diletakkan prasasti-prasasti sebagai ucapan terima kasih rakyat Aceh kepada negara-negara yang telah membantu meringankan beban rakyat Aceh.

Iklan

13 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s