Kembali ke Masa Lalu di Pulau Penyengat

Penyengat adalah nama pulau kecil yang terletak di seberang kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Luas pulau ini hanya sekitar 2km. Meskipun ukurannya sangat kecil, pulau ini menyimpan sejarah panjang kerajaan Melayu Riau-Lingga. Pulau ini jaraknya hanya beberapa kilometer dari pelabuhan Tanjungpinang. Jika kita pergi ke Tanjungpinang menggunakan kapal laut, kita akan menjumpai sebuah pulau dengan landmark masjid berwarna kuning menyala. Itulah Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat atau sering disebut Masjid Penyengat saja. Perjalanan dari pelabuhan Tanjungpinang ke Pulau Penyengat bisa ditempuh selama  15 menit dengan naik perahu pompong dari pelabuhan Pelantar III.

Pintu gerbang Pulau Penyengat

Pulau Penyengat disebut juga pulau Penyengat Inderasakti. Dinamakan penyengat karena dulu ada pelaut yang disengat lebah ketika mencari sumber air tawar di pulau itu. Pada zaman kerajaan Melayu Lingga, pulau Penyengat pernah dijadikan sebagai ibukota kerajaan. Masih banyak peninggalan sejarah masih mewarnai pulau ini. Hampir seluruh bangunan didominasi warna kuning menyala. Ini adalah warna kebesaran kerajaan Melayu. Kondisi bangunan sebagian besar masih berdiri kokoh meskipun sudah berusia ratusan tahun. Bangunan-bangunan kuno berdiri di tengah-tengah pemukiman warga. Pulau ini telah ditetapkan sebagai lokasi peninggalan cagar budaya oleh Kota Tanjungpinang. Berjalan-jalan menyusuri bangunan-bangunan tua disini, seolah-olah kita kembali ke kejayaan kerajaan Melayu masa lalu.

Beberapa tempat yang bisa kita kunjungi di pulau ini adalah masjid raya. Masjid ini berlokasi di dekat pelabuhan Penyengat, berjarak hanya seratus meter dari pelabuhan. Bangunan dengan arsitektur Melayu ini konon dibangun dengan bahan campuran putih telur dan air kelapa. Masjid ini masih dipakai beribadah oleh warga Penyengat.

Masjid Penyengat, seperti istana negeri dongeng

Berjarak tidak jauh dari masjid adalah makam keluarga kerajaan. Termasuk diantaranya makam pahlawan Raja Haji Fisabilillah yang berperang melawan Belanda serta makam Raja Ali Haji, seorang pujangga kerajaan yang menulis Gurindam 12, puisi Melayu lama tentang nasihat-nasihat hidup.

Makam Raja Ali Haji

Tidak jauh dari makam ada  bekas istana, kemudian kantor tempat raja melangsungkan pemerintahan, balai adat, bekas gudang mesiu, tempat mandi putri raja dan di ujung pulau ini terdapat benteng pertahanan. Di bawah balai adat terdapat sumur yang dikeramatkan warga. Banyak pengunjung dari luar pulau bahkan dari luar negeri yang percaya berwudlu atau mandi di sumur tersebut dapat mengabulkan hajat atau keinginan. Entah Anda percaya atau tidak.

Istana siapa saya lupa (hehehe)

Kantor pemerintahan jaman dulu
Balai adat Melayu (bangunan baru)
Meriam di bukit Kursi

Ada dua cara mengelilingi pulau Penyengat, dengan berjalan kaki sekitar 1 jam untuk mengelilingi semua objek wisata disini. Jika tidak ingin terlalu capek, ada puluhan tukang becak motor (bemor) yang siap mengantar Anda berkeliling. Ongkosnya cukup murah, hanya dengan Rp 20.000,- untuk sekali perjalanan pulang pergi. Becak motor bisa dinaiki oleh dua penumpang sehingga Anda bisa berbagi ongkos. Jangan lupa membeli otak-otak jika hendak pulang ke Tanjungpinang. Keistimewaan otak-otak disini adalah dibungkus dengan daun kelapa dan memakai ikan dan sotong (cumi) langsung dari tangkapan nelayan sehingga aromanya khas dan rasanya sangat enak.

Becak motor (bemor)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s